Ksatria Muslim Shalahudin Al Ayyubi
Komik Perang Badar
Di antara sekian banyak moment ikonik di Bulan Ramadhan, salah satunya yaitu “Yaumul Furqan” atau lebih dikenal Peristiwa perang Badar.
Eh tapi tau gak? di dalam Alquran, ada bahasan tersendiri mengenai peristiwa ini yg penyampaiannya unik, dimana itu? coba deh perhatiin Alqurannya, dicari surat mana yg mengangkat khusus tentang Perang Badar. Kalo udah ketemu, coba deh perhatiin bagaimana cara surat itu menyampaikan dan tanya dg diri sendiri kenapa kayak gitu? nah! disitu kalo diperhatiin bener2, kamu akan menemukan hikmah yg jarang banget bisa ditemuin. hehew penasarankan? Yuk baca kembali Qura’an & Sirohnya. đ
Mendatangi Azan Untuk Sholat
Ungguli Dalam Masalah Akhirat
Doa Untuk Orangtua
Kekuasaan Dan Emirat Di Kalangan Bangsa Arab
Ketika kita hendak membicarakan kondisi âArab sebelum Islam, kita harus membuat miniatur sejarah pemerintahan, kepemimpinan, agama dan kepercayaan di kalangan bangsa âArab. Tujuannya agar kita lebih mudah memahami kondisi yang terjadi saat kemunculan Islam.
Para penguasa Jazirah âArab pada saat terbitnya matahari Islam bisa dibagi menjadi dua bagian:
1. Para raja yang mempunyai mahkota, tetapi pada hakikatnya mereka tidak bisa merdeka dan berdiri sendiri.
2. Para pemimpin dan pemuka kabilah atau suku, yang memiliki kekuasaan dan hak-hak istimewa seperti kekuasaan para raja. Kebanyakan di antara mereka benar-benar memiliki kebebasan tersendiri. Bahkan, kemungkinan sebagian di antara mereka mempunyai subordinasi layaknya seorang raja yang dinobatkan.
Raja-raja yang dinobatkan adalah raja-raja Yaman, GhassÄn dan Hirah. Adapun penguasa-penguasa lain di Jazirah âArab tidak memiliki mahkota.
Raja-raja di Yaman
Bangsa tertua yang dikenal di Yaman dari kalangan âArab âAribah adalah kaum Sabaâ. Mereka bisa diketahui melalui penemuan fosil Aur, yang hidup dua puluh lima abad Sebelum Masih (SM). Puncak peradaban dan pengaruh kekuasaan mereka dimulai pada sebelas tahun SM. Perkembangan mereka bisa dibagi menurut tahapan-tahapan berikut:
1. Abad-abad sebelum tahun 650 SM. Raja-raja mereka pada waktu itu diberi gelar âMakrib Sabaâ.â Ibukota mereka di Sharawah. Puing-puing peninggalan mereka dapat ditemui dengan menempuh perjalanan sehari ke arah barat dari negeri Maârib, yang dikenal dengan istilah Kharibah.
Pada zaman mereka mulai diadakan pembangunan bendungan, yang dikenal dengan nama Bendungan Maârib. Bendungan ini sangat terkenal dalam sejarah Yaman. Ada yang mengatakan, wilayah kekuasaan kaum Sabaâ meliputi daerah-daerah jajahan di negeri âArab dan di luar âArab.
2. Sejak tahun 650 SM sampai tahun 110 SM. Pada masa-masa ini mereka menanggalkan gelar âMakribâ, dan hanya dikenal dengan raja-raja Sabaâ. Mereka menjadikan Maârib sebagai ibukota, sebagai pengganti Sharawah. Puing-puing kota ini dapat ditemui sejauh 60 mil dari Sanaâa ke arah timur. (11)
3. Sejak tahun 115 SM sampai tahun 300 SM. Pada masa-masa ini kabilah កmyar dapat mengalahkan Kerajaan Sabaâ dan menjadikan Raidan sebagai ibukotanya, sebagai ganti dari Maârib. Kemudian Raidan diganti dengan nama Zhaffar. Puing-puing peninggalannya dapat ditemukan di sebuah bukit yang di sekitarnya di kelilingi pagar di dekat Yarim. Pada masa itu mereka mulai jatuh dan runtuh. Perdagangan mereka bangkrut, sebagai akibat dari perluasan kekuasaan kabilah Nabat ke utara Hijaz. Ini merupakan penyebab pertama kehancuran mereka. Kedua, karena bangsa Romawi menguasai jalur perdagangan dari laut, setelah mereka dapat menguasai Mesir, Suriah dan bagian utara Hijaz. Ketiga, adanya persaingan di antara kabilah-kabilah yang ada di sana. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan keluarga Qaáž„thÄn berpisah-pisah dan mereka termotivasi untuk berpindah ke negeri Syasaâah.
4. Sejak tahun 300 M sampai masuknya Islam ke Yaman. Pada masa-masa ini kekacauan, keributan, revolusi, dan peperangan antarsuku sering terjadi di antara mereka, yang justru membuat mereka menjadi mangsa bagi pihak luar, hingga kemerdekaan mereka pun terenggut. Pada masa itu bangsa Romawi masuk ke Aden. Atas bantuan bangsa Romawi ini pula orang-orang Habasyah dapat merebut Yaman pada awal tahun 340 M, yang sedang disibukkan oleh persaingan antara kabilah HamdÄn dan កimyar. Penjajahan mereka berlangsung hingga tahun 378 M. Selanjutnya Yaman bisa mendapatkan kemerdekaannya lagi. Tetapi, kemudian bendungan Maârib jebol, sehingga menimbulkan banjir besar seperti yang disebutkan di dalam al-QurâÄn dengan Sail-ul-Aram pada tahun 450 atau 451 M. Setelah itu disusul satu kejadian besar yang mengakibatkan runtuhnya peradaban mereka dan mereka pun terpecah-belah.
Pada tahun 523 M, DzĆ« NuwÄs, seorang Yahudi, meminpin pasukannya menyerang orang-orang Kristen (pengikut ajaran Nabi âÄȘsÄ â edt) dari penduduk NajrÄn, dan berusaha memaksa mereka meinggalkan agamanya. Karena mereka menolak, maka DzĆ« NuwÄs membuat parit-parit besar yang di dalamnya dinyalakan api, lalu mereka dilemparkan ke dalam api hidup-hidup, sebagaimana yang diisyaratkan al-QurâÄn pada firman-Nya dalam surah al-BurĆ«j:
ÙÙŰȘÙÙÙ ŰŁÙŰ”ÙŰÙŰ§ŰšÙ Ű§ÙÙŰŁÙŰźÙŰŻÙÙÙŰŻÙ.
Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. (al-Burƫj: 4).
Kejadian ini menimbulkan api dendam di hati orang-orang Kristen dan mendorong mereka untuk memperluas daerah kekuasaan dan penaklukan di bawah pimpinan Kaisar Romawi untuk menguasai negeri âArab. Mereka memobilisasi orang-orang Habasyah dan menyiapkan armada lautnya. Sebanyak 70.000 pasukan dari penduduk Habasyah diterjunkan dan mampu menguasai Yaman untuk kali kedua. Serbuan ini dipimpin oleh Aryath pada tahun 525 M. Aryath menjadi penguasa negeri jajahannya dengan mandat Raja Habasyah hingga akhirnya dibunuh oleh Abrahah, anak buahnya sendiri. Abrahah menggantikan kedudukan Aryath di Yaman setelah meminta restu rajanya di Habasyah. Abrahah inilah yang mengerahkan pasukannya untuk menghancurkan Kaâbah, yang dikenal dengan Pasukan Gajah.
Setelah âPeristiwa Gajahâ penduduk Yaman meminta bantuan kepada orang-orang Persia. Mereka pun bersekutu melawan orang-orang Habasyah hingga akhirnya mampu mengusirnya dari Yaman dan mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 575 M, di bawah kepemimpinan Maâdi Yaârib bin Saif DzÄ« Yazin al-កimyarÄ«. Kemudian mereka menobatkannya menjadi raja. Maâdi Yaârib masih mempertahankan sebagian penduduk Habasyah sebagai pengawal yang selalu menyertai aktivitasnya, meskipun akhirnya justru menjadi bumerang baginya. Suatu hari mereka membunuhnya. Dengan kematiannya, pupuslah sudah Dinasti DzÄ« Yazin.
Setelah itu Kisra mengangkat penguasa dari bangsa Persia di Sanaâa dan menjadikan Yaman sebagai salah satu wilayah kekuasaan Persia. Beberapa pemimpin dari bangsa Persia silih berganti menguasai Yaman dan era kepemimpinan mereka yang terakhir di Yaman adalah Badzan, yang kemudian memeluk Islam pada tahun 638 M. Dengan keislamannya ini berakhir pula kekuasaan bangsa Persia atas negeri Yaman. (22)
Catatan:
 1). Lihat al-Yamanu âAbrat-ut-TÄrÄ«kh, hal. 77, 83, 124, 130; dan TÄrÄ«kh-ul-âArabi Qabl-al-IslÄm, hal. 101-102. â©
 2). Lihat keterangan lebih lanjut mengenai hal ini di buku TafhÄ«m-ul-QurâÄn, IV/195-198 dan TÄrÄ«khu Ardh-il-QurâÄn, I/133 sampai halaman terakhir. Dalam penetapan tahun-tahunnya, ada perbedaan yang cukup jauh pada beberapa referensi sejarah. Pada beberapa ayat al-QurâÄn, kisah-kisah seperti ini dinyatakan: âIni hanyalah dongeng orang-orang terdahulu.â â©
Raja-raja Hirah
Bangsa Persia bisa menguasai âIrÄq dan wilayah-wilayah di sekitarnya setelah Cyrus Yang Agung (557-529 SM) dapat mempersatukan bangsanya. Tidak ada seorang pun yang berani menyerangnya hingga muncul Alexander dari Makedonia pada tahun 326 SM. Ia mampu mengalahkan Darius I, raja mereka, dan menghancurkan persatuan mereka. Akibatnya, negeri mereka terpecah-pecah dan dipimpin oleh raja-raja yang dikenal dengan raja-raja ThawÄâif. Mereka berkuasa di wilayah masing-masing secara terpisah hingga tahun 230 SM. Pada era kekuasaan raja-raja ThawÄâif ini, orang-orang Qaáž„thÄn berpindah dan menguasai daerah subur di âIrÄq. Mereka selanjutnya bergabung dengan keturunan âAdnÄn yang juga berhijrah dan bersama-sama menguasai sebagian dari wilayah Eufrat.
Kekuatan bangsa Persia kembali bangkit pada era Ardasyir, pendiri pemerintahan Ssaniyah sejak tahun 226 M. Dia berhasil mempersatukan bangsa Persia dan menguasai orang-orang âArab yang menetap di daerah-daerah pinggiran kekuasaannya. Hal ini mendorong orang-orang QudhÄâah untuk berpindah ke Syam. Sementara itu, penduduk Hirah dan Anbar tunduk kepada Ardasyir.
Pada masa Ardasyir tersebut, Judzaimah al-Wadhdhah menguasai Hirah, sebagian penduduk âIrÄq, dan daerah kekuasaan RabÄ«âah dan Mudhar. Ardasyir merasa mustahil dapat menguasai bangsa âArab secara langsung dan mencegah mereka untuk tidak menyerang kekuasaannya kecuali dengan cara menjadikan salah seorang dari mereka (bangsa âArab) yang memiliki kefanatikan dan loyalitas terhadapnya dalam membelanya sebagai kaki tangannya. Di samping itu, dia juga sewaktu-waktu bisa meminta bantuan mereka untuk mengalahkan raja-raja Romawi yang amat dia takuti. Dengan demikian dia dapat menandingi tentara bentukan yang terdiri dari bangsa âArab juga, seperti apa yang dibentuk oleh raja- raja Romawi, sehingga berbenturanlah antara bangsa âArab Syam dan âIrÄq. Dia juga masih mempersiapkan satu batalion dari pasukan Persia untuk disuplai dalam menghadapi para penguasa âArab pedalaman yang membangkang terhadap kekuasaannya. Judzaimah meninggal dunia pada tahun 268 M.
Setelah kematian Judzaimah, Hirah dikuasai oleh âAmru bin âAdÄ« bin Nashr al-LakhmÄ«. Ia merupakan raja pertama dari Dinasti Lakhmi sekaligus raja pertama yang mengambil Hirah sebagai tempat tinggalnya. Peristiwa ini terjadi pada masa Kisra Sabur bin Ardasyir. Sepeninggal âAmru bin âAdÄ«, beberapa raja dari kalangan Lakhmi tetap berkuasa setelah di Hirah hingga Persia dikuasai oleh Qubadz bin Fairuz. Pada masa kekuasaannya muncullah seorang tokoh bernama Mazdak. Ia mengampanyekan gaya hidup permisivisme. Banyak rakyatnya yang meniru gaya hidup ini, begitu pula Qubadz dari Persi. Qubadz mengirim utusan kepada raja Hirah, yaitu al-Mundzir bin MÄâ-us-SamÄâ, mengajaknya untuk memilih jalan hidup ini dan menjadikannya sebagai agama. Namun, al-Mundzir menolak ajakan itu mentah-mentah dan arogan. Karena itu, ia pun dicopot dari jabatannya. Sebagai pengganti al-Mundzir, dia mengangkat al-Harits bin âAmru bin Hijr al-Kindi, setelah al-Harits memenuhi ajakan Qubadz untuk menerapkan gaya hidup Mazdakisme.
Pengganti Qubadz adalah Kisra AnĆ« SyirwÄn, yang sangat benci gaya hidup ini. Dia membunuh Mazdak dan entah berapa banyak para pengikutnya. Dia mengangkat kembali al-Mundzir sebagai penguasa di Hirah. Sebenarnya, al-កÄrits bin âAmru memintanya, tetapi dia justru dibuang ke DÄru Kalb dan tetap di sana hingga meninggal.
Kekuasaan AnĆ« SyirwÄn terus berlanjut sepeninggal al-Mundzir bin MÄâ-us-SamÄâ, hingga naiknya an-NuâmÄn bin al-Mundzir. Dialah orang yang memancing kemarahan Kisra, yang bermula dari adanya suatu fitnah hasil rekayasa Zaid bin âAdÄ« al-âIbÄdÄ«. Kisra akhirnya mengirim utusan kepada an-NuâmÄn untuk memburunya, maka secara sembunyi-sembunyi, an-NuâmÄn menemui HÄniâ bin MasâĆ«d, pemimpin suku âAlÄ« SyaibÄn dan menitipkan keluarga dan harta bendanya.
Setelah itu, dia menghadap Kisra yang langsung menjebloskannya ke dalam penjara hingga meninggal dunia. Sebagai penggantinya, Kisra mengangkat IyÄs bin QabÄ«shah ath-ThÄâÄ« dan memerintahkannya untuk mengirimkan utusan kepada HÄniâ bin MasâĆ«d agar dia memintanya untuk menyerahkan titipan yang ada padanya. Namun, HÄniâ menolaknya dengan penuh keberanian bahkan dia memaklumatkan perang melawan raja.
Tak berapa lama tibalah para komandan batalion berikut prajuritnya yang diutus oleh Kisra dalam rombongan yang membawa Iyas tersebut, sehinnga kemudian terjadilah antara kedua pasukan itu, suatu pertempuran yang amat dahsyat di dekat tempat yang bernama DzĆ« Qar dan pertempuran tersebut akhirnya dimenangkan oleh Bani SyaibÄn, yang masih satu suku dengan HÄniâ. Hal ini bagi Persia merupakan kekalahan yang sangat memalukan. Kemenangan ini merupakan yang pertama kalinya bagi bangsa âArab terhadap kekuatan asing. (31) Ada yang mengatakan bahwa hal itu terjadi tak berapa lama menjelang kelahiran Nabi s.a.w. sebab beliau lahir delapan bulan setelah bertahtanya IyÄs bin QabÄ«shah atas Hirah.
Sepeninggal IyÄs, Kisra mengangkat seorang penguasa di Hirah dari bangsa Persia yang bernama Azazbah yang memerintah selama 17 tahun (614-631 M). Pada tahun 632 M, tampuk kekuasaan di sana kembali dipegang oleh keluarga Lakhm. Di antaranya adalah al-Mundzir bin an-NuâmÄn yang dijuluki dengan âal-MaârĆ«râ. Umur kekuasaannya tidak lebih dari 8 bulan, sebab kemudian berhasil dikuasai oleh pasukan Muslimin di bawah komando KhÄlid bin al-WalÄ«d. (42).
Catatan:
 3). Kejadian ini diriwayatkan secara marfuâ di dalam Musnad KhalÄ«fah bin KhayyÄth, hal. 24, dan Ibnu Saâad, VII/77. â©
 4). Muáž„ÄdharÄti TÄrÄ«kh-il-Umam-il-IslÄmiyyah, al-KhudharÄ«, I/29-32. Penjelasan lebih rinci ada pada kitab-kitab karya ath-ThabarÄ«, al-MasâĆ«dÄ«, Ibnu Qutaibah, Ibnu Khaldun al-BalazrÄ«, Ibnu AtsÄ«r, dan lainnya. â©
Raja-raja di Syam
Pada masa âArab banyak diwarnai perpindahan berbagai kabilah, maka suku-suku QudhÄâah juga ikut berpindah ke berbagai daerah di pinggiran Syam dan mereka menetap di sana. Mereka adalah Bani Sulaih bin Halwan. Di antara mereka adalah Bani Dhajâam bin Sulaih yang dikenal dengan sebutan Dhajaâamah. Mereka dimanfaatkan bangsa Romawi sebagai tameng untuk menghadapi gangguan orang-orang âArab dan sekaligus sebagai benteng pertahanan untuk menghadang bangsa Persia. Karenanya, bangsa Romawi mengangkat seorang raja dari suku ini dan kepemimpinannya berlangsung hingga beberapa tahun. Raja mereka yang terkenal adalah ZiyÄd bin Habulah. Kekuasaan mereka bertahan sejak awal abad kedua Masehi hingga akhir abad tersebut. Kekuasaan mereka berakhir setelah kedatangan suku GhassÄn yang dapat mengalahkan Dhajaâamah. Bangsa Romawi mengangkat mereka sebagai raja bagi semua bangsa âArab di Syam. Ibukotanya adalah Daumat-ul-Jandal. Suku GhassÄn terus berkuasa sebagai kaki tangan kaisar Romawi, hingga meletus Perang Yarmuk pada tahun 13 H. Raja mereka yang terakhir, JabÄlah bin al-Aiham, memeluk agama Islam pada masa AmÄ«r-ul-MuâminÄ«n âUmar bin al-KhaththÄb r.a. (51).
Catatan:
 5). Ibid, I/29-32; dan Ardh-ul-QurâÄn, II/80-82. â©
Bacaan Islami Lainnnya:
–Â Komik Pahlawan Islam Anas bin Nadhar
–Â Komik Mantan Napi Berulah Lagi
–Â Bantuan Dari Allah Saat Kesulitan
–Â 3 Hal Yang Dilakukan Saat Bangun Untuk Sahur
–Â Kenapa Dia Begitu Cinta Al-Qur’an
–Â Hindari Berkata Kotor
–Â Perang Melawan Hawa Nafsu
–Â Jangan Mencari Keburukan Orang
–Â Komik Islami Tentang Cinta
–Â Jomblo Halu Kepengen Punya Istri
–Â Komik Islami Pakai Yang Kanan
–Â Komik Islami Simple
–Â Jangan Benci Muslimah Bercadar
–Â Waspada 3 Pintu Menuju Neraka
–Â Kalau Sholat Jangan Lari Larian
–Â Perlunya Kerjasama Dalam Rumah Tangga
–Â Baju Koko Vs Jersey – Komik Islami
–Â Dunia Hanya Sementara
–Â Komik Islami Bahasa Inggris
–Â Komik Islami Tarawih Surat Pendek
–Â Kisah Pendek Khutbah Jum’at
–Â Menunggu Punahnya Corona
–Â Komik Pendek Islami
–Â Jangan Pernah Menunda Ibadah
–Â Komik Islami Hitam Putih
–Â Parno Karena Batuk Corona
–Â Komik Islami Doa Pejuang Nafkah
–Â Komik Islami Muslimah Memanah Dan Tahajud
–Â Komik Islami Hidup Bahagia
–Â Komik Islami Nasehat Dan Renungan
–Â Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia Yang Sebenarnya
Selamat Membaca.. Bantu Kami Dengan Donasi.. Dengan Kontak Businessfwj@gmail.com
Letak Geografis Jazirah Arab
Sebelum kedatangan Rasulullah SAW sebagai pelita kehidupan, letak geografis Jazirah Arab tidaklah seperti sekarang ini. Jika kita ketahui kali ini Jazirah Arab semakin berkembang lain halnya dengan masa lalu. Tapi, ada satu hal yang menjadi kebanggaan di Jazirah Arab. Yakni kondisi geografisnya yang sangat memberikan keuntungan bagi bangsa Arab. Tapi, ada pula hal negative dari letak geografis yang begitu strategis ini.
Menurut bahasa kata Arab berarti padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kepada Jazirah Arab. Sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu, lalu mereka menjadikannya sebagai tempat tinggal.
Secara geografis, Jazirah Arab dibatasi oleh Laut Merah dan Gurun Sinai di sebelah Barat, Teluk Arab dan sebagian besar negeri Iraq Selatan di sebelah timur, laut Arab yang bersambung dengan Samudera Hindia di sebelah selatan, dan negeri Syam dan sebagian kecil dari Negara Iraq di sebelah utara. Meskipun ada kemungkinan sedikit perbedaan dalam penentuan batasan ini. Luasnya membentang antara 1 x 1,3 juta mil persegi.
Jazirah Arab memiliki peranan yang sangat besar karena kondisi alam dan letak georafisnya. Sedangkan dilihat dari kondisi internalnya, Jazirah Arab hanya dikelilingi gurun dan pasir di segala sudutnya. Karena kondisi seperti inilah yang membuat Jazirah Arab seperti benteng pertahanan yang kokoh, yang tidak memperkenankan bangsa asing untuk menjajah, mencaplok dan menguasai bangsa Arab.
Oleh karena itu, kita bisa melihat penduduk Jazirah Arab yang hidup merdeka dan bebas dalam segala urusan sejak zaman dahulu. Padahal pada waktu itu, mereka hidup bertetangga dengan dua imperium besar saat itu (Romawi dan Persia), yang serangannya tak mungkin bisa dihadang andaikan tidak ada benteng pertahanan yang kokoh seperti itu.
Hubungannya dengan dunia luar, Jazirah Arab terletak di benua yang sudah dikenal sejak dahulu kala, yang mempertautkan daratan dan lautan. Sebelah barat laut merupakan pintu masuk ke Benua Afrika, sebelah timur laut merupakan kunci utama masuk ke Benua Eropa dan sebelah timur merupakan pintu masuk bagi bangsa-bangsa non Arab, Timur Tengan dan Timur Dekat, terus membentang ke India dan Cina.
Setiap benua mempertemukan lautnya dengan Jazirah Arab dan setiap kapal laut yang berlayar pasti akan bersandar di pinggiran wilayahnya.
Karena letak geografis seperti itu pula, sebelah utara dan sebelah selatan Jazirah Arab menjadi tempat berlabuh berbagai bangsa untuk saling tukar menukar perniagaan, perdaban, agama dan seni.
Komik Islami Jalan Hijrah
Bismillah..
Bagaikan menempuh suatu perjalanan, mendaki sebuah gunung. Tak selamanya kamu menemukan jalan yg lurus, terkadang kamu harus menuruni lembah, memanjat tebing, dan menemui halang rintang lainnya, berbagai ujian menghampiri, tapi tak banyak yg menyadari bahwa ujian itu sebagai alat penempa diri yang baik, ada yang berhasil sampai di tempat tujuan, ada pula yg terjatuh atau bahkan berhenti dan menyerah di tengah perjalanan, tak jarang pula mereka mencoba nya untuk kesekian kalinya tanpa menyerah.
–
Perlahan kamu mulai menemukan sesuatu, perlahan kamu menyadari sesuatu, setiap kali kamu berjuang kamu menemukan berbagai petunjuk, dan kamu mengikutinya.
–
Perlahan kamu menemukan sahabat sahabat baru di perjalanan yang mau menemani, dan membantu kamu selama diperjalanan, sabar menunggumu dan mengulurkan tangannya di saat kamu kesulitan melewati halang rintang, berjuang bersama hingga mencapai puncak.
–
Bersama mereka kamu terus melangkah menghadapi semua tantangan, dan perlahan kamu mulai memahami, apa itu sabar…,
–
Lalu kamu terus melangkah dan menemui rintangan yg cukup berat, rasanya kamu putus asa dan ingin kembali, tapi saudara saudaramu di perjalanan ini berbeda, mereka menepuk pundakmu sembari berkata ” kamu sudah sampai sini, masa kamu mau balik lagi, ayo sama sama kita lewati rintangan ini” ^_^
–
Bersama.., kamu berjuang menghadapi rintangan yg berat itu, dan pada akhirnya kamu berhasil melewatinya, perlahan kamu mulai memahami, apa itu istiqomah.
–
Hingga pada akhirnya kamu sampai di puncak, kamu melihat begitu besar karunia yang telah di berikan Allah kepadamu, tapi kamu masih sering mengeluh, perlahan kamu menyadari akan syukur.
–
Kamu mengerti bahwa setiap rintangan yg kamu lalui, dan disaat itu kamu bersandar hanya kepala Allah, tanpa terasa masalah itu terselesaikan, dan perlahan kamu mengerti apa itu ikhlas.
–
Setelah semua yang kamu lihat dan kamu rasakan, kamu merasakan ada ketenangan dan kesejukan di dalamnya, kemudian kamu turun, turun disini untuk merendahkan hatimu se rendah rendahnya, dan bantulah saudaramu yang juga berjuang menggapainya. ^_^
Memberi Makanan Kepada Orang Yang Berpuasa
Jangan Lupa Tadarus
Udah sampai juz berapa tadarusnya? Waktu terus berjalan lho… Jangan sia-siakan siang dan malam di bulan ramadhan ini.
Karena setiap amalan akan dilipat gandakan pahalanya.
Jangan biarkan pula bulan ramadhan lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas apapun di hati kita. Memang bulan ramadhan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya tapi jangan biarkan hal itu menyiutkan semangat kita untuk melakukan kebaikan, terutama mengkhatamkan Al qur’an Al karim…






























