Komik Perang Badar

Di antara sekian banyak moment ikonik di Bulan Ramadhan, salah satunya yaitu “Yaumul Furqan” atau lebih dikenal Peristiwa perang Badar.
Eh tapi tau gak? di dalam Alquran, ada bahasan tersendiri mengenai peristiwa ini yg penyampaiannya unik, dimana itu? coba deh perhatiin Alqurannya, dicari surat mana yg mengangkat khusus tentang Perang Badar. Kalo udah ketemu, coba deh perhatiin bagaimana cara surat itu menyampaikan dan tanya dg diri sendiri kenapa kayak gitu? nah! disitu kalo diperhatiin bener2, kamu akan menemukan hikmah yg jarang banget bisa ditemuin. hehew penasarankan? Yuk baca kembali Qura’an & Sirohnya. 🙂

Mendatangi Azan Untuk Sholat

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, yang diriwayatkan dalam shahih muslim berbunyi: “Seorang lelaki buta menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak memiliki seorang penuntun yang bisa menuntunku berjalan ke mesjid.’ Kemudian ia memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberikan keringanan sehingga dia boleh shalat di rumahnya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkannya. Ketika orang tersebut berpaling pergi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata, ‘Apakah kamu mendengar azan shalat?’ Ia menjawab, ‘Iya.’ Beliau pun menyatakan, ‘Maka datangilah!’” (H.R. Muslim)

Kekuasaan Dan Emirat Di Kalangan Bangsa Arab

Ketika kita hendak membicarakan kondisi ‘Arab sebelum Islam, kita harus membuat miniatur sejarah pemerintahan, kepemimpinan, agama dan kepercayaan di kalangan bangsa ‘Arab. Tujuannya agar kita lebih mudah memahami kondisi yang terjadi saat kemunculan Islam.

Para penguasa Jazirah ‘Arab pada saat terbitnya matahari Islam bisa dibagi menjadi dua bagian:

1. Para raja yang mempunyai mahkota, tetapi pada hakikatnya mereka tidak bisa merdeka dan berdiri sendiri.

2. Para pemimpin dan pemuka kabilah atau suku, yang memiliki kekuasaan dan hak-hak istimewa seperti kekuasaan para raja. Kebanyakan di antara mereka benar-benar memiliki kebebasan tersendiri. Bahkan, kemungkinan sebagian di antara mereka mempunyai subordinasi layaknya seorang raja yang dinobatkan.

Raja-raja yang dinobatkan adalah raja-raja Yaman, Ghassān dan Hirah. Adapun penguasa-penguasa lain di Jazirah ‘Arab tidak memiliki mahkota.

Raja-raja di Yaman

Bangsa tertua yang dikenal di Yaman dari kalangan ‘Arab ‘Aribah adalah kaum Saba’. Mereka bisa diketahui melalui penemuan fosil Aur, yang hidup dua puluh lima abad Sebelum Masih (SM). Puncak peradaban dan pengaruh kekuasaan mereka dimulai pada sebelas tahun SM. Perkembangan mereka bisa dibagi menurut tahapan-tahapan berikut:

1. Abad-abad sebelum tahun 650 SM. Raja-raja mereka pada waktu itu diberi gelar “Makrib Saba’.” Ibukota mereka di Sharawah. Puing-puing peninggalan mereka dapat ditemui dengan menempuh perjalanan sehari ke arah barat dari negeri Ma‘rib, yang dikenal dengan istilah Kharibah.

Pada zaman mereka mulai diadakan pembangunan bendungan, yang dikenal dengan nama Bendungan Ma‘rib. Bendungan ini sangat terkenal dalam sejarah Yaman. Ada yang mengatakan, wilayah kekuasaan kaum Saba’ meliputi daerah-daerah jajahan di negeri ‘Arab dan di luar ‘Arab.

2. Sejak tahun 650 SM sampai tahun 110 SM. Pada masa-masa ini mereka menanggalkan gelar “Makrib”, dan hanya dikenal dengan raja-raja Saba’. Mereka menjadikan Ma‘rib sebagai ibukota, sebagai pengganti Sharawah. Puing-puing kota ini dapat ditemui sejauh 60 mil dari Sana‘a ke arah timur. (11)

3. Sejak tahun 115 SM sampai tahun 300 SM. Pada masa-masa ini kabilah កmyar dapat mengalahkan Kerajaan Saba’ dan menjadikan Raidan sebagai ibukotanya, sebagai ganti dari Ma‘rib. Kemudian Raidan diganti dengan nama Zhaffar. Puing-puing peninggalannya dapat ditemukan di sebuah bukit yang di sekitarnya di kelilingi pagar di dekat Yarim. Pada masa itu mereka mulai jatuh dan runtuh. Perdagangan mereka bangkrut, sebagai akibat dari perluasan kekuasaan kabilah Nabat ke utara Hijaz. Ini merupakan penyebab pertama kehancuran mereka. Kedua, karena bangsa Romawi menguasai jalur perdagangan dari laut, setelah mereka dapat menguasai Mesir, Suriah dan bagian utara Hijaz. Ketiga, adanya persaingan di antara kabilah-kabilah yang ada di sana. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan keluarga Qaáž„thān berpisah-pisah dan mereka termotivasi untuk berpindah ke negeri Syasa’ah.

4. Sejak tahun 300 M sampai masuknya Islam ke Yaman. Pada masa-masa ini kekacauan, keributan, revolusi, dan peperangan antarsuku sering terjadi di antara mereka, yang justru membuat mereka menjadi mangsa bagi pihak luar, hingga kemerdekaan mereka pun terenggut. Pada masa itu bangsa Romawi masuk ke Aden. Atas bantuan bangsa Romawi ini pula orang-orang Habasyah dapat merebut Yaman pada awal tahun 340 M, yang sedang disibukkan oleh persaingan antara kabilah Hamdān dan កimyar. Penjajahan mereka berlangsung hingga tahun 378 M. Selanjutnya Yaman bisa mendapatkan kemerdekaannya lagi. Tetapi, kemudian bendungan Ma‘rib jebol, sehingga menimbulkan banjir besar seperti yang disebutkan di dalam al-Qur’ān dengan Sail-ul-Aram pada tahun 450 atau 451 M. Setelah itu disusul satu kejadian besar yang mengakibatkan runtuhnya peradaban mereka dan mereka pun terpecah-belah.

Pada tahun 523 M, DzĆ« Nuwās, seorang Yahudi, meminpin pasukannya menyerang orang-orang Kristen (pengikut ajaran Nabi ‘ÄȘsā – edt) dari penduduk Najrān, dan berusaha memaksa mereka meinggalkan agamanya. Karena mereka menolak, maka DzĆ« Nuwās membuat parit-parit besar yang di dalamnya dinyalakan api, lalu mereka dilemparkan ke dalam api hidup-hidup, sebagaimana yang diisyaratkan al-Qur’ān pada firman-Nya dalam surah al-BurĆ«j:

قُŰȘِلَ ŰŁÙŽŰ”Ù’Ű­ÙŽŰ§ŰšÙ Ű§Ù„Ù’ŰŁÙŰźÙ’ŰŻÙÙˆÙ’ŰŻÙ.

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. (al-Burƫj: 4).

Kejadian ini menimbulkan api dendam di hati orang-orang Kristen dan mendorong mereka untuk memperluas daerah kekuasaan dan penaklukan di bawah pimpinan Kaisar Romawi untuk menguasai negeri ‘Arab. Mereka memobilisasi orang-orang Habasyah dan menyiapkan armada lautnya. Sebanyak 70.000 pasukan dari penduduk Habasyah diterjunkan dan mampu menguasai Yaman untuk kali kedua. Serbuan ini dipimpin oleh Aryath pada tahun 525 M. Aryath menjadi penguasa negeri jajahannya dengan mandat Raja Habasyah hingga akhirnya dibunuh oleh Abrahah, anak buahnya sendiri. Abrahah menggantikan kedudukan Aryath di Yaman setelah meminta restu rajanya di Habasyah. Abrahah inilah yang mengerahkan pasukannya untuk menghancurkan Ka‘bah, yang dikenal dengan Pasukan Gajah.

Setelah “Peristiwa Gajah” penduduk Yaman meminta bantuan kepada orang-orang Persia. Mereka pun bersekutu melawan orang-orang Habasyah hingga akhirnya mampu mengusirnya dari Yaman dan mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 575 M, di bawah kepemimpinan Ma‘di Ya‘rib bin Saif DzÄ« Yazin al-កimyarÄ«. Kemudian mereka menobatkannya menjadi raja. Ma‘di Ya‘rib masih mempertahankan sebagian penduduk Habasyah sebagai pengawal yang selalu menyertai aktivitasnya, meskipun akhirnya justru menjadi bumerang baginya. Suatu hari mereka membunuhnya. Dengan kematiannya, pupuslah sudah Dinasti DzÄ« Yazin.

Setelah itu Kisra mengangkat penguasa dari bangsa Persia di Sana‘a dan menjadikan Yaman sebagai salah satu wilayah kekuasaan Persia. Beberapa pemimpin dari bangsa Persia silih berganti menguasai Yaman dan era kepemimpinan mereka yang terakhir di Yaman adalah Badzan, yang kemudian memeluk Islam pada tahun 638 M. Dengan keislamannya ini berakhir pula kekuasaan bangsa Persia atas negeri Yaman. (22)

Catatan:

 1). Lihat al-Yamanu ‘Abrat-ut-Tārīkh, hal. 77, 83, 124, 130; dan Tārīkh-ul-‘Arabi Qabl-al-Islām, hal. 101-102. ↩
 2). Lihat keterangan lebih lanjut mengenai hal ini di buku Tafhīm-ul-Qur’ān, IV/195-198 dan Tārīkhu Ardh-il-Qur’ān, I/133 sampai halaman terakhir. Dalam penetapan tahun-tahunnya, ada perbedaan yang cukup jauh pada beberapa referensi sejarah. Pada beberapa ayat al-Qur’ān, kisah-kisah seperti ini dinyatakan: “Ini hanyalah dongeng orang-orang terdahulu.” ↩

Raja-raja Hirah

Bangsa Persia bisa menguasai ‘Irāq dan wilayah-wilayah di sekitarnya setelah Cyrus Yang Agung (557-529 SM) dapat mempersatukan bangsanya. Tidak ada seorang pun yang berani menyerangnya hingga muncul Alexander dari Makedonia pada tahun 326 SM. Ia mampu mengalahkan Darius I, raja mereka, dan menghancurkan persatuan mereka. Akibatnya, negeri mereka terpecah-pecah dan dipimpin oleh raja-raja yang dikenal dengan raja-raja Thawā’if. Mereka berkuasa di wilayah masing-masing secara terpisah hingga tahun 230 SM. Pada era kekuasaan raja-raja Thawā’if ini, orang-orang Qaáž„thān berpindah dan menguasai daerah subur di ‘Irāq. Mereka selanjutnya bergabung dengan keturunan ‘Adnān yang juga berhijrah dan bersama-sama menguasai sebagian dari wilayah Eufrat.

Kekuatan bangsa Persia kembali bangkit pada era Ardasyir, pendiri pemerintahan Ssaniyah sejak tahun 226 M. Dia berhasil mempersatukan bangsa Persia dan menguasai orang-orang ‘Arab yang menetap di daerah-daerah pinggiran kekuasaannya. Hal ini mendorong orang-orang Qudhā‘ah untuk berpindah ke Syam. Sementara itu, penduduk Hirah dan Anbar tunduk kepada Ardasyir.

Pada masa Ardasyir tersebut, Judzaimah al-Wadhdhah menguasai Hirah, sebagian penduduk ‘Irāq, dan daerah kekuasaan Rabī‘ah dan Mudhar. Ardasyir merasa mustahil dapat menguasai bangsa ‘Arab secara langsung dan mencegah mereka untuk tidak menyerang kekuasaannya kecuali dengan cara menjadikan salah seorang dari mereka (bangsa ‘Arab) yang memiliki kefanatikan dan loyalitas terhadapnya dalam membelanya sebagai kaki tangannya. Di samping itu, dia juga sewaktu-waktu bisa meminta bantuan mereka untuk mengalahkan raja-raja Romawi yang amat dia takuti. Dengan demikian dia dapat menandingi tentara bentukan yang terdiri dari bangsa ‘Arab juga, seperti apa yang dibentuk oleh raja- raja Romawi, sehingga berbenturanlah antara bangsa ‘Arab Syam dan ‘Irāq. Dia juga masih mempersiapkan satu batalion dari pasukan Persia untuk disuplai dalam menghadapi para penguasa ‘Arab pedalaman yang membangkang terhadap kekuasaannya. Judzaimah meninggal dunia pada tahun 268 M.

Setelah kematian Judzaimah, Hirah dikuasai oleh ‘Amru bin ‘Adī bin Nashr al-Lakhmī. Ia merupakan raja pertama dari Dinasti Lakhmi sekaligus raja pertama yang mengambil Hirah sebagai tempat tinggalnya. Peristiwa ini terjadi pada masa Kisra Sabur bin Ardasyir. Sepeninggal ‘Amru bin ‘Adī, beberapa raja dari kalangan Lakhmi tetap berkuasa setelah di Hirah hingga Persia dikuasai oleh Qubadz bin Fairuz. Pada masa kekuasaannya muncullah seorang tokoh bernama Mazdak. Ia mengampanyekan gaya hidup permisivisme. Banyak rakyatnya yang meniru gaya hidup ini, begitu pula Qubadz dari Persi. Qubadz mengirim utusan kepada raja Hirah, yaitu al-Mundzir bin Mā’-us-Samā’, mengajaknya untuk memilih jalan hidup ini dan menjadikannya sebagai agama. Namun, al-Mundzir menolak ajakan itu mentah-mentah dan arogan. Karena itu, ia pun dicopot dari jabatannya. Sebagai pengganti al-Mundzir, dia mengangkat al-Harits bin ‘Amru bin Hijr al-Kindi, setelah al-Harits memenuhi ajakan Qubadz untuk menerapkan gaya hidup Mazdakisme.

Pengganti Qubadz adalah Kisra AnĆ« Syirwān, yang sangat benci gaya hidup ini. Dia membunuh Mazdak dan entah berapa banyak para pengikutnya. Dia mengangkat kembali al-Mundzir sebagai penguasa di Hirah. Sebenarnya, al-កārits bin ‘Amru memintanya, tetapi dia justru dibuang ke Dāru Kalb dan tetap di sana hingga meninggal.

Kekuasaan AnĆ« Syirwān terus berlanjut sepeninggal al-Mundzir bin Mā’-us-Samā’, hingga naiknya an-Nu‘mān bin al-Mundzir. Dialah orang yang memancing kemarahan Kisra, yang bermula dari adanya suatu fitnah hasil rekayasa Zaid bin ‘AdÄ« al-‘IbādÄ«. Kisra akhirnya mengirim utusan kepada an-Nu‘mān untuk memburunya, maka secara sembunyi-sembunyi, an-Nu‘mān menemui Hāni’ bin Masâ€˜Ć«d, pemimpin suku ‘AlÄ« Syaibān dan menitipkan keluarga dan harta bendanya.

Setelah itu, dia menghadap Kisra yang langsung menjebloskannya ke dalam penjara hingga meninggal dunia. Sebagai penggantinya, Kisra mengangkat Iyās bin QabÄ«shah ath-Thā’ī dan memerintahkannya untuk mengirimkan utusan kepada Hāni’ bin Masâ€˜Ć«d agar dia memintanya untuk menyerahkan titipan yang ada padanya. Namun, Hāni’ menolaknya dengan penuh keberanian bahkan dia memaklumatkan perang melawan raja.

Tak berapa lama tibalah para komandan batalion berikut prajuritnya yang diutus oleh Kisra dalam rombongan yang membawa Iyas tersebut, sehinnga kemudian terjadilah antara kedua pasukan itu, suatu pertempuran yang amat dahsyat di dekat tempat yang bernama DzĆ« Qar dan pertempuran tersebut akhirnya dimenangkan oleh Bani Syaibān, yang masih satu suku dengan Hāni’. Hal ini bagi Persia merupakan kekalahan yang sangat memalukan. Kemenangan ini merupakan yang pertama kalinya bagi bangsa ‘Arab terhadap kekuatan asing. (31) Ada yang mengatakan bahwa hal itu terjadi tak berapa lama menjelang kelahiran Nabi s.a.w. sebab beliau lahir delapan bulan setelah bertahtanya Iyās bin QabÄ«shah atas Hirah.

Sepeninggal Iyās, Kisra mengangkat seorang penguasa di Hirah dari bangsa Persia yang bernama Azazbah yang memerintah selama 17 tahun (614-631 M). Pada tahun 632 M, tampuk kekuasaan di sana kembali dipegang oleh keluarga Lakhm. Di antaranya adalah al-Mundzir bin an-Nu‘mān yang dijuluki dengan “al-Ma‘rĆ«r”. Umur kekuasaannya tidak lebih dari 8 bulan, sebab kemudian berhasil dikuasai oleh pasukan Muslimin di bawah komando Khālid bin al-WalÄ«d. (42).

Catatan:

 3). Kejadian ini diriwayatkan secara marfu‘ di dalam Musnad Khalīfah bin Khayyāth, hal. 24, dan Ibnu Sa‘ad, VII/77. ↩
 4). Muងādharāti TārÄ«kh-il-Umam-il-Islāmiyyah, al-KhudharÄ«, I/29-32. Penjelasan lebih rinci ada pada kitab-kitab karya ath-ThabarÄ«, al-Masâ€˜Ć«dÄ«, Ibnu Qutaibah, Ibnu Khaldun al-BalazrÄ«, Ibnu AtsÄ«r, dan lainnya. ↩

Raja-raja di Syam

Pada masa ‘Arab banyak diwarnai perpindahan berbagai kabilah, maka suku-suku Qudhā‘ah juga ikut berpindah ke berbagai daerah di pinggiran Syam dan mereka menetap di sana. Mereka adalah Bani Sulaih bin Halwan. Di antara mereka adalah Bani Dhaj‘am bin Sulaih yang dikenal dengan sebutan Dhaja‘amah. Mereka dimanfaatkan bangsa Romawi sebagai tameng untuk menghadapi gangguan orang-orang ‘Arab dan sekaligus sebagai benteng pertahanan untuk menghadang bangsa Persia. Karenanya, bangsa Romawi mengangkat seorang raja dari suku ini dan kepemimpinannya berlangsung hingga beberapa tahun. Raja mereka yang terkenal adalah Ziyād bin Habulah. Kekuasaan mereka bertahan sejak awal abad kedua Masehi hingga akhir abad tersebut. Kekuasaan mereka berakhir setelah kedatangan suku Ghassān yang dapat mengalahkan Dhaja‘amah. Bangsa Romawi mengangkat mereka sebagai raja bagi semua bangsa ‘Arab di Syam. Ibukotanya adalah Daumat-ul-Jandal. Suku Ghassān terus berkuasa sebagai kaki tangan kaisar Romawi, hingga meletus Perang Yarmuk pada tahun 13 H. Raja mereka yang terakhir, Jabālah bin al-Aiham, memeluk agama Islam pada masa Amīr-ul-Mu’minīn ‘Umar bin al-Khaththāb r.a. (51).

Catatan:

 5). Ibid, I/29-32; dan Ardh-ul-Qur’ān, II/80-82. ↩

Bacaan Islami Lainnnya:

– Komik Pahlawan Islam Anas bin Nadhar
– Komik Mantan Napi Berulah Lagi
– Bantuan Dari Allah Saat Kesulitan
– 3 Hal Yang Dilakukan Saat Bangun Untuk Sahur
– Kenapa Dia Begitu Cinta Al-Qur’an

– Hindari Berkata Kotor
– Perang Melawan Hawa Nafsu
– Jangan Mencari Keburukan Orang
– Komik Islami Tentang Cinta
– Jomblo Halu Kepengen Punya Istri

– Komik Islami Pakai Yang Kanan
– Komik Islami Simple
– Jangan Benci Muslimah Bercadar
– Waspada 3 Pintu Menuju Neraka
– Kalau Sholat Jangan Lari Larian

– Perlunya Kerjasama Dalam Rumah Tangga
– Baju Koko Vs Jersey – Komik Islami
– Dunia Hanya Sementara
– Komik Islami Bahasa Inggris
– Komik Islami Tarawih Surat Pendek

– Kisah Pendek Khutbah Jum’at
– Menunggu Punahnya Corona
– Komik Pendek Islami
– Jangan Pernah Menunda Ibadah
– Komik Islami Hitam Putih

– Parno Karena Batuk Corona
– Komik Islami Doa Pejuang Nafkah
– Komik Islami Muslimah Memanah Dan Tahajud
– Komik Islami Hidup Bahagia
– Komik Islami Nasehat Dan Renungan
– Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia Yang Sebenarnya

Selamat Membaca.. Bantu Kami Dengan Donasi.. Dengan Kontak Businessfwj@gmail.com

Letak Geografis Jazirah Arab

Sebelum kedatangan Rasulullah SAW sebagai pelita kehidupan, letak geografis Jazirah Arab tidaklah seperti sekarang ini. Jika kita ketahui kali ini Jazirah Arab semakin berkembang lain halnya dengan masa lalu. Tapi, ada satu hal yang menjadi kebanggaan di Jazirah Arab. Yakni kondisi geografisnya yang sangat memberikan keuntungan bagi bangsa Arab. Tapi, ada pula hal negative dari letak geografis yang begitu strategis ini.

Menurut bahasa kata Arab berarti padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kepada Jazirah Arab. Sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu, lalu mereka menjadikannya sebagai tempat tinggal.

Secara geografis, Jazirah Arab dibatasi oleh Laut Merah dan Gurun Sinai di sebelah Barat, Teluk Arab dan sebagian besar negeri Iraq Selatan di sebelah timur, laut Arab yang bersambung dengan Samudera Hindia di sebelah selatan, dan negeri Syam dan sebagian kecil dari Negara Iraq di sebelah utara. Meskipun ada kemungkinan sedikit perbedaan dalam penentuan batasan ini. Luasnya membentang antara 1 x 1,3 juta mil persegi.

Jazirah Arab memiliki peranan yang sangat besar karena kondisi alam dan letak georafisnya. Sedangkan dilihat dari kondisi internalnya, Jazirah Arab hanya dikelilingi gurun dan pasir di segala sudutnya. Karena kondisi seperti inilah yang membuat Jazirah Arab seperti benteng pertahanan yang kokoh, yang tidak memperkenankan bangsa asing untuk menjajah, mencaplok dan menguasai bangsa Arab.

Oleh karena itu, kita bisa melihat penduduk Jazirah Arab yang hidup merdeka dan bebas dalam segala urusan sejak zaman dahulu. Padahal pada waktu itu, mereka hidup bertetangga dengan dua imperium besar saat itu (Romawi dan Persia), yang serangannya tak mungkin bisa dihadang andaikan tidak ada benteng pertahanan yang kokoh seperti itu.

Hubungannya dengan dunia luar, Jazirah Arab terletak di benua yang sudah dikenal sejak dahulu kala, yang mempertautkan daratan dan lautan. Sebelah barat laut merupakan pintu masuk ke Benua Afrika, sebelah timur laut merupakan kunci utama masuk ke Benua Eropa dan sebelah timur merupakan pintu masuk bagi bangsa-bangsa non Arab, Timur Tengan dan Timur Dekat, terus membentang ke India dan Cina.

Setiap benua mempertemukan lautnya dengan Jazirah Arab dan setiap kapal laut yang berlayar pasti akan bersandar di pinggiran wilayahnya.

Karena letak geografis seperti itu pula, sebelah utara dan sebelah selatan Jazirah Arab menjadi tempat berlabuh berbagai bangsa untuk saling tukar menukar perniagaan, perdaban, agama dan seni.

Komik Islami Jalan Hijrah

Bismillah..
Bagaikan menempuh suatu perjalanan, mendaki sebuah gunung. Tak selamanya kamu menemukan jalan yg lurus, terkadang kamu harus menuruni lembah, memanjat tebing, dan menemui halang rintang lainnya, berbagai ujian menghampiri, tapi tak banyak yg menyadari bahwa ujian itu sebagai alat penempa diri yang baik, ada yang berhasil sampai di tempat tujuan, ada pula yg terjatuh atau bahkan berhenti dan menyerah di tengah perjalanan, tak jarang pula mereka mencoba nya untuk kesekian kalinya tanpa menyerah.

Perlahan kamu mulai menemukan sesuatu, perlahan kamu menyadari sesuatu, setiap kali kamu berjuang kamu menemukan berbagai petunjuk, dan kamu mengikutinya.

Perlahan kamu menemukan sahabat sahabat baru di perjalanan yang mau menemani, dan membantu kamu selama diperjalanan, sabar menunggumu dan mengulurkan tangannya di saat kamu kesulitan melewati halang rintang, berjuang bersama hingga mencapai puncak.

Bersama mereka kamu terus melangkah menghadapi semua tantangan, dan perlahan kamu mulai memahami, apa itu sabar…,

Lalu kamu terus melangkah dan menemui rintangan yg cukup berat, rasanya kamu putus asa dan ingin kembali, tapi saudara saudaramu di perjalanan ini berbeda, mereka menepuk pundakmu sembari berkata ” kamu sudah sampai sini, masa kamu mau balik lagi, ayo sama sama kita lewati rintangan ini” ^_^

Bersama.., kamu berjuang menghadapi rintangan yg berat itu, dan pada akhirnya kamu berhasil melewatinya, perlahan kamu mulai memahami, apa itu istiqomah.

Hingga pada akhirnya kamu sampai di puncak, kamu melihat begitu besar karunia yang telah di berikan Allah kepadamu, tapi kamu masih sering mengeluh, perlahan kamu menyadari akan syukur.

Kamu mengerti bahwa setiap rintangan yg kamu lalui, dan disaat itu kamu bersandar hanya kepala Allah, tanpa terasa masalah itu terselesaikan, dan perlahan kamu mengerti apa itu ikhlas.

Setelah semua yang kamu lihat dan kamu rasakan, kamu merasakan ada ketenangan dan kesejukan di dalamnya, kemudian kamu turun, turun disini untuk merendahkan hatimu se rendah rendahnya, dan bantulah saudaramu yang juga berjuang menggapainya. ^_^

Jangan Lupa Tadarus

Udah sampai juz berapa tadarusnya? Waktu terus berjalan lho… Jangan sia-siakan siang dan malam di bulan ramadhan ini.

Karena setiap amalan akan dilipat gandakan pahalanya.

Jangan biarkan pula bulan ramadhan lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas apapun di hati kita. Memang bulan ramadhan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya tapi jangan biarkan hal itu menyiutkan semangat kita untuk melakukan kebaikan, terutama mengkhatamkan Al qur’an Al karim…

Design a site like this with WordPress.com
Get started