Kisah Sahabat Usaid bin Al Hudhair

Usaid bin Hudhair Al Ausi radhiyallahu ‘anhu adalah seorang shahabat Nabi yang mulia dan merupakan pemuka kabilah Aus di Madinah, baik sebelum dia berislam maupun sesudahnya. Ia mewarisi posisi kepemimpinan ini dari ayahnya. Usaid juga merupakan sosok yang berkepribadian lurus, bersih dan teguh, serta memiliki pandangan yang tajam. Di masa jahiliah, ia dinilai layak mendapatkan julukan Al Kamil (perfeck/ideal)[1] seperti ayahnya.

Rantai nasab beliau adalah Usaid bin Hudhair bin Simak bin ‘Atik bin Imriil Qais bin Zaid bin Abdil Asyhal bin Jusyam bin Al Harits bin Al Khazraj bin ‘Amr bin Malik bin Al Aus. Setidaknya ada lima pendapat tentang kuniah beliau, namun menurut pendapat yang paling masyhur beliau ber-kuniah Abu Yahya. Ibunda beliau adalah Ummu Usaid binti An Nu’man bin Imriil Qais bin Zaid bin Abdil Asyhal.

Ayah beliau, yang disebut dengan Hudhair Al Kataib, adalah salah satu bangsawan Arab di masa jahiliah dan termasuk petempur-petempur Arab yang tangguh. Dialah kesatria berkuda andalan suku Aus. Dia pula komandan Aus di hari pertempuran Bu’ats, pertempuran yang mengakhiri rangkaian perang saudara antara mereka dengan suku tetangga mereka, yaitu Khazraj. Tapi sungguh naas, pertempuran yang terjadi enam tahun sebelum hijrahnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah ini menutup riwayat hidup Hudhair Al Kataib; ia tewas dalam perang sebelum berislam.

KISAH KEISLAMAN USAID BIN HUDHAIR

Seusai Baiat Aqabah pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim Mush’ab bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu dari Mekah ke Madinah yang saat itu dikenal dengan nama Yatsrib, untuk mengajarkan Al Quran dan syariat Islam kepada penduduk Madinah yang telah beriman, dan mendakwahkan Islam kepada mereka-mereka yang belum berislam. Saat itu Usaid masih di atas kesyirikan. Setibanya di sana Mush’ab tinggal di kediaman Abu Umamah As’ad bin Zurarah.

Suatu ketika, Mush’ab tengah berkumpul bersama beberapa orang yang sudah berislam dari Al Ansar dalam sebuah majelis untuk menyampaikan dan memahamkan mereka ajaran dinul-Islam. Tokoh Aus lain sekaligus teman dekat Usaid yang bernama Sa’ad bin Mu’adz mengetahui hal ini. Dia ingin membubarkan mereka tapi tidak mampu karena As’ad bin Zurarah adalah sepupunya sendiri. Ia pun menghasut Usaid agar mau memperingatkan dan membubarkan mereka.

Lalu Usaid pergi mengambil tombak dan mendatangi mereka dengan menentengnya. Tatkala As’ad bin Zurarah melihatnya dari kejauhan, dia berkata kepada Mush’ab, “Orang ini adalah pemuka di kaumnya; ia mendatangimu”. Ketika Usaid telah berdiri di hadapan mereka, dia berkata, “Apa yang membawa kalian ke sini? Kalian hendak membodohi orang-orang lemah kami? Menyingkirlah!” Mush’ab menimpali, “Tidakkah Anda duduk dan mendengarkan? Jika Anda suka bisa Anda terima, dan jika Anda tidak suka akan kami hentikan.” Usaid menerima tawarannya. Ia menancapkan tombaknya lalu duduk.

Mush’ab mulai membacakan Al Quran dan menjabarkan prinsip-prinsip Islam kepada Usaid. Rupanya, Usaid tersentuh dengan kata-katanya. Tampak dari sinar wajahnya keinginan untuk berislam. Lantas dia berkata, “Alangkah bagus dan indahnya ucapan ini! Apa yang kalian kerjakan ketika ingin masuk agama ini?” Mereka menjawab, “Mandi dan menyucikan pakaian, kemudian bersyahadat, kemudian salat dua rakaat.” Dia pun lekas bangkit dan mengerjakan apa yang dituntunkan serta menyatakan keislamannya. Sa’ad bin Mu’adz juga berislam sesaat setelah Usaid berislam. Demikianlah keadaan hamba-hamba Allah yang berkalbu baik, mereka akan segera menerima kebenaran ketika mendengarnya; Allah ‘azza wa jalla memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada siapa yang pantas menerimanya.

Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu turut serta dalam Baiat Aqabah kedua bersama tujuh puluh orang Al Ansar. Beliau adalah salah satu dari kedua belas Nuqaba’ yang saat itu diamanahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengawasi dan bertanggung jawab atas kaumnya yang telah masuk Islam, di samping juga mendakwahkan Islam kepada yang belum beriman. Beliau dipercaya sebagai penanggung jawab muslimin dari suku Aus.

Setibanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Kota Madinah, beliau mempersaudarakan Usaid dengan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu. Selanjutnya Usaid turut serta dalam pertempuran-pertempuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika pecah perang Uhud, Usaid terluka pada tujuh bagian dari tubuhnya. Namun beliau tetap tegar bersama beberapa shahabat lain di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membentengi beliau dari tebasan pedang, tusukan tombak, dan lesatan anak panah yang dengan intens dilakukan oleh pasukan kafir Quraisy. Seluruh peperangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti oleh Usaid, kecuali perang Badar.

Diriwayatkan bahwa Usaid berkata kepada Nabi sekembalinya beliau dari Badar dan menyampaikan alasan ketidak ikutsertaannya ini, “Segala puji hanya bagi Allah yang telah memenangkan Anda dan menyejukkan mata Anda. Demi Allah, wahai Rasulullah, tidaklah aku tertinggal dari perang Badar dalam keadaan aku tahu bahwa Anda hendak menjumpai pasukan musuh, tapi aku mengira bahwa Anda hanyalah akan mencegat kafilah dagang. Seandainya aku tahu bahwa Anda akan berperang melawan musuh tentu aku tidak akan tertinggal.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima alasannya. Usaid juga turut serta dalam penaklukan baitul maqdis di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

At Tirmidzi dan lainnya meriwayatkan sebuah hadis yang dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَ الرَّجُلُ أَبُو بَكْرٍ، نِعْمَ الرَّجُلُ عُمَرُ، نِعْمَ الرَّجُلُ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ، نِعْمَ الرَّجُلُ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ

“Sebaik-baik laki-laki adalah Abu Bakar. Sebaik-baik laki-laki adalah Umar. Sebaik-baik laki-laki adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah. Sebaik-baik laki-laki adalah Usaid bin Hudhair.”

KARAMAH USAID BIN HUDHAIR

Pada suatu malam yang gelap gulita, Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu dan temannya yang bernama ‘Abbad bin Bisyr berbincang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang suatu keperluan. Kemudian saat mereka bangkit dan keluar dari tempat tersebut, bercahayalah tongkat salah satu dari mereka berdua hingga menerangi jalan mereka. Tatkala jalan memisahkan mereka, bercahayalah tongkat masing-masing dari mereka hingga menerangi jalannya.

Usaid adalah salah seorang shahabat Nabi yang memiliki suara yang indah dalam tilawatil Quran. Pada suatu malam ia membaca surat Al Baqarah sementara kuda miliknya berada di dekatnya dalam keadaan terikat, dan anak laki-lakinya yang bernama Yahya berada di sampingnya dalam keadaan tidur. Tiba-tiba kudanya gaduh dan berputar-putar. Usaid pun menghentikan bacaannya dan bangkit karena mengkhawatirkan putranya. Lalu kuda tersebut diam dan tenang kembali. Kemudian dia melanjutkan bacaannya, dan kuda itu kembali bergerak-gerak. Hal itu terjadi beberapa kali. Kemudian ia mengangkat pandangannya ke langit. Ia melihat sesuatu seperti awan yang terdapat padanya lampu-lampu mendekat dari langit. Ia ketakutan dan tidak melanjutkan bacaannya. Di keesokan harinya, Usaid menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi mengatakan, “Itu adalah para malaikat. Mereka mendekat untuk mendengarkan suara bacaanmu. Seandainya engkau terus membaca niscaya orang-orang akan melihat mereka di pagi hari.”

WAFATNYA USAID BIN HUDHAIR RADHIYALLAHU ‘ANHU

Usaid meninggal dunia di bulan Sya’ban tahun dua puluh Hijriah. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ikut mengusung jenazahnya ke pemakaman Baqi’ dan menyalatinya di Baqi’. Usaid wafat dengan meninggalkan utang senilai empat ribu dirham. Lalu ahli warisnya berniat menjual kebun peninggalannya untuk menutupi utang tersebut. Mendengar hal itu, Sang Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menawarkan kepada para pemberi utang untuk menangguhkan pelunasan, dengan mereka menerima seribu dirham dari hasil kebun tersebut setiap tahunnya, hingga terlunasi dalam empat tahun. Mereka pun menerima tawarannya.

Radhiyallahu ‘anish-shahabati ajma’in. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Kisah Sahabat Uqbah bin Amir Al Juhany

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tiba di pinggir kota Madinah sesudah lama menanggung luka. Penduduk Madinah berdesak-desakan di jalan-jalan dan di loteng-loteng rumah, menyambut kedatangan beliau, sambil mengucapkan tahlil dan takbir, menunjukkan kegembiraan mereka bertemu dengan Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar Shiddiq. Gadis-gadis remaja keluar membawa rebana, dengan pandangan mata penuh kerinduan sambil menyanyikan lagu merdu :

Telah muncul purnama raya di tengah-tengah kita,
Dari celah-celah gunung terlewati,
Kami wajib bersyukur,
Atas da’wahnya menyembah Allah.
Arak-arakan mengiringi Rasulullah yang berjalan perlahan-lahan di antara barisan orang-orang banyak, dikelilingi hati dan penuh rindu serta curahan air mata bahagia.

Tetapi sayang, Uqbah bin Amir Al Juhani tidak menyaksikan pawai bahagia menyambut kedatangan Rasulullah tersebut. Dia tidak beruntung datang bersama orang banyak, karena ketika itu dia pergi ke gurun pasir mengembalakan domba-dombanya. Dia takut domba-domba itu akan mati kehausan dan kelaparan, karena hanya domba-domba itulah yang dimilikinya, sebagai harta kekayaan dunia baginya.

Tetapi suasana gembira-ria itu cepat menyusup ke segenap pelosok Madinah Al Munawwarah, memenuhi lembah dan bukit, jauh maupun dekat. Dan berita suka-cita itu sampai pula kepada Uqbah bin Amir Al Juhani yang sedang menggembalakan domba-dombanya jauh di gurun pasir. Marilah kita dengarkan Uqbah bin Amir Al Juhani mengisahkan pertemuannya dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam :

Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tiba di Madinah, aku sedang menggembalakan domba-dombaku. Setelah mendengar kedatangan beliau, kutinggalkan domba-domba itu, dan segera berangkat menemuinya tanpa menunggu. Setelah bertemu beliau, aku berkata padanya, “Berkenankan Tuan membai’at saya, ya Rasulullah?”

“Siapakah Anda?” tanya beliau.

Jawabku, “Saya Uqbah bin Amir Al Juhani!”

Tanya Rasulullah, “Bai’at bagaimana yang anda kehendaki. Bai’at Arabi atau bai’at Hijrah?”

Jawabku, “Saya ingin dibai’at secara Hijrah.”

Lalu Rasulullah membai’atku seperti bai’at kaum muhajirin. Sesudah itu aku bermalam di tempat beliau. Kemudian aku kembali menggembalakan domba.

Kami berjumlah dua belas penggembala yang telah masuk Islam. Kami bermukim jauh dari keramaian kota Madinah, menggembalakan domba di gurun-gurun dan lembah. Teman-teman berkata sesamanya, “Tidak baik bila kita tidak mendatangi Rasulullah setiap hari, untuk belajar agama dan mendengarkan wahyu Allah dari padanya. Setiap hari seorang diantara kita harus pergi ke kota menemui beliau, dan kita yang tinggal harus bertanggung jawab menggembalakan dombanya.”

“Baiklah!” jawabku. “Pergilah kalian mendatangi beliau bergantian satu demi satu. Siapa yang mendapat giliran pergi, biarlah aku yang menggembalakan dombanya. A ku sangat kuatir meninggalkan anak-anak dombaku kepada siapapun.”

Kawan-kawan pergi satu demi satu secara bergantian mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Domba yang ditinggalkannya, dipercayakannya kepadaku untuk kugembalakan. Bila dia pulang, aku belajar kepadanya pelajaran yang diperolehnya dari Rasulullah. Tetapi tidak lama kemudian aku menyadari kerugianku, dan berkata dalam hati, “Persetan! Aku tidak peduli domba-domba ini makan atau tidak. Dengan menggembalakan aku terasa sangat merugi, karena tidak dapat berdampingan dengan Rasulullah, menyimak pelajaran langsung dari mulut beliau tanpa perantara. Lalau kutinggalkan domba-dombaku, dan kau berangkat ke Madinah, untuk tinggal dan menetap di masjid, disamping Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.”

Ketika mengambil keputusan yang menentukan itu, tidak pernah terlintas dalam pikiran Uqbah, bahwa pada suatu waktu dia akan menjadi seorang alim besar di antara para sahabat yang ulama-ulama besar; dia akan menjadi salah seorang Qari (ahli baca Al Qur’an) di antara para qari terkemuka; dia akan menjadi seorang panglima perang di antara para panglima dan penakluk yang terpandang, dia akan menjadi seorang pemimpin di antara para pemimpin di antara para pemimpin yang pantas diperhitungkan. Semua itu tidak pernah terbayang baginya walau agak secuil pun. Bahkan dia hanya membayangkan domba-domba gembalaannya, apakah domba-domba itu cukup terpelihara atau tidak sepeninggalnya. Dia berangkat ke pusat da’wah agamaAllah, untuk berdampingan dengan Rasulullah, guna mempelajari agama kepada Rasul yang mulia. Dia tidak pernah menyadari akan menjadi tentara pelopor yang bakal membebaskan ibu kota dunia waktu itu, yaitu Damaskus, dan bakal mendiami istana di sebuah taman nan indah menghijau dekat Bab Tuma.

Dia juga tidak pernah membayangkan sedikit juapun akan menjadi seorang panglima, penakluk permata dunia yang indah subur, yaitu Mesir; akan menjadi penguasa negeri itu, dan akan membangun sebuah istana untuknya. Semua itu hanya tersimpan di alam gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala.

Uqbah bin Amir Al Juhani berdampingan dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bagaikan bayang-bayang dengan orangnya. Dia memegang tali kendali bighal Rasulullah dan menuntunnya kemana beliau pergi. Dia berjalan di hadapan setiap beliau bepergian. Terkadang-kadang Rasulullah memboncengnya di belakang, sehingga Uqbah digelari para sahabat “Radif Rasulullah” (boncengan Rasulullah). bahkan pernah juga Rasulullah turun dari bighal, dan menyilakan Uqbah mengendarai bighal. Sedangkan Rasulullah berjalan kaki di sampingnya.

Uqbah bercerita: Pada suatu ketika aku menuntun bighal Rasulullah di hutan semak Madinah. Beliau bertanya kepadaku, “Hai Uqbah! Mengapa engkau tidak mau naik kendaraan?!”

Aku sebenarnya hendak menjawab, tidak. Tetapi aku takut durhaka kepada Rasulullah. Lalu aku menjawab, “Baiklah, ya Rasulullah!”

Rasulullah turun dari kendaraan, dan aku naik menggantikan, untuk memenuhi keinginan beliau. Sedangkan beliau berjalan kaki. Tidak lama kemudian aku turun, dan Rasulullah naik kendaraan. Beliau bertanya kepadaku, “Hai, Uqbah! Sukakah engkau aku ajarkan kepadamu dua buah surat yang tidak ada bandingannya?”

“Tentu suka, ya Rasulullah!” jawabku.

Lalu beliau membacakan kepadaku surat “Al Falaq” dan “An Naas”.

Setelah waktu shalat tiba, beliau membaca kedua surat tersebut dalam shalat. Kata beliau, “Bacalah kedua surat itu setiap engkau hendak tidur, dan ketika bagun dari tidur.”

Kata Uqbah melanjutkan ceritanya, “Sejak itu, aku senantiasa membaca kedua surat itu sepanjang hidupku, sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.”

Uqbah bin Amir Al Juhani memusatkan perhatiannya kepada keda bidang terpenting, yaitu bidang ilmu dan jihad. Diterjuninya kedua bidang itu dengan seluruh jiwa dan raganya. Bahkan dia tidak segan-segan mengorbankan segalanya dan tanpa mengenal lelah untuk memperoleh keduanya.

Dalam bidang ilmu dia langsung mereguknya dari sumber yang murni dan suci, yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sehingga ia berhasil menjadi ahli baca Al Qur’an (pandai membaca dengan benar dan fashih, hafal, faham makna dan tujuannya), menjadi ahli hadits, ahli fiqh, ahli fara-idh, di samping dia menjadi seorang pujangga/sastrawan, fashih, dan penyair. Dia memiliki suara terindah di antara para ahli baca Al Qur’an. Bila hari sudah jauh larut malam, suasana sudah tenang, sunyi dan sepi, maka diambillah Kitabullah, lalu dibacanya ayat-ayat suci yang maknanya jelas dan gamblang. Hati para sahabat tergugah dan tunduk bila mendengarkan bacaannya yang merdu menggetarkan. Sehingga air mata mereka bercucuran karena takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Umar bun Khaththab pernah memanggil Uqbah, lalu katanya, “Hai, Uqbah! Tolong bacakan kepadaku ayat-ayat Al Qur’an!”

“Baik, ya Amiral Mu’minin!” jawab Uqbah patuh.

Maka dibacanyalah Al Qur’an. Umar menangis bercucuran air mata, sehingga membasahi jenggotnya.

Uqbah meninggalkan sebuah mushaf hasil karya tangannya sendiri. Mushhaf tersebut belum lama ini masih terdapat di Mesir, pada sebuah Universitas (Jami’ah) yang terkenal dengan nama “Jami’ah Uqbah Ibnu Amir” (Universitas Uqbah Ibnu Amir). Di akhir mushhaf tersebut tercantum kalimat, “Katabahu Uqbah bin Amir Al Juhani” (Ditulis oleh Uqbah bin Amir Al Juhani). Mushhaf tersebut adalah yang terkuno di antara segala mushhaf yang dapat ditemukan, tetapi kita lalai memeliharanya.

Dalam bidang jihad, dia turut berperang bersama-sama Rasulullah dalam peperangan Uhud dan peperangan-peperangan sesudah itu. Dia seorang ahli strategi militer terkemuka yang sanggup mengacaukan pertahanan musuh dalam banyak peperangan. Dalam peperangan menaklukan Damsyiq dia mendapat cedera, luka parah.

Maka Panglima Abu Ubaidah mengirimnya ke Madinah sebagai kurir istimewa, untuk menyampikan laporan kepada Khalifah Umar. Delapan hari delapan malam (Jum’at ke Jum’at) dia berpacu tanpa henti, sehingga Khalifah Umar beroleh berita gembira atas kemenangan-kemenangan yang dicapai kaum muslimin.

Kemudian dia diangkat menjadi perwira dalam ketentaraan kaum muslimin untuk menaklukkan Mesir. Lalu Amirul Mukminin – ketika itu Mu’awiyah bin Abu Sufyan – mengangkatnya menjadi Gubernur di negeri itu. Setelah memegang jabatan itu selama tiga tahun, Mu’awiyah menugaskannya dalam peperangan menaklukkan Rodhes di Laut Tengah. Karena seringnya Uqbah bin Amir turut berperang, menyebabkan dia banyak menyimpan kisah-kisah nyata pengalamannya berperang, yang diceritakannya kepada kaum muslimin. Dia adalah seorang pemanah jitu. Bila dia ingin bermain-main atau berolah raga, maka dia melakukan olah raga memanah sambil berlatih.

Tatkala Uqbah sakit mendekati ajal, dia berada di Mesir. Dikumpulkannya anak-anaknya lalu dia berwasiat : “Hai anak-anakku! Aku larang kalian melakukan tiga perkara. Maka jauhilah ketiga-tiganya. Pertama: Jangan menerima hadits Rasulullah kecuali dari orang-orang yang tsiqqah (dipercaya). Kedua: Jangan berhutang, sekalipun pakaian kalian compang-camping. Ketiga: Jangan menulis sya’ir (sajak) sehingga menyebabkan hati kalian lalai terhadap Al Qur’an.”

Dia dimakamkan di kaki bukit Al Muqaththam. Setelah mereka periksa peninggalannya, antara lain terdapat tujuh puluh tujuh busur panah. Setiap busur mempunyai sebuah tanduk (sebagai tempat anak panah). Uqbah berwasiat, supaya busur-busur panah tersebut dimanfaatkan oleh kaum muslimin dalam jihad fi sabilillah.

Semoga Allah melimpahkan cahaya ke wajah Uqbah, seorang qari. alim, dan panglima perang. Dan semoga Allah memberinya pahala dengan pahala yang sangat baik. Amin!!!

Kisah Sahabat Umair bin Wahab

Perang Badar dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin. Rasa syukur pun selalu mereka panjatkan ke hadirat Allah SWT. Sebaliknya, kekalahan yang diterima kaum musyrikin Quraisy benar-benar membuat mereka makin geram.

Umair bin Wahab dan Shafwan bin Umayyah mengungkapkan kekesalan mereka atas kemenangan umat Islam. Umair berkata kepada Shafwan, “Ah, seandainya aku tidak sedang dililit utang dan keluargaku bisa kutinggalkan saat kesulitan sekarang, aku akan mencari Muhammad dan membunuhnya!”

Mendengar perkataan Umair tersebut, Shafwan menyambut ide Umair dan berkata, “Baiklah, jika kau berhasil membunuh Muhammad dan menyiksanya dengan keji, aku berjanji akan memberimu 100 ekor unta. Dengannya kamu bisa melunasi semua utang keluargamu, begitu pula keluargamu akan aku jadikan bagian dari keluargaku!”

Tawaran yang menggiurkan. Tanpa pikir panjang, Umair langsung menerima tawaran Shafwan dengan senang hati.

“Tapi ingat! Ini adalah rahasia kita berdua. Jangan sampai kauceritakan kepada yang lain!” pesan Shafwan kepada Umair.

Umair pun segera berangkat ke Medinah untuk melaksanakan rencana kejinya tersebut. Akan tetapi, malang baginya, di tengah perjalanan ia bertemu Umar bin Khaththab, sahabat Rasulullah saw yang sangat ditakuti kaum Quraisy karena keberanian dan pukulannya yang menyakitkan. Rasa takut menyergap Umair, apalagi ketika Umar menggiringnya untuk menghadap Rasulullah saw.

Interogasi terhadap Umair atas maksud kedatangannya ke Medinah dimulai di hadapan Rasulullah saw. Beliau bertanya, “Apa maksud kedatanganmu ke sini?”

Umair tidak mungkin menjawab dengan jujur niatnya untuk membunuh pemimpin umat Islam itu sendiri. Ia berkilah, “Sungguh kedatanganku ke sini untuk menebus putraku yang telah kalian tawan.”

Rasulullah saw sebenarnya sudah mengetahui bahwa Umair berbohong. Beliau mendapat petunjuk dari Allah SWT. Berkali-kali beliau bertanya kepada Umair, berkali-kali pula ia terus berbohong.

Akhirnya, Rasulullah saw mengakhiri kebohongan Umair dengan berkata, “Aku tahu engkau telah bersekongkol dengan Shafwan untuk membunuhku. Dengan melakukannya, Shafwan akan memberikanmu 100 ekor unta untuk melunasi seluruh utang keluargamu dan menjadikan keluargamu bagian dari keluarganya!”

Umair tersentak kaget mengetahui Rasulullah saw bisa membongkar niat busuknya. Dia sangat heran, “Benar-benar tidak habis pikir, bagaimana Rasulullah bisa mengetahui rencana busukku, padahal tidak ada orang lain yang mendengarkan, hanya aku dan Shafwan. Lagi pula percakapan itu terjadi di Mekah, jauh dari Medinah tempat Rasulullah saw berada?”

Kebenaran berita yang disampaikan Rasulullah saw membuat Umair yakin bahwa Muhammad benar-benar utusan Allah. Ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai ketundukannya pada Islam. Rasulullah saw menyambutnya dengan baik.

Tidak ada prasangka atau dendam sama sekali kepada Umair. Bahkan, beliau menyuruh para sahabat untuk mengajari Al-lslam kepada Umair, sampai ia memahaminya dengan baik. Ditambah lagi, semua tawanan yang diminta oleh Umair, beliau bebaskan tanpa keberatan sama sekali.

Waktu pun berlalu. Saat dirasa ilmu yang dimiliki Umair sudah cukup, Rasulullah saw mengizinkannya untuk kembali ke Mekah. Di sana ia menyiarkan Islam dan hasilnya hampir seluruh masyarakat Mekah masuk Islam berkat dakwahnya.

Kisah Sahabat Umair bin Sa’d Al Anshary

Bocah yang bernama Umair bin Sa’ad al-Anshari telah merasakan hidup sebagai yatim dan orang miskin sejak kecilnya. Ayahnya telah kembali ke pangkuan Tuhan tanpa meninggalkan harta atau orang yang akan membiayainya.

Namun ibunya berhasil untuk menikah lagi dengan seorang hartawan dari suku Aus yang dikenal dengan Al-Julas bi Suwaid. Pria ini kemudian menanggung biaya hidup Umair dan menjadikan ia sebagai anggota keluarga. Umair merasakan kebaikan, asuhan dan perasaan lembut yang dimiliki Al-Julas sehingga membuatnya terlupa bahwa dia adalah seorang yatim.

Umair mencintai Al-Julas seperti ayahnya sendiri. Sebagaimana Al-Julas mencintai Umair seperti layaknya seorang anaknya.

Semakin Umair bertambah dewasa, maka Al-Julas semakin cinta kepadanya. Sebab Al-Julas mendapati bahwa Umair memiliki tanda-tanda kecerdasan dan kemuliaan yang terlihat dari setiap amalnya. Ia juga memiliki sifat amanah, jujur yang terlihat dari perilakunya.

***

Pemuda yang bernama Umair memeluk Islam pada saat ia masih belia, belum genap 10 tahun. Iman merasuk ke dalam sebuah ruang di hatinya dan tidak berlari dari tempatnya. Ia juga mendapati Islam dalam jiwanya yang masih suci dan bersih. Meski masih dalam usia belia, namun ia tidak pernah absen dari shalat berjamaah di belakang Rasulullah. Ibunya merasa bahagia setiap kali melihatnya pergi ke masjid atau kembali darinya. Terkadang bersama suaminya, terkadang ia berangkat sendiri saja.

***

Beginilah kehidupan pemuda Umair berlangsung; tenang tanpa ada halangan dan tidak ada kekeruhan. Sehingga kehendak Allah menentukan bahwa bocah yang hampir baligh ini akan mendapatkan cobaan yang paling berat, dan memberikannya ujian yang jarang diterima oleh pemuda dalam usianya.

Pada tahun ke-9 Hijriyah, Rasulullah SAW mengumumkan niatnya untuk menyerang Romawi di Tabuk. Beliau memerintahkan kaum Muslimin untuk bersiap-siap.

Kebiasaan Rasulullah adalah jika beliau hendak melakukan perang, beliau tidak akan menceritakannya. Manusia menduga bahwa Rasulullah akan menuju suatu arah yang sebenarnya bukan itu yang dimaksud. Kecuali dalam perang Tabuk. Dalam perang ini, Rasul menceritakan niatnya kepada seluruh manusia karena jauhnya jarak, beratnya penderitaan, dan kuatnya musuh manusia agar semua mengerti akan tugas mereka. Agar mereka dapat mempersiapkan dengan baik tugas ini.

Meskipun musim panas telah datang, cuaca panas terik terasa, buah-buahan telah masak, bayangan telah sempurna dan jiwa manusia menjadi malas dan tak mau bergerak. Meski demikian kaum Muslimin memenuhi seruan Nabi mereka dan langsung bersiap-siap.

Namun sebagian kaum Munafikin membuat tekad kaum Muslimin melemah, membuat mereka ragu, dan menjelek-jelekkan Rasulullah dan mengucapkan kata-kata yang dapat menjerumuskan mereka dalam kekufuran.

***

Pada suatu hari ketika pasukan Muslimin akan berangkat, pemuda yang bernama Umair bin Sa’ad kembali ke rumahnya setelah menyelesaikan shalat di masjid. Hatinya dipenuhi dengan sekumpulan kisah menarik dari pengorbanan kaum Muslimin yang ia lihat dengan matanya dan ia dengar lewat telinganya.

Ia melihat para wanita kaum Muhajirin dan Anshar yang datang menghadap Rasulullah lalu melepaskan dan memberikan perhiasan mereka kepada beliau untuk membayar biaya pasukan yang berperang di jalan Allah.

Ia melihat dengan mata kepalanya bahwa Utsman bin Affan membawa sebuah kantong yang berisikan 1000 dinar emas dan diberikan kepada Nabi SAW. Ia menyaksikan Abdurrahman bin Auf membawa di atas lehernya 100 awqiyah dari emas dan diberikan kepada Rasulullah. Bahkan ia juga melihat seorang pria yang menjual kudanya untuk dibelikan pedang sehingga ia dapat berjuang di jalan Allah.

Maka Umair bin Sa’ad menjadi amat kagum dengan peristiwa tersebut, dan ia merasa aneh mengapa Al-Julas tidak bersegera untuk siap dan berangkat bersama Rasulullah, dan mengapa ia terlambat memberikan bantuan padahal ia adalah orang yang mampu dan memiliki keluasan.

Maka Umair berusaha untuk membangkitkan semangat Al-Julas dan memotivasinya. Umai menceritakan kisah tentang apa yang telah ia lihat dan ia dengar. Khususnya kisah beberapa Muslimin yang datang menghadap Rasulullah dan meminta beliau agar mengizinkan mereka untuk bergabung dengan pasukan Muslimin berjihad di jalan Allah. Namun Rasul menolak permintaan mereka sebab mereka tidak memiliki kendaraan yang dapat membawa mereka ke sana. Maka orang-orang tadi kembali dengan mata berlinang karena merasa sedih sebab mereka tidak menemukan harta yang dapat mewujudkan keinginan mereka untuk berjihad, dan mewujudkan impian mereka untuk mendapatkan kesyahidan.

Akan tetapi setelah Al-Julas mendengarkan pembicaraan Umair, maka meluncurlah dari mulut Julas perkataan yang membuat heran Umair saat ia mendengarnya, “Jika Muhammad benar sebagaimana pengakuannya bahwa ia adalah seorang Nabi, bila demikian maka kita adalah lebih buruk dari keledai.”

Umair kaget dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia tidak pernah mendengar bahwa seseorang yang berakal dan dewasa seperti Al-Julas keluar dari mulutnya kalimat yang dapat mengeluarkan orang yang mengucapkannya dari keimanan dengan serta-merta, dan memasukkannya dalam kekafiran.

Sebagaimana alat hitung yang canggih dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang dilontarkan kepadanya, maka akal Umair bin Sa’ad segera berpikir untuk mengerjakan apa yang semestinya ia lakukan.

Ia menduga bahwa berdiam diri dari apa yang dikatakan Al-Julas lalu menutupinya adalah sebuah pengkhianatan kepada Allah dan Rasul-Nya, juga dapat mencelakai Islam sebagaimana yang sering dilakukan oleh kaum munafik.

Ia juga mengira bahwa mengumumkan kepada orang lain apa yang ia dengar dari Al-Julas merupakan kedurhakaan dirinya kepada orang yang telah menjadi seperti ayah baginya, dan membalas air susu dengan air tuba. AL-Julas lah yang telah memelihara dia yang tadinya hanyalah seorang Yatim. Ia telah mencukupkan kebutuhan dirinya dari kefakiran, dan menggantikan posisi ayahnya.

Tiada lain, bagi bocah ini haruslah memilih mana yang paling manis dari dua pilihan pahit. Sesegera mungkin Umair memilih….

Ia menatap Al-Julas sambil berkata, “Demi Allah, wahai Julas, tidak ada orang yang lebih aku cintai setelah Muhammad bin Abdullah selain engkau…. Engkau adalah orang yang aku sayangi. Engkau adalah orang yang paling mencintaiku. Namun engkau telah mengucapkan kalimat yang bila aku ceritakan kepada orang lain, maka aku sudah membuatmu sulit. Namun jika aku sembunyikan itu, berarti aku telah mengkhianati amanahku dan aku sama saja mencelakakan agama dan diriku. Aku bertekad untuk datang menghadap Rasulullah dan menceritakan apa yang telah engkau katakan. Sadarilah apa yang telah engkau lakukan.

***

Umair bin Sa’ad berangkat ke masjid dan menceritakan kepada Rasulullah apa yang telah ia dengar dari Al-Julas bin Suwaid.

Maka Rasulullah meminta Umair tinggal bersamanya dan beliau mengirim salah seorang sahabatnya untuk memanggil Al-Julas.

Tidak berselang lama, maka datanglah Al-Julas kemudian ia memberi salam kepada Rasulullah lalu duduk di hadapan beliau. Rasulullah bertanya kepada Al-Julas, “Ucapan apa yang engkau katakan dan didengar oleh Umair bin SA’ad….?!” Rasulullah menyebutkan seperti apa yang telah ia ucapkan. Lalu Al-Julas berkata, “Dia telah berbohong tentangku dan telah membuat-buatnya, wahai Rasulullah! Aku tidak pernah mengucapkan hal itu.”

Maka para sahabat memandangi Al-Julas dan Umair bin Sa’ad seolah mereka ingin melihat dari roman wajah keduanya apa yang tersimpan di dalam dada.

Lalu mereka saling berbisik. Salah seorang yang memiliki penyakit di hatinya berkata, “Ini adalah pemuda yang durhaka. Ia mau membalas kebaikan orang yang mengasuhnya dengan keburukan.”

Salah seorang lagi mengatakan, “Malah, anak ini tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Raut mukanya menggambarkan hal itu.”

Rasulullah memandang Umair. Beliau mendapati wajah Umair memerah, dan air mata mengalir dari bola matanya. Air mata tersebut menetes di pipi dan dadanya, dan ia berdoa, “Ya Allah, turunkanlah bukti kepada Nabi-Mu apa yang telah aku ceritakan kepadanya…. Ya Allah, turunkanlah bukti kepada Nabi-Mu apa yang telah aku ceritakan kepadanya.”

Maka berdirilah Al-Julas sambil berkata, “Apa yang aku ceritakan kepadamu adalah benar, ya Rasulullah. Jika engkau berkenan, kami akan bersumpah di hadapanmu. Aku bersumpah kepada Allah bahwa aku tidak mengatakan seperti apa yang disampaikan Umair kepadamu.”

Al-Julas tidak berhenti mengucapkan sumpahnya sehingga mata manusia tertuju kepada Umair bin Sa’ad sehingga Rasulullah terdiam. Para sahabat tahu bahwa ini pertanda turunnya wahyu. Mereka berdiri tak bergeming. Tidak satu pun yang bergerak. Mereka membeku dan pandangan mereka tertuju kepada Rasulullah SAW.

Saat itu, barulah muncul rona ketakutan dan malu di wajah Al-Julas, dan muncullah kemenangan pada Umair. Semua orang merasakan itu sehingga Rasulullah siuman lagi. Beliau lalu membaca, “Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.” (QS. at-Taubah: 74)

Al-Julas gemetar ketakutan usai mendengar ayat tersebut. Hampir saja lisannya terlilit karena takut. Kemudian ia menatap Rasulullah SAW dan berkata, “Aku bertaubat, ya Rasulullah…. aku bertaubat. Umair benar, ya Rasulullah, dan aku adalah orang yang telah berdusta. Pintalah Allah untuk menerima taubatku, aku siap menjadi tebusanmu, ya Rasulullah!”

Lalu Rasulullah SAW melihat ke arah Umair bin Sa’ad, rupanya air mata kebahagiaan telah membasuh wajahnya yang bersinar dengan cahaya iman.

Lalu Rasulullah menjulurkan tangannya yang mulia ke telinga Umair dan memegangnya dengan lembut sambil berkata, “Telingamu telah jujur mendengarkan, wahai anak, dan Tuhanmu telah membenarkanmu.”

***

Al-Julas kembali ke pangkuan Islam dan ia menjalankan keislamannya dengan baik. Para sahabat mengetahui perbaikan kondisinya karena ia memberikan banyak kebaikan kepada Umair.

Al-Julas berkata setiap kali diingatkan tentang Umair, “Allah akan membalasnya atas  kebaikan yang ia lakukan kepadaku. Ia telah menyelamatkan aku dari kekafiran, dan membebaskan diriku dari api neraka.”

Wa ba’du…. ini bukanlah kisah yang paling menarik dalam hidup seorang pemuda yang menjadi sahabat Rasul bernama Umair bin Sa’ad.

Dalam hidupnya banyak sekali kisah yang lebih baik dan menarik.

Kisah Sahabat Tsumamah bin Utsal

Seorang pemuda pernah bertanya kepada al-Syaikh al-Qadhi Taqiyyuddin an-Nabhani rahimahullah terkait dengan kunci sukses dalam sebuah aktivitas. Kemudian beliau memberikan tiga pesan: (1) al-iman/al-tsiqah bil fikrah (keyakinan kepada fikrah/gagasan); (2) al-jiddiyyah (keseriusan dan kesungguhan mewujudkan gagasan); dan (3) al-mutaba’ah (monitoring aktivitas sampai terealisasi dengan benar).

Keyakinan pada gagasan yang dibawa adalah perkara yang amat penting. Contoh terbaik dalam ini adalah Rasulullah dan para sahabatnya. Mereka begitu yakin atas ajaran baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Sayyiduna Ali misalnya, saat berhadap dengan kafir Quraisy menyimpan satu keyakinan: bahwa saya akan mengalahkan kamu. Juga mentransfer keyakinan tersebut kepada lawan: bahwa kamu akan saya kalahkan. Kepercayaan diri ini akan terefleksi dalam tindakan.

Kesungguhan dalam mewujudkan fikrah juga bisa kita lihat dalam diri para sahabat Nabi. Termasuk di antaranya adalah Tsumamah bin Utsal al-Hanafi ( ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ الْحَنَفِيّ ) رضي الله عنه. Tulisan ini akan mengisahkan tentang kesungguhan beliau dalam mewujudkan keyakinannya.

Adapun monitoring terhadap aktivitas sampai benar-benar terwujud, nampak sekali dari bagaimana para sahabat memastikan setiap amanah bisa terwujud, termasuk saat menugaskan yang lain. Adalah Sayyiduna Umar bin Khaththab رضي الله عنه yang benar-benar memonitor pelaksanaan tanggung jawab oleh pejabat negara yang diangkatnya.

Berikut adalah kisah tentang kesungguhan Tsumamah bin Utsal al-Hanafi رضي الله عنه.

Di tahun ke-6 hijriyah, Rasulullah ﷺ berniat memperluas wilayah cakupan dakwah. Beliau menulis delapan surat kepada raja-raja Arab dan Ajam. Nabi ﷺ mengirimkannya kepada mereka untuk menyeru mereka kepada Islam. Di antara orang yang mendapat surat Rasulullah ﷺ adalah Tsumamah bin Utsal al-Hanafi.

Tidak mengherankan karena Tsumamah adalah salah seorang pembesar orang-orang Arab di zaman jahiliyah. Salah seorang pemuka Bani Hanifah yang terpandang. Salah seorang raja Yamamah yang perintahnya senantiasa ditaati.

Tsumamah menerima surat Nabi ﷺ dengan sikap angkuh dan melecehkan. Dia menutup kedua telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar dakwah kepada kebaikan dan kebenaran itu.

Ia bertekad membunuh Rasulullah ﷺ dan menggubur dakwahnya. Dia mulai mencari peluang untuk membunuh Nabi ﷺ sampai dia mendapatkan kesempatan itu.

Setelah gagal membunuh Rasulullah, Tsumamah mengincar para sahabat, sehingga dia berhasil menangkap beberapa orang dari mereka dan membunuh mereka secara brutal. Atas dasar itu, Nabi ﷺ menghalalkan darahnya dan mengumumkannya di hadapan para sahabatnya.

Tidak lama setelah itu Tsumamah berniat untuk menunaikan ibadah umrah, maka dia berangkat meninggalkan bumi Yamamah menuju Mekah, dia sudah membayangkan akan melaksanakan thawaf dan menyembelih kurban untuk berhalanya.

Ketika Tsumamah dalam perjalanan menuju Mekah di dekat kota Madinah, sebuah pasukan Rasulullah ﷺ yang sedang berpatroli di sekeliling Madinah, menyergap Tsumamah.

Pasukan ini menawannya, sementara mereka tidak mengenal siapa dia, pasukan ini membawanya ke Madinah, mengikatnya di salah satu tiang masjid, menunggu ﷺ yang akan melihat perkara tawanan ini dan menetapkan perintahnya padanya.

Ketika Nabi ﷺ pergi ke masjid, dan hampir masuk ke dalamnya, beliau melihat Tsumamah terikat di sebuah tiang, maka beliau bersabda, “Apakah kalian tahu siapa dia?”

Mereka menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.”

Beliau berkata, “Ini Tsumamah bin Utsal al-Hanafi, tawanlah dia dengan baik.”

Kemudian Rasulullah ﷺ pulang ke keluarga beliau dan bersabda, “Kumpulkanlah makanan lezat yang kalian miliki dan hidangkalah kepada Tsumamah bin Utsal.”

Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan agar unta beliau diperah di pagi dan sore hari lalu susunya disuguhkan kepada Tsumamah.

Semua itu dilakukan kepada Tsumamah sebelum Rasulullah ﷺ bertemu dengannya dan sebelum beliau berbicara kepadanya.

Selanjutnya Nabi ﷺ menemui Tsumamah, beliau ingin menyerunya kepada Islam secara perlahan, beliau bertanya kepadanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”

Dia menjawab, “Aku mempunyai kebaikan wahai Muhammad, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah (orang yang akan dituntut bela atas kematiannya), namun jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf kepada orang yang tahu berterima kasih. Jika kamu ingin harta, maka katakan saja niscaya kamu akan kami berikan apa yang kamu inginkan.”

Nabi ﷺ membiarkannya dalam keadaan demikian selama dua hari. Makanan dan minuman lezat selalu disuguhkan kepadanya, susu unta tetap diperah untuknya. Kemudian Nabi ﷺ menemuinya kembali, beliau bertanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”

Tsumamah menjawab, “Aku hanya mempunyai apa yang aku katakan sebelumnya. Jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf kepada orang yang tahu berterima kasih, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah (orang yang dituntut bela kematiannya). Jika kamu menginginkan harta, maka mintalah niscaya akan kami beri seberapapun yang kamu mau.”

Nabi ﷺ meninggalkannya, di hari berikutnya Nabi ﷺ datang lagi kepadanya, beliau bertanya kepadanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”

Dia menjawab, “Aku mempunyai apa yang telah aku katakan kepadamu. Jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf kepada orang yang tahu berterima kasih, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah (orang yang dituntut bela atas kematiannya). Jika kamu menginginkan harta, maka mintalah niscaya kami akan memberi seberapa saja yang kamu mau.”

Lalu Rasulullah ﷺ melihat para sahabatnya dan bersabda, “Lepaskan Tsumamah.” Maka mereka membuka ikatannya dan melepaskannya.

Tsumamah meninggalkan masjid Rasulullah ﷺ, dia berlalu sampai tiba di sebuah kebun kurma di pinggir Madinah dekat al-Baqi’ yang ada mata airnya. Tsumamah menghentikan kendaraannya di sana. Dia bersuci dengan menggunakan airnya secara baik, kemudian membalikkan langkahnya menuju masjid.

Begitu dia tiba di masjid, dia berdiri di hadapan sekumpulan orang dari kaum Muslimin dan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.”

Selanjutnya Tsumamah menemui Nabi ﷺ dan berkata, “Wahai Muhammad, demi Allah di muka bumi ini tidak ada wajah yang paling aku benci melebihi wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, tidak ada agama yang paling aku benci melebihi agamamu, namun saat ini agamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah tidak ada negeri yang paling aku benci melebihi negerimu, namun saat ini ia menjadi negeri yang paing aku cintai.”

Kemudian dia menambahkan, “Dulu aku pernah membunuh beberapa orang dari shahabat-shahabatmu, apa yang harus aku pikul karenanya?”

Nabi ﷺ menjawab, “Tidak ada dosa atasmu wahai Tsumamah, karena Islam menghapus apa yang sebelumnya.”

Maka wajah Tsumamah berbinar, dia berkata, “Demi Allah, aku akan melakukan terhadap orang-orang musyrikin sesuatu yang jauh lebih berat daripada apa yang telah aku lakukan terhadap shahabat-shahabatmu. Aku meletakkan pedangku, jiwaku, dan orang-orangku demi membelamu dan membela agamamu.”

Kemudian Tsumamah berkata, “Ya Rasulullah, pasukanmu menangkapku, pada saat itu aku hendak melaksanakan umrah, menurutmu apa yang aku lakukan?”

Nabi ﷺ menjawab, “Teruskan umrahmu namun di atas syariat Allah dan rasul-Nya.” Lalu Nabi ﷺ mengajarkan manasik umrah kepadanya.

Tsumamah melanjutkan langkahnya untuk melaksanakan niatnya, dia tiba di lembah Mekah, maka dia berdiri mengangkat suaranya dengan lantang, “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika laka.”

Ia adalah Muslim pertama di muka bumi yang masuk Mekah dengan bertalbiyah.

Orang-orang Quraisy mendengar suara talbiyah, maka mereka berhamburan keluar penuh dengan kemarahan dan kekhawatiran, pedang-pedang ditarik dari sarungnya, mereka menuju sumber suara untuk membungkam pemiliknya yang telah mengganggu mereka.

Manakala orang-orang datang kepada Tsumamah, dia pun lebih meninggikan suara talbiyahnya sambil memandang mereka penuh dengan kebanggaan. Beberapa anak muda Quraisy berniat melepaskan anak panah kepadanya, namun para pemuka Quraisy mencegah mereka. Para pemuka Quraisy berkata, “Celaka kalian, apakah kalian tahu siapa orang ini? Dia adalah Tsumamah bin Utsal, Raja Yamamah, demi Allah, kalau kalian mencelakainya niscaya kaumnya akan memutuskan pengiriman gandum kepada kita, akibatnya kita akan mati kelaparan.”

Tsumamah mengatakan, “Aku bersumpah demi Ilah Ka’bah ini, setelah aku pulang ke Yamamah tidak ada lagi pengiriman sebiji gandum pun atau sebagian dari hasil buminya sebelum kalian semuanya menikuti Muhammad.”

Tsumamah bin Utsal melaksanakan umrah di hadapan orang-orang Quraisy seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ.

Dia menyembelih dam untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan untuk berhala-berhala. Setelah dia tiba di tengah kaumnya, dia memerintahkan mereka agar menahan gandum agar tidak dikirim kepada orang-orang Quraisy, mereka pun menaati dan mengikuti perintahnya, mereka menahan hasil bumi mereka dari orang-orang Mekah.

Embargo yang ditetapkan oleh Tsumamah atas Quraisy mulai berdampak terhadap mereka sedikit demi sedikit, harga makanan mulai melambung, kelaparan menyebar di kalangan masyarakat, kesulitan mendera mereka, sehingga mereka khawatir atas diri mereka dan anak-anak mereka akan mati kelaparan.

Pada saat itu mereka menulis surat kepada Rasulullah ﷺ yang isinya:

“Yang kami tahu tentangmu adalah bahwa kamu penyambung tali silaturahim dan memerintahkan untuk melakukannya. Namun sekarang kamu telah memutuskan rahim-rahim kami, kamu membunuh bapak-bapak kami dengan pedang, dan mematikan anak-anak kami dengan kelaparan. Tsumamah bin Utsal telah memutus pengiriman gandum sehingga hal itu menyulitkan kami. Jika kamu berkenan untuk menulis kepadanya agar dia mengirim apa yang kami perlukan, maka lakukanlah.”

Nabi ﷺ menulis kepada Tsumamah agar mengirimkan kembali gandum kepada orang Quraisy, maka dia pun melakukannya.

Tsumamah bin Utsal selama hidupnya tetap setia kepada agamanya, menjaga janjinya kepada Nabi ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ wafat dan orang-orang Arab mulai murtad meninggalkan Islam, baik sendiri-sendiri maupun berjamaah dan Musailamah muncul di antara Bani Hanifah menyeru mereka agar beriman kepadanya, Tsumamah menghadangnya, dia berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Hanifah, jauhilah perkara gelap yang tidak mempunyai cahaya ini. Demi Allah ia adalah kesengsaraan yang Allah tetapkan atas siapa yang mengambilnya dari kalian dan ujian bagi siapa yang tidak mengambilnya.”

Kemudian dia berkata, “Wahai Bani Hanifah, tidak berkumpul dua orang nabi dalam satu waktu. Bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang tiada Nabi sesudahnya, tiada nabi yang berserikat dengannya.”

Kemudian dia membacakan firman Allah Ta’ala:

“Haa Miim. Alquran ini diturunkan dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukumanNya yang mempunyai karunia. Tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia. Hanya keadaNyalah semua makhluk kembali.” (TQS. Ghafir: 1-3)

Kemudian Tsumamah bersama orang-orang yang masih memegang Islam dari kaumnya berperang melawan orang-orang murtad demi menegakkan jihad di jalan Allah dan meninggikan kalimat-Nya di muka bumi.
***

Semoga Allah membalas Tsumamah bin Utsal atas jasa baiknya kepada Islam dan kaum Muslimin dengan kebaikan serta memuliakannya dengan surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa. Beliau adalah sosok Muslim yang serius dan bersungguh-sungguh mewujudkan keyakinannya. Semoga terlahir banyak Tsumamah dari rahim umat ini. Aamiin.

Disarikan dan dikembangkan dari pesan salah seorang ‘alim utusan dakwah dari Timur Tengah.

Kisah Sahabat Tsabit Qais Al Anshary

Tsabit bin Qais al-Anshari, seorang pemuka Khazraj yang terpandang, salah seorang pembesar Yatsrib yang diperhitungkan keberadaannya oleh siapa saja.

Di samping itu dia berhati cerdik, responsif, lihai dalam bertutur kata dan bersuara keras. Jika dia berbicara maka dia mengalahkan lawan bicaranya, jika berkhutbah maka dia menyihir para pendengarnya.

Dia adalah satu di antara orang-orang yang masuk Islam angkatan pertama di Yatsrib. Begitu dia menyimak ayat-ayat al-Qur’an yang penuh hikmah yang dilantunkan oleh seorang da’i Makkah Mush’ab bin Umair dengan suaranya yang syahdu dan tekanannya yang merdu, al-Qur’an langsung menawan pendengaran hatinya dengan pengaruhnya yang indah, menguasai nuraninya dengan keterangannya yang mengagumkan dan memenuhi akalnya dengan petunjuk dan syariatnya. Allah Ta’ala melapangkan dadanya kepada Islam, meninggikan kedudukannya dan mengangkat namanya dengan bergabung di bawah panji Nabi Islam.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah sebagai muhajir, Tsabit bin Qais menyambut beliau bersama sekelompok orang dari para petinggi kaumnya dengan hangat, menerima beliau dan shahabat beliau ash-Shiddiq dengan penuh kemuliaannya. Tsabit mengucapkan khutbah di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah khutbah di mana dia mengawalinya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah Ta’ala serta shalawat kepada Nabi-Nya.

Dia menutup khutbahnya dengan, “Kami berjanji kepadamu ya Rasulullah, akan melindungimu seperti kami melindungimu diri kami, anak-anak kami dan istri-istri kami dari setiap marabahaya yang akan menimpa. Lalu apa yang kami dapatkan sebagai balasannya?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab. “Surga. ”

Begitu kata surga menyentuh telinga mereka, wajah-wajah mereka mengisyaratkan kegembiraan dan rat muka mereka memperlihatkan keceriaan, mereka berkata, “Kami rela ya Rasulullah. Kami rela ya Rasulullah.”

Sejak hari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan Tsabit bin Qais sebagai juru bicara beliau sebagaimana Hassan bin Tsabit adalah penyair beliau.

Jika para delegasi datang kepada Rasulullah untuk membanggakan diri atau berdialog dengan lisan yang fasih dan lantunan kata yang merdu mendayu, baik para khatib maupun para penyairnya, maka Tsabit bin Qais maju ke depan untuk menjawab para khatib mereka, sedangkan Hassan bin Tsabit meladeni para penyairnya.

Tsabit adalah seorang laki-laki mukmin dengan iman yang dalam, bertakwa dengan ketakwaan yang bersih, sangat takut kepada Rabbnya, sangat berhati-hati dari segala perkara yang membuat Allah subhanahu wa ta’ala marah.

Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya sangat bersedih dan berduka, kedua lututnya gemetar karena khawatir dan takut, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bertanya kepadanya, ‘Ada apa denganmu wahai Abu Muhammad?”

Dia menjawab, ‘Aku takut telah berbuat celaka ya Rasulullah.” Nabi bertanya, “Mengapa?”

Dia menjawab. ‘Allah telah melarang kami berharap dipuji dengan sesuatu yang tidak kami lakukan, sementara aku adalah orang yang suka pujian. Allah melarang kami bersikap sombong sedangkan aku adalah orang yang mengagumi diriku.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha menenangkan kecemasannya, sampai beliau bersabda kepadanya, “Wahai Tsabit, apakah kamu tidak rela hidup dalam keadaan terpuji, mati sebagai syahid dan masuk surga?”

Wajah Tsabit berbinar dengan berita gembira tersebut, dia berkata, “Ya wahai Rasulullah. Ya wahai Rasulullah.”

Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu milikmu.”

Manakala firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah-janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. A]-Hujurat:2) diturunkan, sejak saat itu Tsabit bin Qais menjauh dari majelis-majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun dia sangat menyintainya dan sangat berkeinginan untuk mendatanginya, Tsabit diam di rumahnya dan tidak pernah meninggalkannya kecuali hanya untuk shalat berjamaah. Rasulullah pun mencari-cari Tsabit, beliau bertanya, “Siapa yang hadir membawa beritanya kepadaku?”

Maka seorang laki-laki Anshar berkata, “Aku ya Rasulullah.”

Laki-laki Anshar ini pergi ke rumahnya, dia melihat Tsabit dalam keadaan berduka dan bersedih, kepalanya tertunduk, laki-laki Anshar ini bertanya, “Mengapa dengan dirimu wahai Abu Muhammad?”

Tsabit menjawab, “Buruk.” Dia bertanya, “Apa itu?”

Tsabit menjelaskan, “Sesungguhnya kamu mengetahui bahwa aku bersuara tinggi, tidak jarang suaraku mengalahkan tingginya suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara ayat al-Qur’an telah turun seperti yang telah kamu ketahui, aku tidak menyangka sama sekali bahwa amalku telah batal dan aku akan menjadi penghuni neraka.”

Laki-laki Anshar ini pun pamit dan menyampaikan jawaban Tsabit kepada Rasulullah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah kepadanya dan katakan, ‘Kamu bukan penghuni neraka sebaliknya kamu adalah penduduk surga’.”

Sebuah berita gembira besar untuk Tsabit di mana dia mengharapkan kebaikannya sepanjang hayatnya.

Tsabit bin Qais ikut dalam seluruh peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selain Badar, dia menerjunkan dirinya di dalam ombak peperangan demi mencari syahadah yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya. Sesekali dia belum mendapatkannya namun syahadah itu tidak berada jauh darinya, hanya berjarak dua busur atau lebih dekat lagi.

Hingga tiba saatnya terjadi perang melawan orang-orang murtad antara kaum muslimin melawan Musailamah al-Kadzdzab di zaman Abu Bakar ash-Shiddiq. Saat itu Tsabit adalah panglima pasukan Anshar sedangkan Salim maula Abu Hudzaifah adalah panglima orang-orang Muhajirin, sementara panglima yang membawahi orang-orang Muhajirin, Anshar dan orang-orang Arab pedalaman adalah Khalid bin al-Walid.

Di setiap medan laga dalam perang ini terlihat keunggulan pasukan Musailamah al-Kadzdzab atas pasukan kaum muslimin, sehingga mereka mampu menembus markas Khalid bin al-Walid dan hampir saja membunuh istrinya Ummu Tamim, mereka berhasil memotong tali-tali pengikat tenda markas dan memporak-porandakannya.

Saat itu Tsabit bin Qais melihat kelemahan kaum muslimin yang membuat hatinya bersedih dan teriris, dia mendengar mereka satu sama lain saling melemahkan dan ini membuat dadanya sempit dan berduka.

Orang-orang kota menuduh orang-orang pedalaman sebagai pengecut, sementara orang-orang pedalaman menuduh orang-orang kota tidak becus berperang dan tidak tahu memegang senjata.

Pada saat itu Tsabit bersiap-siap untuk mati, dia mengambil kain kafannya, dia berdiri di depan khalayak dan berkata, “Wahai kaum muslimin, tidak seperti ini kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sangat buruk, karena kalian membiarkan musuh kalian berani melakukan apa yang mereka lakukan terhadap kalian. Sangat buruk, karena kalian membiasakan diri kalian dengan bersikap pengecut di depan musuh kalian.”

Lalu Tsabit mengangkat kedua tangannya ke atas dan berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepadaMu dari apa yang dilakukan oleh mereka, -Yakni Musailamah dan pasukannya- dan aku juga berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh mereka.” Yakni kaum muslimin.

Kemudian dia merangsek maju layaknya seekor singa yang terluka, bahu membahu bersama para shahabat yang mulia lainnya, Al-Barra bin Malik al-Anshari, Zaid bin al-Khatthab saudara Amirul Mukminin Umar bin al Khatthab, Salim maula Abu Hudzaifah dan orang-orang mukmin angkatan pertama lainnya.

Tsabit menunjukkan kepahlawanannya dengan gagah berani, hal ini menumbuhkan semangat tempur di hati kaum muslimin dan menyumbat dada orang-orang musyrikin dengan kecemasan dan ketakutan.

Tsabit terus berperang di segala arah, dia menebaskan senjatanya hingga luka-luka menghentikan aksinya yang patriotik.

Dia tersungkur di medan peperangan dengan sangat tenang sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan untuknya berupa gugur sebagai syahid yang sebelumnya telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Gugur sebagai syahid dengan dada tenteram karena Allah Ta’ala mewujudkan kemenangan besar bagi kaum muslimin.

Dalam perang ini Tsabit memakai baju besi yang berharga, lalu seorang laki-laki dari kaum muslimin melewati jasadnya kemudian melepaskan baju besi tersebut dari tubuhnya dan ia mengambil baju besi tersebut untuk dirinya.

Di malam kedua dari gugurnya Tsabit, seorang laki-laki dari kaum muslimin bermimpi bertemu dengannya.

Tsabit berkata kepada laki-laki itu, ‘Aku adalah Tsabit bin Qais, apakah kamu mengenalku?”

Dia menjawab, “Ya.”

Tsabit berkata, ‘Aku berwasiat kepadamu, jangan berkata bahwa ini adalah mimpi agar kamu tidak menyia-nyiakannya. Ketika aku terbunuh kemarin, seorang laki-laki dari kaum muslimin yang ciri-cirinya seperti ini melewatiku, dia mengambil baju perangku dan membawanya ke tendanya yang terletak di paling ujung dari markas kaum muslimin dari arah ini. Dia meletakkannya di bawah sebuah bejana lalu menutupinya dengan pelana. Datanglah kepada Khalid bin al-Walid, katakan kepadanya agar dia mengutus seseorang untuk mengambil baju besi itu karena ia masih berada di tempatnya. Aku mewasiatkan kepadamu dengan wasiat yang lain, jangan berkata bahwa ini adalah mimpi agar kamu tidak menyia-nyiakannya. Katakan kepada Khalid, Jika engkau pulang kepada Khalifah Rasulullah
di Madinah maka katakan kepadanya. ‘Sesungguhnya Tsabit memikul hutang sekian dan sekian dan bahwa fulan dan fulan dari hamba sahayaku merdeka. Hendaknya dia membayar hutangku dan membebaskan hamba sahayaku.”

Laki-laki yang bermimpi itu terjaga, dia menemui Khalid bin al-Walid, dia menyampaikan mimpinya. Maka Khalid mengutus seseorang untuk mengambil baju besi Tsabit dari tangan orang yang mengambil baju besi tersebut di tempatnya. Kemudian seorang laki-laki utusan Khalid kembali dengan menenteng baju besi tersebut.

Ketika Khalid pulang ke Madinah, dia menyampaikan berita dan wasiat Tsabit bin Qais kepada ash-Shiddiq, lantas ash-Shiddiq melaksanakan wasiatnya.

Tidak pernah ada sebelumnya dan tidak akan pernah ada sesudahnya bahwa wasiat seseorang dilaksanakan sesudah kematian orang tersebut selainnya.

Semoga Allah Ta’ala meridhai Tsabit dan menempatkannya di Illiyin tertinggi.

Kisah Sahabat Thalhah bin Ubaidillah Al Taimy

Thalhah merupakan sahabat Rasulullah yang berasal dari suku Quraisy. Dia termasuk orang yang dijanjikan masuk surga karena perjuangannya memeluk dan menegakkan syariat Allah.

Nama lengkapnya adalah Thalhah bin Ubaidillah bin Usman bin Kaab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah, al-Qurasyi at-Taimi al-Makki dan al-Madani. Silsilahnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay, dan dengan nasab Abu Bakar Shiddiq pada Taim bin Murrah. Mereka berdua berasal dari Kabilah Taim.

Ayahnya berasal dari Quraisy yang telah wafat pada masa jahiliyah. Tidak ada satu pun riwayat yang menceritakan tentang sikap ayahnya pada saat kedatangan Islam. Ibunya adalah Sha’bah binti al-Hadhrami, saudari al-Ala’ bin al-Hadhrami, seorang sahabat yang masuk Islam dan ikut berhijrah.

Pamannya, Amr bin Usman, juga masuk Islam, hijrah ke Madinah, dan ikut dalam Perang Qadisiyah. Lalu, neneknya dari garis ibu adalah Atikah binti Wahab bin Abdu bin Qushay bin Kilab. Wahab bin Abdu adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab mengurus makanan jamaah haji.

Thalhah merupakan ipar Nabi Muhammad melalui empat istrinya. Thalhah menikahi Ummu Kultsum binti Abu Bakar yang merupakan saudari Aisyah, Hamnah binti Jahsy yang merupakan saudari dari Zainab, Rafa’ah binti Abu Sufyan yang merupakan saudari Habibah, dan Qaribah binti Abi Umayyah yang merupakan saudari dari Ummu Salamah.

Dia juga menikahi Khaulah binti Qa’qa’ bin Mu’id, yang dijuluki Aliran Sungai Eufrat karena kedermawanannya. Dia memiliki keturunan yang banyak. Anak-anaknya yang terkenal di antaranya Muhammad bin Thalhah yang bergelar as-Sajjad, Musa, dan Isa. Putrinya yang terkenal adala Aisyah binti Thalhah dan Ummu Ishaq, wanita yang dinikahi Husein bin Ali bin Abi Thalib. Kemudian, setelah Husein meninggal, Hasan adiknya menikahi wanita tersebut.

Dia dilahirkan di pusat wilayah Hijaz, tumbuh di padang pasir. Tubuhnya kuat. Sikapnya tegar dengan pendirian yang tak mudah goyah. Dia dikenal sebagai pribadi yang dermawan dan sangat baik hati. Thalhah tak ragu menempuh kesulitan dalam menghadapi musuh. Tidak ada lawan yang ditakuti, serta tak gentar menghadapi kebisingan dan kerasnya medan pertempuran.

Dia juga menghabiskan hartanya demi kebaikan dan membela Islam serta menolong mereka yang membutuhkan. Thalhah selalu terjun dalam medan jihad, melindungi Rasulullah, dan membela dakwahnya, serta menyebarkan risalahnya. Dia sepeti pohon yang kuat ketika berdiri dan berjalan di muka bumi. Kedermawanannya tak tertandingi. Begitu banyaknya manfaat yang ia berikan sehingga banyak orang mengapresiasinya.

Kisah Sahabat Suraqah Bin Malik

Muhammad bin Abdullah yang meninggalkan Makkah secara diam-diam di malam pekat, melalui perjalanan berat menuju Madinah sambil sambil dikejar-kejar, sepuluh tahun kemudian menjadi panglima dengan puluhan ribu pasukan Muslimin.

Kaum musyrik dan para petinggi Quraisy pun menyerah dan masuk Islam, hanya sebagian kecil di antara mereka yang berani melawan. Itu pun dapat dengan mudah dipatahkan.

Suraqah bin Malik masih menyimpan tulang pemberian Rasulullah. Saat ia membawa tulang, ia pun menemui Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, aku adalah Suraqah bin Malik,” katanya.

Hari itu adalah pertemuannya kembali dengan Rasulullah setelah dulu Suraqah yang menangkap beliau.

“Kemarilah! Hari ini adalah hari untuk menepati janji dan hari perdamaian,” jawab Rasulullah.

“Aku ingin bersyahadat di hadapanmu,” kata Suraqah lagi.

Rasulullah pun menyambut niat Suraqah dengan baik.

Tak lama setelah peristiwa Fathu Makkah, kaum Muslimin dirundung duka . Air mata berlinangan sambil mengantar jenazah Rasulullah yang sangat dicintai kaum Muslimin.

Wafatnya Rasulullah membuat Suraqah tak kuasa menahan kesedihannya. Belum lama ia masuk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah, ia kini ditinggal pergi untuk selamanya. Selalu terbayang kejahatan yang telah Suraqah lakukan kepada Rasulullah, yang membuatnya merasa sedih dan berdosa. Lalu ia pun menanamkan kembali, memupuk kembali kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya dengan berjihad. Yang kemudian semangat itu semakin membara dari waktu ke waktu.

Selepas Rasulullah wafat, Abu Bakar as-Shiddiq menjadi khalifah pertama. Dilanjutkan oleh Umar bin Khattab, dan Suraqah pun tetap setia menjadi pengikut penerus kepemimpinan. Dibawah kepemimpinan Umar bin Khattab, kaum Muslimin berhasil menaklukan Persia. Persia yang dikenal akan melimpahnya harta, membuat Kaum Muslimin pada waktu itu semakin bersyukur. Emas, perak, berlian, baju perang, dan baju kebesaran kerajaan pun tidak luput menjadi harta rampasan yang kini dimiliki oleh kaum Muslimin.

“Pakailah baju Kisra beserta perhiasan ini, lalu naiklah ke atas mimbar untuk memuji kebesaran Allah!” kata Khalifah Umar kepada Suraqah.

Jantung Suraqah berdegup kencang memandang  apa yang akan diberikan kepadanya itu. Baju dan perhiasan yang sebelumnya tak terbayang akan ia pakai, karena ia sadar siapalah dirinya. Suraqah pun naik ke atas mimbar dan melafalkan pujian dan syukur kepada Allah.

Mahabenar Allah. Terbayang olehnya tatkala saat pertama Suraqah bertemu dengan Rasulullah di gurun pasir. Atas apa yang kini ia lihat, Suraqah ingat bahwasannya sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah sejak dulu. Ia sendiri yang menjadi saksinya.

Kisah Sahabat Shuhaib Al Rumy

Nama Suhaib ar-Rumi memang tidak begitu terkenal di kalangan umat Islam. Meski begitu, Suhaib adalah salah satu sahabat nabi yang pertama-tama mengucap syahadat. Ketika dia masuk Islam, kaum Muslimin hanya berjumlah sekitar 30 orang.

Kisah kedermawanan Suhaib pun diabadikan di dalam Alquran ketika pengusaha kaya ini meninggalkan seluruh hartanya saat diperintahkan untuk hijrah ke Madinah. Alkisah, ketika dalam perjalanan menuju Madinah, Suhaib dicegat kaum Quraisy Makkah. Mereka meminta agar Suhaib meninggalkan seluruh hartanya jika ingin hijrah.

“Wahai Suhaib, engkau datang kepada kami dalam keadaan miskin dan hina, kemudian hartamu menjadi banyak setelah tinggal di daerah kami. Setelah itu, terjadilah di antara kita apa yang terjadi (perselisihan karena Islam). Engkau boleh pergi, tapi tidak dengan semua hartamu,” ujar seorang Quraisy kepadanya. Tanpa berpikir panjang, Suhaib pun langsung meninggalkan hartanya tanpa menyisakan sepeser pun.

Saat sampai di Madinah, Suhaib pun berjumpa dengan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad pun seketika langsung berkata kepada Suhaib. “Perdagangan yang amat menguntungkan wahai Abu Yahya, perdagangan yang amat menguntungkan wahai Abu Yahya,” ujarnya kepada Suhaib

Lelaki itu kemudian menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang melihat apa yang kualami,” lanjut Suhaib. “Jibril yang memberi tahuku.” jawab Rasulullah kepada Suhaib.

Usai peristiwa tersebut, turunlah salah satu ayat di dalam surah al-baqarah “Dan di antara manusia, ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS al-baqarah 207)

Suhaib bukanlah penduduk asli Makkah. Dia menjadi perantau yang datang ke Kota Suci tersebut dari kampung halamannya di Bashrah, Irak. Suhaib memiliki nama belakang ar-Rumi yang artinya orang Romawi. Meski demikian, gelar tersebut bukan menunjukkan jati dirinya yang asli karena dia adalah orang Arab.

Suhaib adalah anak dari salah seorang hakim di wilayah dekat Bashrah. Saat orang-orang Romawi menyerang daerah tersebut, Suhaib menjadi seorang budak Romawi. Ia tumbuh besar di wilayah Romawi dan mendapat nama tambahan ar-Rumi.

Sebenarnya, dia memiliki nama asli Suhaib bin Sinan bin Malik. Nasibnya sebagai budak membawa dia ke Tanah Suci. Seorang penyuplai budak menjualnya kepada salah satu orang kaya Makkah, namanya Abdullah bin Jad’an. Beberapa lama bersama tuan barunya, Suhaib memperlihatkan kecerdasan dan etos kerja yang tinggi. Dia pun dikenal sebagai orang yang tulis. Suhaib pun lantas dilepaskan Abdullah bin Jad’an menjadi orang yang merdeka.

Kemerdekaannya ini dimanfaatkan Suhaib untuk menjadi pedagang. Dia pun dikenal sebagai pengusaha yang sangat sukses di Makkah dengan harta yang tak terkira. Setelah berikrar menjadi Muslim, Suhaib pun tercatat sebagai salah satu sahabat yang gemar bersedekah dan memberi kepada orang lain. Pernah, pada zaman Umar bin Khattab berkuasa, dia menyebut sikap Suhaib tersebut mubazir. Hal itu dikarena Suhaib tidak segan-segan menyedekahkan hartanya, bahkan hingga bersedekah kepada orang yang tidak tepat.

“Wahai Suhaib, aku tidak melihat kekurangan pada dirimu kecuali dalam tiga hal: (1) Engkau menisbatkan diri sebagai orang Arab, padahal logatmu logat Romawi, (2) engkau ber-kun-yah dengan nama Nabi, (3) dan engkau orang yang mubazir.”

Kemudian, Suhaib menanggapi, “Aku seorang yang mubazir? Tidaklah aku berinfak kecuali dalam kebenaran. Adapun kun-yah-ku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang memberinya. Dan, logatku logat Romawi karena sejak kecil aku ditawan orang-orang Romawi. Sehingga, logat mereka sangat berpengaruh padaku.”

Umar sangat kagum dan bangga dengan Suhaib, hingga Umar berwasiat agar Suhaib yang menjadi imam pada shalat jenazahnya. Suhaib pun wafat saat berusia 70 tahun tepat pada Syawal 38 H di Kota Madinah.

Kisah Sahabat Salman al-Farisi

Para sahabat mendapatkan pendidikan secara langsung dari Rasulullah SAW. Mereka setiap harinya melihat secara langsung keagungan pribadi sang junjungan. Karenanya tak heran, apabila begitu mengagumkan akhlak para sahabat ini. Seperti kisah yang dialami sahabat Rasulullah SAW, Salman al-Farisi.

Salman al-Farisi. Ia merupakan seorang mantan budak dari Isfahan Persia. Kisah cinta Salman terjadi saat ia tinggal di Madinah setelah menjadi Muslim dan menjadi salah satu sahabat dekat Rasulullah.

Pada suatu waktu, Salman berkeinginan untuk menggenapkan dien dengan menikah. Selama ini, ia juga diam-diam menyukai seorang wanita salihah dari kalangan Anshar. Namun, ia tak berani melamarnya. Sebagai seorang imigran, ia merasa asing dengan tempat tinggalnya, Madinah.

Bagaimana adat melamar wanita di kalangan masyarakat Madinah? Bagaimana tradisi Anshar saat mengkhitbah wanita? Demikian yang dipikirkan Salman. Ia tak tahu-menahu mengenai budaya Arab. Tentu saja tak bisa sembarangan tiba-tiba datang mengkhitbah wanita tanpa persiapan matang.

Salman pun kemudian mendatangi seorang sahabatnya yang merupakan penduduk asli Madinah, Abu Darda’. Ia bermaksud meminta bantuan Abu Darda’ untuk menemaninya saat mengkhitbah wanita impiannya. Mendengarnya, Abu Darda’ pun begitu girang.

“Subhanallah wa alhamdulillah,” ujarnya begitu senang mendengar sahabatnya berencana untuk menikah. Ia pun memeluk Salman dan bersedia membantu dan mendukungnya.

Setelah beberapa hari mempersiapkan segala sesuatu, Salman pun mendatangi rumah sang gadis dengan ditemani Abu Darda’. Keduanya begitu gembira. Setiba di rumah wanita salihah tersebut, keduanya pun diterima dengan baik oleh tuan rumah.

“Saya adalah Abu Darda’ dan ini adalah saudara say,a Salman dari Persia. Allah telah memuliakan Salman dengan Islam. Salman juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Ia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, Rasulullah menganggapnya sebagai ahlu bait (keluarga)-nya,” ujar Abu Darda’ menggunakan dialek bahasa Arab setempat dengan sangat lancar dan fasih.

“Saya datang mewakili saudara saya, Salman, untuk melamar putri Anda,” katanya melanjutkan kepada wali si wanita menjelaskan maksud kedatangan mereka.

Mendengarnya, si tuan rumah merasa terhormat. Tentu saja, ia kedatangan dua orang sahabat Rasulullah yang utama. Salah satunya bahkan berkeinginan melamar putrinya. “Sebuah kehormatan bagi kami menerima sahabat Rasulullah yang mulia. Sebuah kehormatan pula bagi keluarga kami jika memiliki menantu dari kalangan sahabat,” ujar ayah si wanita.

Namun, sang ayah tidaklah kemudian segera menerimanya. Seperti yang diajarkan Rasulullah, ia harus bertanya pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut. Meski yang datang adalah seorang sahabat Rasul, sang ayah tetap meminta persetujuan sang putri.

“Jawaban lamaran ini merupakan hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami,” ujarnya kepada Abu Darda’ dan Salman al-Farisi.

Sang tuan rumah pun kemudian memberikan isyarat kepada istri dan putrinya yang berada di balik hijab. Rupanya, putrinya telah menanti memberikan pendapatnya mengenai pria yang melamarnya. Mewakili sang putri, ibunya pun berkata, “Mohon maaf kami perlu berterus terang,” katanya membuat Salman dan Abu Darda’ tegang menanti jawaban.

“Maaf atas keterusterangan kami. Putri kami menolak lamaran Salman,” jawab ibu si wanita tentu saja akan menghancurkan hati Salman. Namun, Salman tegar.

Tak sampai di situ, sang ibunda melanjutkan jawaban putrinya. “Namun, karena kalian berdualah yang datang dan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab iya jika Abu Darda’ memiliki keinginan yang sama, seperti Salman,” kata ibu si wanita salihah idaman Salman yang diinginkannya untuk menjadi istri. Namun, justru wanita itu memilih Abu Darda’, yang hanya menemani Salman.

Jika seperti pria pada umumnya maka hati Salman pasti hancur berkeping-keeping. Ia akan merasakan patah hati yang teramat sangat. Namun, Salman merupakan pria saleh, seorang mulia dari kalangan sahabat Rasulullah. Dengan ketegaran hati yang luar biasa, ia justru menjawab, “Allahu akbar!” seru Salman girang.

Tak hanya itu, Salman justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Tanpa perasaan hati yang hancur, ia memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu. “Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan akan kuberikan semua kepada Abu Darda’. Aku juga akan menjadi saksi pernikahan kalian,” ujar Salman dengan kelapangan hati yang begitu hebat.

Demikian kisah cinta sahabat Rasulullah yang mulia, Salman al-Farisi. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kisah tersebut. Ketegaran hati Salman patut dijadikan uswah. Ia pun tak kecewa dengan apa yang belum ia miliki meski ia sangat menginginkannya. Semoga Allah meridhai Salman dan menempatkannya pada surga yang tertinggi.

Design a site like this with WordPress.com
Get started