Kisah Sahabat Salamah bin Qais Al Asyjai’

Suatu malam Khalifah Umar bin Khathab berjaga-jaga di Kota Madinah. Ia ingin memastikan agar penduduk dapat tidur nyenyak dan tenang. Hal itu nyaris ia lakukan setiap malam.

Ketika ia tengah melakukan ronda di antara rumah-rumah dan pasar, muncul dalam benaknya seorang sahabat Rasulullah yang gagah berani.

Saat itu sang Khalifah memang tengah mencari seorang sosok yang bisa ia jadikan panglima perang untuk nenalukkan kawasan Ahwaz, sebelah barat Iran.

Keesokan harinya, setelah memimpin kaum Muslimin melaksanakan shalat Subuh, Umar memanggil sahabat yang muncul dalam benaknya tadi malam. Dialah Salamah bin Qais Al-Asyja’i.

Kepada Salamah, Umar berkata, “Engkau akan kuangkat menjadi panglima pasukan yang akan kukirim ke Ahwaz. Pergilah ke medan juang untuk memerangi mereka yang kafir kepada Allah. Bila engkau bertemu kaum musyrikin, ajaklah mereka masuk Islam!”

“Jika mereka menerima, berilah mereka dua pilihan; tinggal di kampung mereka masing- mising, atau ikut denganmu memerangi orang-orang kafir. Jika mereka memilih tinggal di kampung, mereka wajib membayar zakat dan tidak berhak menerima harta rampasan perang. Jika mereka memilih ikut bersamamu, mereka mempunyai hak dan kewajiban seperti tentaramu yang lain.”

“Jika mereka enggan masuk Islam, wajibkan kepada mereka pajak. Biarkan mereka menganut kepercayaan masing-masing dan lindungi mereka dari dari musuh-musuhmu. Janganlah sekali-kali membebani mereka dengan apa yang tidak sanggup mereka kerjakan.”

“Jika mereka menolak pilihan-pilihan itu, baru engkau perangi mereka. Jika mereka bertahan dalam sebuah benteng, kemudian mereka minta damai dan perlindungan Allah dan Rasul-Nya, jangan diterima tuntutan mereka. Karena kamu tidak tahu perlindungan Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika mereka minta perlindungan kamu, berikanlah perlindungan.”

“Saya siap dan sanggup, wahai Amirul mukminin!” jawab Salamah.

Khalifah Umar memberi semangat untuk meneguhkan hati Salamah. Ia mendoakan kemenangan dan memohon kepada Allah dengan segala kerendahan hati.

Salamah dan pasukannya benar-benar memikul beban yang tidak ringan. Karena Ahwaz adalah daerah pegunungan yang sangat sulit ditempuh. Penduduknya mempunyai kubu-kubu pertahanan kokoh yang tidak mudah ditembus. Letaknya sangat strategis, antara Basrah dan perkemahan bangsa-bangsa yang mempunyai watak lebih keras dari bangsa Kurdi.

Dengan tekad bulat Salamah dan pasukannya meninggalkan Kota Madinah. Belum begitu jauh mereka memasuki kawasan Ahwaz, mereka sudah berhadapan dengan tantangan berat, bergelut dengan sengit melawan alam yang kasar dan ganas.

Dengan segala penderitaan dan kepayahan, mereka berhasil menaklukkan pegunungan yang tinggi dan jurang yang terjal serta membunuh ular-ular berbisa, kalajengking beracun dan berbagai macam binatang buas lainnya.

Setelah perjalanan panjang tersebut, akhirnya mereka tiba di daerah Ahwaz. Sebagaimana pesan sang Khalifah, Salamah menyeru penduduk Ahwaz untuk memeluk Islam.

Namun mereka menolak. Ketika diminta untuk membayar pajak, mereka pun menolak bahkan menyombongkan diri. Akhirnya, kedua belah pihak pun mulai berperang dan kemenangan berada pada pasukan Islam.

Sesudah perang, Salamah bin Qais segera membagi bagikan harta rampasan kepada para prajuritnya. Di antara harta rampasan itu terdapat sebuah perhiasan yang sangat indah. Sang panglima berniat mempersembahkan barang tersebut ke hadapan AmiruI Mukminin, Umar bin Khathab.

Para prajuritnya pun setuju. Mereka merasa bangga bisa memberikan persembahan sebagai oleh-oleh kemenangan kepada pimpinan mereka.

Perhiasan tersebut dimasukkan ke dalam sebuah kotak kecik Kemudian Salamah memerintahkan kepada dua orang utusan untuk berangkat ke Madinah. Selain menyampaikan berita kemenangan, juga mempersembahkan hadiah yang mereka bawa.

Setelah pergi ke Kota Basrah untuk membeli perbekalan, dua utusan itu berangkat ke Kota Madinah. Ketika tiba di Madinah, keduanya mendapatkan Amirul Mukminin sedang membagi-bagikan makanan kepada fakir miskin.

Dengan tongkat di tangan layaknya seorang penggembala yang sedang berada di tengah gembalaannya, Umar bin Khathab memeriksa piring masing-masing kaum Muslimin. Jika ia mendapatkan makanan mereka kurang, ia segera berteriak kepada pelayannya, Yarfa’. “Hai Yarfa’, tambahkan daging untuk mereka ini!”

Begitu melihat dua utusan Salamah, Umar meminta mereka duduk dan menyuruh pelayannya menyediakan makanan. Selesai makan, Umar mengajak kedua tamunya untuk masuk ke rumahnya. Dari balik tabir ia meminta Ummu Kultsum menghidangkan makanan.

Ternyata ketika berada luar rumah tadi, sang Khalifah belum sempat mencicipi makanan. Ia tidak segera menyantap hidangan di hadapannya, sebelum kedua tamunya mencicipi.

Setelah menikmati sajian, Umar berkata,” Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita makan hingga kenyang, dan memberi kita hingga puas. Tamu dari manakah Anda berdua ini?”  tanyanya.

“Kami adalah utusan Salamah bin Qais,” jawab salah seorang mereka.

“Hah, marhaban bagi kalian berdua. Lekas ceritakan bagaimana keadaan tentara kaum Muslimin,” jawab Umar bersemangat.

“Seperti yang kita harapkan semua, Alhamdulillah tentara kaum Muslimin selamat. Mereka berhasil memenangkan pertempuran.” Kemudian utusan itu menceritakan jalannya peperangan dan keadaan sang panglima serta tentara Islam lainnya.

“Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan karunia-Nya,” ujar Amirul Mukminin. Apakah engkau melewati Kota Basrah?”

“Ya,” jawab utusan Salamah tersebut.

Kemudian Umar menanyakan tentang keadaan masyarakat kota itu dan harga barang serta berbagai hal lain yang berkenaan dengan kebutuhan penduduk. Sang Khalifah tampak lega ketika mengetahui keadaan kaum Muslimin baik dan kebutuhan mereka tercukupi.

Sang utusan segera mengeluarkan sebuah kotak lalu menyerahkannya kepada Umar. “Begitu Allah menganugerahkan kepada kami kemenangan, seluruh harta rampasan perang kami kumpulkan. Di antara harta tersebut, kami temukan sebuah perhiasan indah.”

“Salamah bin Qais menyuruh saya mengantarkannya kepada Amirul Mukminin. Karena jika dibagi-bagikan kepada para prajurit, tidak akan mencukupi. Sudilah kiranya anda menerimanya,” ujar sang utusan.

Begitu kotak tersebut dibuka, terlihatlah sebuah perhiasan indah, terdiri dari emas yang kuning menyala. Melihat benda itu, spontan sang Khalifah bangkit sambil membanting kotak dan bertolak pinggang. Wajahnya merah menunjukkan kemarahan.

“Kalian ingin menjerumuskan aku ke neraka dengan benda ini. Segera kumpulkan dan bawa kembali untuk dibagikan kepada para prajurit! Ingat, kalau para prajurit bubar sebelum engkau dan Salamah bin Qais membagikannya, aku akan menghukum kalian,” tegas Umar.

Saat itu juga, sang utusan segera meninggalkan tempat itu dan menemui pimpinannya, Salamah bin Qais. Setelah mendengar penuturan sang utusan, Salamah segera membagi-bagikan perhiasan tersebut kepada pasukannya.

Kisah Sahabat Said bin Zaid

Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang mulia. Bahkan yang termulia di tengah umat ini. Jumlah mereka lebih dari seratus ribuan. Tapi yang paling mulia di antara mereka ada sepuluh orang. Kita mengenal kesepuluh orang ini dengan sebutan al-mubasyiruna bil jannah (orang-orang yang diberitakan masuk surga). Di antara sepuluh orang itu tersebutlah nama Said bin Zaid radhiallahu ‘anhu.

Said bin Zaid tak seterkenal al-mubasyiruna bil Jannah yang lain. Seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Abdurrahman bin Auf. Tapi hal itu tidak mengurangi kemuliaannya. Kali ini kita akan menyimak catatan ringkas tentang biografi Said bin Zaid radhiallahu ‘anhu. Agar kita lebih mengenal sahabat yang mulia ini.

Said bin Zaid adalah seorang yang pertama-tama memeluk Islam. Ia memeluk Islam sebelum Nabi berdakwah di rumah al-Arqam bin Abi al-Aqram. Ia turut serta dalam semua peperangan Rasulullah. Bahkan ia turut ambil bagian juga dalam Perang Yarmuk dan pengepungan Damaskus.

Nasab dan Kedudukannya

Nama dan nasabnya adalah Said bin Zaid bin Amr bin Nufail bin Abdul Uzza al-Adawi. Satu kabilah dengan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Ia dilahirkan di Mekah 22 tahun sebelum hijrah. Termasuk salah seorang yang pertama-tama memeluk dengan perantara dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.

Said bin Zaid menikah dengan adik Umar, Fatimah binti al-Khattab radhiallahu ‘anha. Sementara Umar menikahi saudarinya, yaitu Atikah binti Zaid. Ayahnya, Zaid bin Amr bin Nufail, adalah seorang yang hanif. Meskipun hidup di masa jahiliyah ia tak pernah sujud kepada selain Allah. Di tengah kegelapan jahiliyah, menjelang wafat ayahnya berkata, “Ya Allah, jika Engkau memang tidak menghendaki kebaikan ini (agama Islam) untukku, maka janganlah Engkau halangi anakku (Sa’id) darinya.” Ia tidak tahu harus mengikuti siapa. Karena di zaman itu belum ada Rasul yang diutus.

Jaminan Surga Sejak Masih Tinggal di Dunia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ada sepuluh orang sahabatnya yang paling utama. Mereka semua dijamin surga. Sejak mereka hidup di dunia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: “أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ، وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ”.

Dari Abdurrahman bin Auf, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Abu Bakar di surga. Umar di surga. Utsman di surga. Ali di surga. Thalhah (bin Ubaidillah) di surga. Az-Zubair (bin al-Awwam) di surga. Abdurrahman bin Auf di surga. Saad (bin Abil Waqqash) di surga. Said (bin Zaid) di surga. Dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga.” (HR. Ahmad dan at-Turmudzi).

Seorang Yang Mustajab Doanya

Di antara keutamaan Said bin Zaid adalah ia memiliki doa yang mustajab. Ini menunjukkan kedekatannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Suatu hari ada seorang wanita yang memfitanah Said. Ia mengatakan bahwa Said telah mencuri tanahnya dan memasukkan tanah itu ke bagian miliknya. Fitnah tersebut benar-benar menyakitkan Said. Hingga ia mendoakan orang tersebut,

اللَّهُم إِنْ كَانَتْ كَاذِبَةً فَأَعْمِ بَصَرَهَا، وَاجْعَلْ قَبْرَهَا فِي دَارِهَا

“Ya Allah, kalau dia dusta, buatlah matanya buta. Dan jadikanlah tempat wafatnya, tanahnya sendiri.”

Selang beberapa hari, wanita tersebut mengalami kebutaan. Ia meraba-raba berjalan di dinding. Wanita itu berkata, “Aku telah tertimpa musibah dengan sebab doanya Said bin Zaid.” Saat ia berjalan di tanahnya, ia melewati sumur dan terjatuh di dalamnya. Di situlah kuburnya.

Selain turut serta bersama Rasulullah dalam semua perang setelah Perang Badar. Said juga memiliki keutamaan sebagai periwayat hadits. Memang tidak banyak hadits yang ia riwayatkan. Ia meriwayatkan sejumlah 48 hadits.

Wafat

Said bin Zaid wafat di daerah Aqiq pada tahun 50-an Hijriyah. Kemudian jenazahnya dibawa ke Madinah. Saat wafat usianya 70-an tahun.

Kisah Sahabat Said bin ‘Amir

“Said bin Amir, seorang laki-laki yang membeli akhirat dengan dunia dan mementingkan Allah dan Rasul-Nya di atas selain keduanya.” (Ahli Sejarah)

Anak muda ini, Said bin Amir, adalah satu dari ribuan orang yang keluar ke daerah Tan’im di luar Mekah atas undangan para pemuka Quraisy untuk menyakikan pelaksanaan hukum mati atas khubaib bin Adi, salah seorang sahabat Muhammad setelah mereka menangkapnya dengan cara licik.

Sebagai pemuda yang kuat dan tangguh, Said mampu bersaing dengan orang-orang yang lebih tua umurnya untuk berebut tempat di depan, sehingga dia mampu duduk sejajar di antara para pemuka Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, dan lain-lainya yang menyelenggarakan acara tersebut.

Semua ini membuka jalan baginya untuk menyaksikan tawanan Quraisy yang terikat dengan tambang itu. Sementara tangan anak-anak, para pemuda, dan kaum wanita mendorongnya ke pelataran kematian dengan kuatnya, mereka ingin melampiaskan dendam kesumat terhadap Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, membalas kematian orang-orang mereka yang terbunuh di Badar dengan membunuh Khubaib.

Manakala rombongan besar dengan seorang tawanan tersebut telah tiba di tempat yang sudah disiapkan untuk membunuhnya, si anak muda Said bin Amir al-Jumahi berdiri tegak memandang Khubaib yang sedang digiring ke tiang salib. Said mendengar suara Khubaib di antara teriakan kaum wanita dan anak-anak, dia mendengarnya berkata, “Bila kalian berkenan membiarkanku shalat dua rakaat sebelum aku kalian bunuh?”

Said melihat Khubaib menghadap kiblat, shalat dua rakaat, dua rakaat yang sangat baik dan sangat sempurna.

Said melihat Khubaib menghadap para pembesar Quraisy dan berkata, “Demi Allah, kalau aku tidak khawatir kalian menyangka bahwa aku memperlama shalat karena takut mati, niscaya aku akan memperlama shalatku.”

Kemudia Said melihat kaumnya dengan kedua mata kepalanya mencincang jasad Khubaib sepotong demi sepotong padahal Khubaib masih hidup, sambil berkata, “Apakah kamu ingin Muhammad ada di tempatmu ini sedangkan kamu selamat?[1]

Khubaib menjawab sementara darah menetes dari jasadnya, “Demi Allah, aku tidak ingin berada di antara keluarga dan anak-anakku dalam keadaan aman dan tenang sementara Muhammad tertusuk oleh sebuah duri.”

Maka orang banyak pun mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi ke udara, teriakan mereka gegap gempita menggema di langit.

Di saat itu Said bin Amir melihat Khubaib mengangkat pandangannya ke langit dari atas tiang salib dan berkata, “Ya Allah, balaslah mereka satu persatu, bunuhlah mereka sampai habis, dan jangan biarkan seorang pun dari mereka hidup dengan aman.”

Akhirnya Khubaib pun menghembuskan nafas terakhirnya, dan tidak ada seorang pun yang mampu melindunginya dari tebasan pedang dan tusukan tombak orang-orang kafir.

Orang-orang Quraisy kembali ke Mekah, mereka melupakan Khubaib dan kematiannya bersama dengan datangya peristiwa demi peristiwa besar yang mereka hadapi.

Namun tiak dengan anak muda yang baru tumbuh ini, Said bin Amir, Khubaib tidak pernah terbenam dari benaknya sesaat pun.

Said melihatnya dalam mimpinya ketika dia tidur, membayangkannya dalam khayalannya ketika dia terjaga, berdiri di depannya ketika dia shalat dua rakaat dengan tenang dan tenteram di depan kayu salib, Said mendengar bisikan suaranya di keua telinganya ketika dia berdoa atas orang-orang Quraisy, maka dia khawatir sebuah halilintar akan menyambar atau sebuah batu dari langit akan jatuh menimpanya.

Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan sesuatu kepada Said tentang persoalan besar yang belum dia ketahui selama ini.

Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan kepadanya bahwa kehidupan sejati adalah jihad di jalan akidah yang diyakininya sampai mati.

Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan kepadanya bahwa iman yang terpancang kuat bisa melahirkan dan menciptakan keajaiban-keajaiban.

Khubaib mengajarkan kepadanya perkara lainnya, yaitu seorang laki-laki yang dicintai sedemikian rupa oleh para sahabatnya adalah seorang nabi yang di dukung oleh kekuatan dan pertolongan langit.

Pada saat itu Allah Ta’ala membuka dada Said bin Amir kepada Islam, maka dia berdiri di hadapan sekumpulan orang banyak, mengumumkan bahwa dirinya berlepas diri dari dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan orang Quraisy, menanggalkan berhala-berhala dan patung-patung menyatakan diri sebagai seorang muslim.

Said bin Amir al-Jumahi berhijrah ke Madinah tinggal bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ikut bersama beliau dalam perang khaibar dan peperangan lain sesudahnya.

Manakala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia dipanggil menghadap keharibaan Rabbbnya alam keadaan ridha, Said bin Amir tetap menjadi sebilah pedang yang terhunus di tangan para khalifah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar. Said bin Amir hidup sebagai contoh menawan lagi mengagumkan bagi setiap mukmin yang telah membeli akhirat dengan dunia, mementingkan ridha Allah dan pahalaNya di atas segala keinginan jiwa dan hawa nafsu.

Dua orang khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenal kejujuran Said dan ketakwaannya, keduanya mendengar nasihatnya dan mencamkan kata-katanya.

Said datang kepada Umar bin al-Khatthab di awal khilafahnya, dia berkata, “Wahai Umar, aku berpesan kepadamu agar kamu bertakwa kepada Allah dalam bermuamalah dengan manusiadan jangan takut kepada manusia dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah. Janganlah kata-katamu menyelisihi perbuatanmu, karena kata-kata yang baik adalah yang dibenarkan oleh perbuatan. Wahai Umar, perhatikanlah orang-orang yang Allah Ta’ala telah menyerahkan perkara mereka kepadamu, baik mereka dari kalangan kaum muslimin yang dekat maupun yang jauh, cintailah sesuatu yang bermanfaat untuk dirimu dan keluargamu, bencilah sesuatu yang mereka alami, yang kamu pun benci apabila hal itu terjadi kepada dirimu dan keluargamu, hadapilah kesulitan-kesulitan untuk menuju pada kebenaran dan jangan takut celaan orang-orang yang mencela ketika engkau berbuat ketaatan kepada Allah.”

Maka Umar menjawab, “Siapa yang mampu melakukannya wahai Said?”

Said berkata, “Hal itu bisa dilakukan oleh orang-orang sepertimu yang Allah Ta’ala serahi perkara umat Muhammad dan di antara dia dengan Allah tidak terdapat seorang pun.”

Pada saat itu Umar mengundang Said untuk mendukungnya, Umar berkata, “Wahai Said, aku menyerahkan kota Himsh kepadamu.” Maka Said menjawab, “Wahai Umar, dengan nama Allah aku memohon kepadamu agar mencoret namaku.”

Maka Umar marah, dia berkata, “Celaka kalian, kalian meletakkan perkara ini di pundakku kemudian kalian berlari dariku. Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu.”

Umar mengangkat Said sebagai gubernur Himsh, Umar bertanya kepadanya, “Aku akan mentapkan gaji untukmu.”

Said menjawab, “Apa yang aku lakukan dengan gaji itu wahai Amirul Mukminin? Pemberian dari baitul maal kepadaku melebihi kebutuhanku.” Said pun berangkat ke Himsh menunaikan tugasnya.

Tidak lama berselang, Amirul Mukminin Umar bin Khatthab didatangi oleh orang-orang yang bisa dipercaya dari penduduk Himsh, Umar berkata kepada mereka, “Tulislah nama penduduk miskin dari Himsh agar aku bisa membantu mereka.”

Mereka menulis dalam sebuah lembaran, di dalamnya tercantum nama fulan dan fulan serta Said bin Amir.

Umar bertanya, “Siapa Said bin Amir?”

Mereka menjawab, “Gubernur kami.”

Umar menegaskan, “Gubernur kalian miskin?”

Mereka menjawab, “Benar di rumahnya tidak pernah dinyalakan api dalam waktu yang cukup lama.”

Maka Umar menangis hingga air matanya membasahi janggutnya, kemudia dia mengambil seribu dinar dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong. Umar berkata, “Sampaikan salamku kepadanya dan katakana kepadanya bahwa Amirul Mukminin mengirimkan harta ini agar kamu bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhanmu.”

Delegasi pun pulang dan mendatangi rumah Said dengan menyerahkan kantong dari Umar bin Khatthab. Said melihatnya dan ternyata isinya adalah dinar, maka dia menyingkirkannya seraya berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Seolah-olah Said sedang ditimpa musibah besar atau perkara berat.

Istrinya datang tergopoh-gopoh dengan penuh kecemasan, dia berkata, “Apa yang terjadi wahai Said? Apakah Amirul Mukimin wafat?”

Said menjawab, “Lebih besar dari itu.”

Istrinya bertanya, “Aa yang lebih besar ?”

Said menjawab, “Dunia datang kepadaku untuk merusak akhiratku, sebuat fitnah telah menerpa rumahku.”

Istrinya berkata, “Engkau harus berlepas diri darinya,” Dia belum mengerti apa pun terkait dengan perkara dinar tersebut.

Said bertanya, “Kamu bersedia membantuku?”

Istrinya menjawab, “Ya”

Maka Said mengambil dinar itu, memasukkannya ke dalam kantong-kantong dan membagi-baginya kepada kaum muslimin yang miskin.

Tidak berselang lama setelah itu, Umar bin al-Khatthab datang ke negeri Syam untuk mengetahui keadaannya. Ketika Umar tiba di Himsh, kota ini juga dikenal dengan Kuwaifah, bentuk kecil dari Kufah, kota Himsh disamakan dengan Kufah karena banyaknya keluhan penduduknya terhadap para gubernurnya seperti yang dilakukan oleh orang-orang Kufah, ketika Umar tiba di sana, orang-orang Himsh bertemu dengan Umar untuk memberi salam kepadanya. Umar bertanya, “Bagaimana dengan gubernur kalian?”

Maka mereka mengadukannya dan menyebutkan empat hal dari sikapnya, yang satu lebih besar daripada yang lain.

Umar berkata, “Maka aku mengumpulkan mereka dengan pribadi Sa’id sebagai gubernur mereka dalam sebuah majelis, aku memohon kepada Allah agar dugaanku kepadanya selama ini tidak salah, aku sangat percaya kepadanya. Ketika mereka dengan gubernur mereka berada di hadapanku, aku berkata, “Apa keluhan kalian terhadap gubernur kalian?”

Mereka menjawab, “Dia tidak keluar kepada kami kecuali ketika siang sudah naik.”

Aku berkata, “Apa jawabanmu wahai Said?”

Said diam sesaat kemudian berkata, “Demi Allah, aku sebenarnya tidak suka mengatakan hal ini, akan tetapi memang harus dikatakan. Keluargaku tidak mempunyai pembantu. Setiap pagi aku menyiapkan adonan mereka, kemudian aku menunggunya beberapa saat sampai ia mengembang, kemudian aku membuat roti untuk mereka, kemudian aku berwudhu dan keluar untuk masyarakat.”

Umar berkata, aku pun berkata kepada mereka, “Apa yang kalian keluhkan darinya juga?”

Mereka menjawab, “Dia tidak menerima seorang pun di malam hari.”

Said berkata, “Demi Allah, aku juga malu mengatakan hal ini. Aku telah memberikan siang bagi mereka, sedangkan malam maka aku memberikannya kepada Allah Ta’ala.

Aku bertanya, “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?”

Mereka menjawab, “Dia tidak keluar menemui kami satu hari dalam sebulan.”

Aku bertanya, “Bagaimana penjelasanmu wahai Said?”

Said menjawab, “Aku tidak mempunyai wahai Amirul Mukminin, aku pun tidak mempunyai pakaian selain yang melekat di tubuhku ini. Aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan menunggu sampai kering, baru kemudian aku keluar di sore hari.”

Kemudian aku bertanya, “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?”

Mereka menjawab, “Terkadang ia jatuh pingsan sehingga tidak ingat terhadap orang-orang di sekitarnya.”

Aku bertanya, “Bagaimana penjelasanmu wahai Said?”

Said menjawab, “Aku menyaksikan kematian Khubaib bin Adi ketika aku masih musyrik, aku melihat orang-orang Quraisy mencincang jasadnya sambil berkata kepadanya, ‘Apakah kamu ingin Muhammad ada di tempatmu ini?’ Lalu dia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak ingin berada di antara keluarga dan anak-anakku dalam keadaan tenang sedangkan Muhammad tertusuk oleh sebuah duri.’ Demi Allah setiap aku teringat hari itu, yakni ketika aku membiarkannya dan tidak menolongnya sehingga aku senantiasa dikejar ketakutan bahwa Allah tidak akan mengampuniku, maka aku pun pingsan.”

Saat itu Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang membenarkan dugaanku kepadamu.”

Kemudian Umar memberinya seribu dinar agar dia gunakan untuk memenuhi kebutuhannya.

Istrinya melihatnya, dia pun berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mencukupkan kami dari pelayananmu, belilah kebutuhan kami dan ambillah seorang pelayan.”

Said berkata kepadanya, “Apakah kamu mau aku tunjukkan kepada yang lebih baik dari itu? Istrinya balik bertanya, “Apa itu?”

Said berkata, “Kita memberikan hatra tersebut kepada yang memberikannya kepada kita, kita lebih memerlukan hal (amalan) itu.”

Istrinya bertanya, “Apa maksudmu?”

Said menjawab, “Kita berikan kepada Allah dengan cara yang baik.”

Istrinya berkata, “Setuju dan semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”

Said tidak meninggalkan majelisnya hingga dia membagi dinar tersebut di beberapa kantong, lalu dia berkata kepada salah seorang anggota keluarganya, “Berikanlah ini kepada janda fulan, berikanlah ini kepada anak-anak yatim fulan, berikanlah ini kepada keluarga fulan, berikanlah ini kepada orang-orang miskin dari keluarga fulan.”

Semoga Allah meridhai Said bin Amir al-Jumahi, dia termasuk orang-orang yang mementingkan saudaranya sekalipun dia sendiri memerlukan.[2]

Kisah Sahabat Sa’d bin Abi Waqash

“Aku adalah orang ketiga yang memeluk Islam, dan orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah,”

Demikianlah Sa’ad bin Abi Waqqash mengenalkan dirinya. Ia adalah orang ketiga yang memeluk Islam, dan orang pertama yang melepaskan anak panah dari busurnya di jalan Allah.

Sa’ad bin Abi Waqqash bin Wuhaib bin Abdi Manaf hidup di tengah-tengah Bani Zahrah yang merupakan paman Rasulullah SAW. Wuhaib adalah kakek Sa’ad dan paman Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah.

Sa’ad dikenal orang karena ia adalah paman Rasulullah SAW.  Dan beliau sangat bangga dengan keberanian dan kekuatan, serta ketulusan iman Sa’ad. Nabi bersabda, “Ini adalah pamanku, perlihatkan kepadaku paman kalian!”

Keislamannya termasuk cepat, karena ia mengenal baik pribadi Rasulullah SAW. Mengenal kejujuran dan sifat amanah beliau. Ia sudah sering bertemu Rasulullah sebelum beliau diutus menjadi nabi. Rasulullah juga mengenal Sa’ad dengan baik. Hobinya berperang dan orangnya pemberani. Sa’ad sangat jago memanah, dan selalu berlatih sendiri.

Kisah keislamannya sangatlah cepat, dan ia pun menjadi orang ketiga dalam deretan orang-orang yang pertama masuk Islam, Assabiqunal Awwalun.

Sa’ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibunya. Sedemikian dalam sayangnya Sa’ad pada ibunya, sehingga seolah-olah cintanya hanya untuk sang ibu yang telah memeliharanya sejak kecil hingga dewasa, dengan penuh kelembutan dan berbagai pengorbanan.

Ibu Sa’ad bernama Hamnah binti Sufyan bin Abu Umayyah adalah seorang wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy, yang memiliki wajah cantik dan anggun. Disamping itu, Hamnah juga seorang wanita yang terkenal cerdik dan memiliki pandangan yang jauh. Hamnah sangat setia kepada agama nenek moyangnya; penyembah berhala.

Pada suatu hari, Abu Bakar Ash-Shiddiq mendatangi Sa’ad di tempat kerjanya dengan membawa berita dari langit tentang diutusnya Muhammad SAW, sebagai Rasul Allah. Ketika Sa’ad menanyakan, siapakah orang-orang yang telah beriman kepada Muhammad SAW. Abu Bakar mengatakan dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

Seruan ini mengetuk kalbu Sa’ad untuk menemui Rasulullah SAW, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia pun memeluk agama Allah pada saat usianya baru menginjak 17 tahun. Sa’ad termasuk dalam deretan lelaki pertama yang memeluk Islam selain Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar As Siddiq dan Zaid bin Haritsah.

Setelah memeluk Islam, keadaannya tidak jauh berbeda dengan kisah keislaman para sahabat lainnya. Ibunya sangat marah dengan keislaman Sa’ad. “Wahai Sa’ad, apakah engkau rela meninggalkan agamamu dan agama bapakmu, untuk mengikuti agama baru itu? Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum sebelum engkau meninggalkan agama barumu itu,” ancam sang ibu.

Sa’ad menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku!”

Sang ibu tetap nekat, karena ia mengetahui persis bahwa Sa’ad sangat menyayanginya. Hamnah mengira hati Sa’ad akan luluh jika melihatnya dalam keadaan lemah dan sakit. Ia tetap mengancam akan terus melakukan mogok makan.

Namun, Sa’ad lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. “Wahai Ibunda, demi Allah, seandainya engkau memiliki 70 nyawa dan keluar satu per satu, aku tidak akan pernah mau meninggalkan agamaku selamanya!” tegas Sa’ad.

Akhirnya, sang ibu yakin bahwa anaknya tidak mungkin kembali seperti sedia kala. Dia hanya dirundung kesedihan dan kebencian.

Allah SWT mengekalkan peristiwa yang dialami Sa’ad dalam ayat Al-Qur’an, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15).

Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW, sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menatap ke langit seolah mendengar bisikan malaikat. Kemudian Rasulullah kembali menatap mereka dengan bersabda, “Sekarang akan ada di hadapan kalian seorang laki-laki penduduk surga.”

Mendengar ucapan Rasulullah SAW, para sahabat menengok ke kanan dan ke kiri pada setiap arah, untuk melihat siapakah gerangan lelaki berbahagia yang menjadi penduduk surga. Tidak lama berselang datanglah laki-laki yang ditunggu-tunggu itu, dialah Sa’ad bin Abi Waqqash.

Disamping terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Sa’ad bin Abi Waqqash juga terkenal karena keberaniannya dalam peperangan membela agama Allah. Ada dua hal penting yang dikenal orang tentang kepahlawanannya. Pertama, Sa’ad adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Ia hampir selalu menyertai Nabi Saw dalam setiap pertempuran.

Kedua, Sa’ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah SAW dengan jaminan kedua orang tua beliau. Dalam Perang Uhud, Rasulullah SAW bersabda, “Panahlah, wahai Sa’ad! Ayah dan ibuku menjadi jaminan bagimu.”

Sa’ad bin Abi Waqqash juga dikenal sebagai seorang sahabat yang doanya senantiasa dikabulkan Allah. Qais meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdoa.”

Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Sa’ad bin Abi Waqqash adalah ketika ia memasuki usia 80 tahun. Dalam keadaan sakit, Sa’ad berpesan kepada para sahabatnya agar ia dikafani dengan jubah yang digunakannya dalam Perang Badar—perang kemenangan pertama untuk kaum Muslimin.

Pahlawan perkasa ini menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 55 H dengan meninggalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para syuhada.

Kisah Sahabat Rabi’ah Bin Ka’b

Pertama kali berjumpa dengan Rasulullah saw, ia langsung jatuh cinta dan menyerahkan seluruh jiwa raganya; menjadi pendamping beliau. Kemana pun beliau pergi, Rabi’ah bin Ka’ab selalu berada di sampingnya.

Rabi’ah melayani segala keperluan Rasulullah sepanjang hari hingga habis waktu Isya’ yang terakhir. Bahkan lebih dari itu, ketika Rasulullah hendak berangkat tidur, tak jarang Rabi’ah mendekam berjaga di depan pintu rumah beliau. Di tengah malam, ketika Nabi SAW bangun untuk melaksanakan shalat, seringkali ia mendengar beliau membaca Al-Fatihah dan ayat-ayat Alquran.

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw, jika seorang berbuat baik kepadanya, maka beliau pasti membalasnya dengan lebih baik lagi. Begitulah, beliau membalas kebaikan Rabi’ah dengan kebaikan pula.

Pada suatu hari beliau memanggilnya seraya berkata, “Wahai Rabi’ah bin Ka’ab, katakanlah permintaanmu, nanti kupenuhi!”

Setelah diam sejenak, Rabi’ah menjawab, “Ya Rasulullah, berilah saya sedikit waktu untuk memikirkan apa sebaiknya yang akan kuminta. Setelah itu, akan kuberitahukan kepada Anda.”

“Baiklah kalau begitu,” jawab Rasulullah.

Rabi’ah bin Ka’ab adalah seorang pemuda miskin, tidak memiliki keluarga, harta dan tempat tinggal. Ia menetap di Shuffatul Masjid (emper masjid), bersama-sama dengan kawan senasibnya, yaitu orang-orang fakir dari kaum Muslimin. Masyarakat menyebut mereka “dhuyuful Islam” (tamu-tamu) Islam. Bila ada yang memberi hadiah kepada Rasulullah, maka biasanya beliau memberikannya kepada mereka. Rasulullah hanya mengambil sedikit saja.

Dalam hati, Rabi’ah bin Ka’ab ingin meminta kekayaan dunia agar terbebas dari kefakiran. Ia ingin punya harta, istri, dan anak seperti para sahabat yang lain. Namun, hati kecilnya berkata, “Celaka engkau, wahai Rabi’ah bin Ka’ab! Kekayaan dunia akan lenyap. Mengapa engkau tidak meminta kepada Rasulullah agar mendoakan kepada Allah kebajikan akhirat untukmu?”

Hatinya mantap dan merasa lega dengan permintaan seperti itu. Kemudian ia datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya mohon agar engkau mendoakan kepada Allah agar menjadi temanmu di surga.”

Agak lama juga Rasulullah SAW terdiam. Sesudah itu barulah beliau berkata, “Apakah tidak ada lagi permintaamu yang lain?”

“Tidak, ya Rasulullah. Tidak ada lagi permintaan yang melebihi permintaanku,” jawab Rabi’ah bin Ka’ab mantap.

“Kalau begitu, bantulah aku dengan dirimu sendiri. Perbanyaklah sujud,” kata Rasulullah.

Sejak itu, Rabi’ah bersungguh-sungguh beribadah, agar mendapatkan keuntungan menemani Rasulullah di surga, sebagaimana keuntungannya melayani beliau di dunia. Tidak berapa lama kemudian Rasulullah SAW memanggilnya. “Apakah engkau tidak hendak menikah, hai Rabi’ah?” tanya beliau.

“Saya tak ingin ada sesuatu yang menggangguku dalam berkhidmat kepada Anda, ya Rasulullah. Di samping itu, saya tidak mempunyai apa-apa untuk mahar kawin, dan untuk kelangsungan hidup berumah tangga,” jawab Rabi’ah.

Rasulullah diam sejenak. Tidak lama kemudian beliau memanggil Rabi’ah kembali seraya bertanya, “Apakah engkau tidak hendak menikah, ya Rabi’ah?”

Dan Rabi’ah kembali menjawab seperti seperti semula. Hingga ketiga kalinya Rasulullah memanggil dan bertanya serupa. Rabi’ah menjawab, “Tentu, ya Rasulullah. Tetapi, siapakah yang mau kawin denganku, keadaanku seperti yang Anda maklumi.”

“Temuilah keluarga Fulan. Katakan kepada mereka bahwa Rasulullah menyuruhmu kalian supaya menikahkan anak perempuan kalian, si Fulanah dengan engkau.”

Dengan malu-malu Rabi’ah datang ke rumah mereka dan menyampaikan maksud kedatangannya. Tuan rumah menjawab, “Selamat datang ya Rasulullah, dan dan selamat datang utusan Rasulullah. Demi Allah, utusan Rasulullah tidak boleh pulang, kecuali setelah hajatnya terpenuhi!”

Rabi’ah bin Ka’ab kemudian menikah dengan anak gadis tersebut. Dan Rasulullah juga menghadiahkan sebidang kebun kepadanya, berbatasan dengan kebun Abu Bakar Ash-Shiddiq. Suatu ketika, Rabi’ah sempat berselisih dengan Abu Bakar mengenai sebatang pohon kurma. Rabi’ah mengaku pohon kurma itu miliknya, sementara Abu Bakar juga mengakui hal yang sama.

Ketika perselisihan memanas, Abu Bakar sempat mengucapkan kata-kata yang tak pantas didengar. Setelah sadar atas ketelanjurannya mengucapkan kata-kata tersebut, Abu Bakar menyesal dan berkata kepada Rabi’ah, “Hai Rabi’ah, ucapkan pula kata-kata seperti yang kulontarkan kepadamu, sebagai hukuman (qishash) bagiku!”

Rabi’ah menjawab, “Tidak! Aku tidak akan mengucapkannya!”

“Akan kuadukan kamu kepada Rasulullah, kalau engkau tidak mau mengucapkannya!” kata Abu Bakar, lalu pergi menemui Rasulullah SAW.

Rabi’ah mengikutinya dari belakang. Kerabat Rab’iah dari Bani Aslam berkumpul dan mencela sikapnya. “Bukankah dia yang memakimu terlebih dahulu? Kemudian dia pula yang mengadukanmu kepada Rasulullah?” kata mereka.

Rabi’ah menjawab, “Celaka kalian! Tidak tahukah kalian siapa dia? Itulah “Ash-Shiddiq”, sahabat terdekat Rasulullah dan orang tua kaum Muslimin. Pergilah kalian segera sebelum dia melihat kalian ramai-ramai di sini. Aku khawatir kalau-kalau dia menyangka kalian hendak membantuku dalam masalah ini sehingga dia menjadi marah. Lalu dalam kemarahannya dia datang mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah pun akan marah karena kemarahan Abu Bakar. Kemarahan mereka berdua adalah kemarahan Allah. Akhirnya, aku yang celaka?”

Mendengar kata-kata Rabi’ah, mereka pun pergi. Abu Bakar bertemu dengan Rasululah SAW dan menuturkan apa yang terjadi. Rasulullah mengangkat kepala seraya bertanya pada Rabi’ah, “Apa yang terjadi antara kau dengan Ash-Shiddiq?”

“Ya Rasulullah, beliau menghendakiku mengucapkan kata-kata makian kepadanya, seperti yang diucapkannya kepadaku. Tetapi, aku tidak mau mengatakannya,” jawab Rabi’ah.

Kata Rasulullah, “Bagus! Jangan ucapkan kata-kata itu. Tetapi katakanlah, semoga Allah mengampuni Abu Bakar!”

Rabi’ah pun mengucapkan kata-kata itu. Mendengar kata-kata Rabi’ah, Abu bakar pergi dengan air mata berlinang, sambil berucap, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai Rabi’ah.” Mereka pun hidup rukun kembali.

Kisah Sahabat Nu’aim bin Mas’ud

Pada masa mudanya, Nu’aim bin Mas’ud adalah seorang yang mahir dalam segala bidang. Ia terlahir dari sebuah keluarga saudagar yang cukup makmur di Nejed, kota kecil di pinggiran Makkah.

Nu’aim terlahir sebagai seorang suku Ghathafan dari keluarga yang terpandang. Di usia muda, ia cukup sering berdagang dari Makkah ke Madinah. Namun, dari kegiatan itulah ia pun menjadi tahu akan hal-hal yang menyangkut kemaksiatan dan kesenangan di kota itu.

Dengan pemahamannya yang cukup akan kesenangan yang ditawarkan Madinah, ia menjadi seorang yang cukup sering pergi ke kota itu demi mencari kesenangan dunia yang ditawarkan oleh kaum Yahudi di sana, terutama Bani Quraizhah. Oleh sebab itu, ia sangat dikenal oleh orang-orang di Madinah. Dan mereka pun menyukai Nu’aim.

Pada saat itu, Nu’aim tidak ambil pusing dengan dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Saat Rasulullah dan para sahabatnya memulai hijrah ke Madinah, barulah Nu’aim merasa terganggu dan terusik.

Ketika kaum Yahudi Bani Nadhir—yakni kaum Yahudi dari sekitar Madinah—mulai bergerak dan memprovokasi kaum Quraisy di Makkah dan di Nejed untuk memerangi Rasulullah dan pengikutnya di Madinah, dengan segera bani Ghathafan di Nejed menyambut baik usulan tersebut.

Saat itu, Nu’aim termasuk salah satu tokoh Bani Ghathafan yang ikut dalam pasukan Bani Ghathafan di bawah kepemimpinan Uyaynah bin Hishn Al-Ghethfan. Selain membujuk kaum Quraisy di Makkah dan Bani Ghathafan di Nejed, para Yahudi Bani Nadhir juga mengompori suku Yahudi yang tinggal di Madinah, yakni Bani Quraidzah.

Saat itu Bani Quraidzah menolak usulan Bani Nadhir, karena mereka terikat perjanjian damai dengan kaum Muslimin. Namun, para pemimpin Bani Nadhir pandai merayu Bani Quraizhah agar membatalkan perjanjian tersebut secara sepihak. “Kali ini Muhammad pasti kalah,” kata mereka. Bani Quraizhah pun manut saja.

Berita tentang datangnya ribuan pasukan dari arah Makkah dan tentang pemutusan perjanjian sepihak oleh Bani Quraidzah segera terdengar dengan cepat ke Madinah. Orang-orang munafik yang berada di tengah-tengah kaum Muslimin mulai membuka kedok.

Banyak dari mereka dengan terang-terangan meninggalkan Madinah dengan alasan takut akan hal buruk yang tiba-tiba menimpa keluarga mereka jika mendadak Bani Quraidzah menyerang. Sampai saat itu, jumlah kaum Muslimin yang siap mempertahankan Kota Madinah hanya sekitar 900 orang prajurit.

Sampai pada suatu malam, setelah kira-kira 20 hari dalam pengepungan, Rasulullah saw berdoa, mengadu kepada Allah dengan sungguh-sungguh. “Ya Allah, aku memohon pertolongan-Mu sesuai dengan apa yang Engkau Janjikan.”

Sementara itu, jauh dari tempat Nabi saw bermunajat, seorang tokoh Bani Ghathafan, Nu’aim bin Mas’ud, tengah berbaring dalam tendanya dengan gelisah. Ia merasa apa yang dilakukannya adalah suatu kebenaran. Namun, dalam hatinya ia merasa bersalah.

“Sungguh, alangkah bodohnya diriku. Selama ini, hidupku dipenuhi dengan kesenangan yang menipu dan kegembiraan sesaat. Namun, mengapa kini aku  melawan Muhammad yang katanya bisa mengajarkan kehidupan yang dipenuhi ketenteraman yang abadi? Bukankah aku tetap tidak ingin kembali ke kehidupanku yang sebelumnya?” Nu’aim mendapat hidayah Allah SWT.

Malam itu juga, ia memacu kudanya dan menuju ke dekat kota Madinah. Sesampainya di sana, ia meminta izin untuk bertemu dengan Rasulullah saw bukan sebagai musuh.

Ketika Rasulullah melihatnya Nu’aim berdiri di hadapannya, beliau bertanya, “Engkau Nu’aim bin Mas’ud?”

“Betul, wahai Rasulullah,” jawab Nu’aim.

“Apa yang mendorongmu datang ke sini pada saat seperti ini?” tanya beliau.

“Aku datang untuk menyatakan pengakuanku. Tidak ada Tuhan selain Allah dan seusungguhnya engkau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku mengakui agama yang engkau bawa sesungguhnya benar,” jawab Nu’aim sungguh-sungguh.

Kemudian ia melanjutkan kata-katanya, “Wahai Rasulullah, sungguh aku telah benar-benar masuk Islam. Dan kaumku tidak mengetahui bahwa aku telah masuk Islam. Perintahkanlah kepadaku perintah apa saja yang dapat aku laksanakan!”

Rasulullah menjawab, “Engkau hanya seorang dari pihak kami, kembalilah kepada kaummu! Dan jika kamu sanggup, takut-takutilah mereka bahwa sesungguhnya mereka lemah dan kami kuat. Sesungguhnya perang itu adalah tipu daya.”

“Saya siap, wahai  Rasulullah. Insya Allah engkau akan segera melihat sesuatu yang menggembirakan,” janji Nu’aim.

Setelah itu, Nu’aim segera berangkat menuju ke kubu Bani Quraidzah, yang telah menjadi sahabat baiknya sampai saat ini. Ia berhasil meyakinkan mereka untuk tidak dalam pertempuran melawan Rasulullah SAW.

“Jangan kalian bantu mereka (Quraiys) memerangi Muhammad sebelum kalian minta jaminan kepada kedua sekutu kalian itu, yakni pemuka-pemuka atau bangsawan-bangsawan terpandang dari mereka sebagai jaminan atas peperangan ini. Sampai kalian memenangkan peperangan ini dan menguasai negeri ini, atau kalian mati bersama-sama dengan mereka,” saran Nu’aim. Bani Quraizhah pun menerima saran itu.

Setelah itu, Nu’aim segera beranjak menuju kubu Quraisy dan Ghathafan di luar Kota Madinah. Ia segera menemui pimpinan Quraisy, Abu Sufyan bin Harb, yang saat itu dikelilingi para pembesar Quraiys. Ia berhasil merayu mereka agar tidak melanjutkan serangan bersama. Nu’aim mengatakan bahwa Bani Quraizhah menyesal memutusan perjanjian dengan Muhammad SAW, dan malah mereka akan membantu Rasulullah menghadapi pasukan Ahzab.

Mendengar penjelasan Nu’aim, Abu Sufyan berkata, “Kau adalah sekutu kami yang baik. Semoga kamu mendapat balasan yang baik pula.”

Hal yang sama dilakukan juga oleh Nu’aim kepada Kaumnya, yakni Bani Ghathafan. Dan setelah yakin bahwa Pasukan Ahzab tidak akan melancarkan serangan apa pun kepada kaum Muslimin. Diam-diam Nu’aim pergi ke Madinah dan bergabung dengan pasukan Rasulullah.

Sementara itu, datanglah pertolongan Allah yang dijanjikan kepada Nabi-Nya, berupa badai pasir yang meluluh-lantakkan tenda-tenda dan menakut-nakuti hewan tunggangan kaum Quraisy. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menghentikan pengepungan dan kabur ke negeri masing-masing dengan kekalahan yang memalukan.

“Dan Allah mengusir orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25).

Demikianlah, strategi yang dilancarkan Nu’aim membuahkan hasil seperti yang diperkirakannya. Semenjak itu, Nu’aim bin Mas’ud menjadi Muslim yang taat dan pulang ke negerinya (Ghathafan) dan mulai berdakwah di sana.

Banyak orang-orang Ghathafan yang akhirnya masuk Islam setelah mendengar dakwah Nu’aim. Dan menjelang penaklukan Makkah, Nu’aim dengan segera berbaiat dan mengajukan pasukan dari Bani Ghathafan di bawah komandonya untuk mengabdi kepada Rasulullah dan membantu menaklukkan Kota Makkah.

Kisah Sahabat Muadz bin Jabal

Dialah yang disebut oleh Nabi Muhammad sebagai orang yang paling tahu tentang halal dan haram. Dialah Muadz bin Jabal al-Anshari radhiallahu ‘anhu.

Mengenal Muadz

Nama dan nasabnya adalah Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus. Kabilah Aus merupakan salah satu kabilah besar yang terpandang di Kota Madinah. Adapun kun-yahnya adalah Abu Abdurrahman. Ia memeluk Islam di usia masih sangat belia, 18 tahun. Di antara peristiwa bersejarah yang melibatkan namanya adalah peristiwa Baiat Aqabah. Muadz bersama 70 orang Yatsrib lainnya berjanji akan menyediakan tempat baru di negeri mereka, kalau Rasulullah dan para sahabat benar-benar akan berhijrah. Ia turut serta pula dalam Perang Badar dan seluruh perang yang diikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sini kita mengetahui, usia muda bukanlah penghalang untuk taat kepada Allah. Bukan penghalang melakukan amalan besar di dunia dan akhirat.

Muadz bin Jabal merupakan pemuda yang memiliki kedudukan besar di hati Nabi. Di antara hal yang menunjukkan hal itu adalah Nabi pernah memboncengnya. Pernah memegang tangannya sambIl berkata,

يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ

“Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.” (HR. Abu Daud no. 1522 dan An Nasai no. 1304. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Walaupun usia Muadz masih sangat muda, ia memiliki wawasan keislaman yang luas. Buktinya Nabi mengutusnya berdakwah ke Yaman setelah Perang Tabuk. Beliau antar Muadz ke ujung jalan sambil berjalan kaki, sementara Muadz berada di tunggangan.

Di antara anak-anaknya adalah Abdurrahman, Ummu Abdullah, dan anak-anak lainnya yang tidak disebutkan oleh sejarawan nama-nama mereka.

Dari Abu Bahriyah Yazid bin Qutaib as-Sakuni, ia berkata, “Aku memasuki Masjid Homs (salah satu kota di Suriah sekarang). Kulihat seorang pemuda keriting dikelilingi orang-orang. Kalau ia berbicara, seakan cahaya dan mutiara keluar dari lisannya. Aku bertanya, Siapa orang itu?” Orang-orang menjawab, “Muadz bin Jabal.” (Hilyatul Auliya oleh Abu Nu’aim, No: 815)

Dari Abu Muslim al-Khaulani, ia berkata, “Aku memasuki Masjid Damaskus. Ternyata kulihat ada sebuah halaqah besar diampu oleh salah seorang sahabat Nabi Muhammad. Ternyata ia seorang pemuda. Ia bercelak mata. Gigi serinya putih bersih. Jika orang-orang berbeda pendapat tentang satu hal mereka tanyakan pada pemuda tersebut. Aku bertanya pada orang di sebelahku, ‘Siapa dia?’” Mereka menjawab, “Itu adalah Muadz bin Jabal.” (Hilyatul Auliya oleh Abu Nu’aim, No: 813).

Dari al-Waqidi, guru-gurunya menyampaikan, “Muadz adalah seorang yang tinggi, putih, rambutnya indah, matanya besar, alisnya bersambung, dan berisi badannya.” (Shifatu ash-Shafwah, 1/186).

Kedekatan dengan Nabi

Sejak Nabi hijrah ke Madinah, Muadz intens berguru pada Nabi (mulazamah). Ia belajar Alquran dan ilmu-ilmu syariat langsung dari sumbernya. Hingga ia menjadi seorang yang paling fasih bacaan Alqurannya di antara para sahabat. Dan termasuk yang paling berilmu tentang hukum-hukum agama. Muadz merupakan salah satu dari enam penghafal Alquran terbaik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata, “Suatu hari, Rasulullah menggamit tanganku. Beliau bersabda,

يا معاذ، والله إني لأحبك

“Hai Muadz, demi Allah sungguh aku benar-benar mencintaimu.”

Aku menjawab,

بأبي أنت وأمي، والله إني لأحبك

“Ibu dan ayahku menjadi tebusan, demi Allah sungguh aku juga benar-benar mencintaimu.”

Beliau bersabda,

يا معاذ، إني أوصيك، لا تدعَنَّ أن تقول دبر كل صلاة: اللهم أعنِّي على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

“Hai Muadz, aku ingin memberi wasiat padamu. Jangan sampai kau lewatkan untuk membaca di setiap usai shalat, ‘Allahumma A’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu).” (Hadits Shahih riwayat Abu Dawud).

Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Muadz bin Jabal hendak bersafar.

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص، أن معاذ بن جبل أراد سفرًا فقال: يا نبي الله، أوصني. قال: “اعبد الله لا تشرك به شيئًا”. قال: يا نبي الله، زدني. قال: “إذا أسأت فأحسن”. قال: يا رسول الله، زدني. قال: “استقم وليحسن خلقك”.

Muadz berkata, “Wahai Nabi Allah, beri aku wasiat.” Nabi bersabda, “Sembahlah Allah dan jangan kau sekutukan dengan sesuatu apapun.” Muadz kembali berkata, “Wahai Nabi Allah, tambahkan lagi.” Beliau bersabda, “Jika kau meminta (bertanya), lakukanlah dengan baik.” “Tambahkan lagi”, pinta Muadz. “Istiqomahlah dan perbaguslah akhlakmu.” (Shahih Ibnu Hibban, Kitab al-Bir wa al-Ihsan, No: 529).

Pujian Rasulullah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang selektif dalam memuji. Beliau memberi pujian bukan sekadar basa-basi. Karena pujian beliau adalah sebuah rekomendasi. Menunjukkan bahwa orang yang dipuji bisa dijadikan rujukan bagi umatnya. Di antara sahabat yang banyak dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أعلم أمتي بالحلال والحرام معاذ بن جبل

“Umatku yang paling tahu tentang halal dan haram adalah Muadz bin Jabal.” (HR. Turmudzi 4159, Ibn Hibban 7137 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نعم الرجل أبو بكر، نعم الرجل عمر، نعم الرجل أبو عبيدة، نعم الرجل أسيد بن حُضير، نعم الرجل ثابت بن قيس بن شماس، نعم الرجل معاذ بن عمرو بن الجموح، نعم الرجل معاذ بن جبل

“Pria terbaik adalah Abu Bakr, Umar, Abu Ubaidah, Usaid bin Hudhair, Tsabit bin Qais bin Syammas, Mu’adz bin Amru ibnul Jamuh, dan Mu’adz bin Jabal.” (Ash Shahihah (875))

Dalam sabdanya yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Muadz:

اسْتَقْرِئُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ: مِنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَسَالِمٍ، مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ

“Belajarlah Alquran dari empat orang: Ibnu Mas’ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Muadz bin Jabal.” (HR. Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di hari kiamat, Muadz berada jauh di depannya para ulama. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنه يأتي يوم القيامة إمام العلماء بربوة

“Sesungguhnya di datang pada hari kiamat nanti sebagai pimpinan para ulama. Di depan mereka sejauh lemparan yang jauh.” (HR. al-Hakim)

Diutus Ke Yaman

Dari Ashim bin Humaid bahwa Muadz bin Jabal mengisahkan, “Tatkala Rasulullah mengutusku ke Yaman, Rasulullah keluar mengantar dan memberi wasiat. Muadz berada di atas tunggangannya. Sementara Rasulullah berjalan mengiringinya. Saat hendak berpisah, beliau bersabda,

يا معاذ، إنك عسى ألا تلقاني بعد عامي هذا، ولعلك تمر بمسجدي هذا وقبري

‘Hai Muadz, bisa jadi kau tak akan berjumpa lagi denganku selepas tahun ini. Engkau lewat di masjidku dan di sini kuburku.’

Muadz pun menangis. Ia takut berpisah dengan Nabi. Kemudian Nabi berbalik ke arah Madinah. Beliau bersabda,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي الْمُتَّقُوْنَ ، مَنْ كَانُوْا وَحَيْثُ كَانُوْا

“Sesungguhnya orang-orang yang paling utama disisiku adalah orang yang bertakwa, siapapun dan dimanapun mereka.” (HR. Ahmad).

Pujian Para Sahabat

Asy-Sya’bi (tabi’in) berkata,  “Faurah bin Naufal al-Asyja’i menyampaikan kepadaku bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Muadz bin Jabal adalah seorang yang patuh kepada Allah (qanit) dan hanif. Ada yang berkata,

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif.” [Quran An-Nahl: 120].

Aku tidak lupa. Apakah kau tahu apa yang dimaksud dengan umat? Dan apa juga makna Qanit? Faurah berkata, “Allahu a’lam.” Ibnu Mas’ud berkata, “Umat adalah yang mengetahui kebaikan. Sedangkan qanit adalah yang tunduk patuh kepada Allah Azza wa Jallah dan Rasul-Nya. Dan Muadz bin Jabal adalah orang yang paling mengetahui kebaikan. Dan dia juga seorang yang patuh kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.” (Tafsir ath-Thabari)

Syahr bin Hausyab berkata, “Apabila para sahabat nabi berbicara (menyampaikan hadits), mereka melihat ke arah Muadz sebagai penghormatan padanya.” (Hilyatul Awliya’ oleh Abu Nu’aim)

Zuhud dan Wara’

Malik ad-Dari mengisahkan bahwa Umar bin al-Khattab mengambil uang sebanyak 400 Dinar. Lalu ia masukkan dalam satu bungkusan. Umar berkata pada budak laki-lakinya, “Pergilah! Bawa ini untuk Abu Ubaidah bin al-Jarah. Singgahlah sebentar, lihat apa yang akan ia dilakukan.”

Budak itu berangkat. Sesampainya di sana, ia berkata, “Amirul Mukminin berpesan padamu agar sebagian uang ini dimanfaatkan untuk kebutuhanmu.” Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah menyambung dan merahmatinya.” Kemudian ia memanggil budak perempuannya, “Kemarilah hai Jariyah (budak perempuan). Bawa 7 dari uang ini menuju si Fulan. Lima untuk si Fulan. Lima lagi untuk si Fulan. Sampai uang tersebut habis.”

Budak laki-laki Umar pun kembali menuju tuannya. Ia mengabarkan apa yang ia lihat. Kemudian Umar juga menyiapkan sejumlah uang yang sama untuk Muadz bin Jabal. Ia berkata, “Bawa ini menuju Muadz bin Jabal. Singgahlah sebentar. Perhatikan apa yang ia lakukan.”

Budak itu berangkat membawa uang tersebut. Sesampainya di tempat Muadz, ia berkata, “Amirul Mukminin berpesan padamu agar sebagian dari uang ini dipakai untuk memenuhi kebutuhanmu.” Muadz berkata, “Semoga Allah merahmati dan menyambungnya. Kemarilah Jariyah (budak perempuan). Bawa sejumlah uang ini menuju rumah Fulan. Pergilah ke rumah Fulan dengan uang sekadar ini.” Kemudian istrinya datang. Ia berkata, “Demi Allah, aku juga adalah orang yang membutuhkan. Berilah juga untukku.” Saat itu, tidak tersisa di kantong kecuali dua Dinar saja. Muadz menyerahkan dua Dinar itu untuk istrinya. Kemudian budak itu kembali menuju Umar. Ia kabarkan apa yang ia lihat. Umar berkomentar, “Mereka itu adalah saudara. Sebagian mereka bagian dari yang lain.” (Siyar A’lam an-Nubala, 1/456). Demikianlah zuhudnya Muadz terhadap dunia.

Yahya bin Said mengatakan, “Muadz memiliki dua orang istri. Apabila ia berada di salah satu rumah istrinya, ia tidak akan minum air dari rumah yang lain.” (Hilyatul Aulia oleh Abu Nu’aim No: 823). Inilah bentuk kehati-hatian (wara’) Muadz. Ia tidak ingin zalim kepada salah seorang istrinya walaupun hanya mengecap air dari rumah yang bukan menjadi gilirannya.

Yahya bin Said juga menuturkan bahwa Muadz bin Jabal memiliki dua orang istri. Pada saat hari giliran salah seorang istrinya, ia tidak berwudhu di rumah yang lain. Kemudian kedua istrinya wafat karena wabah di Syam. Orang-orang pun dalam keadaan sibuk. Ia makamkan keduanya di satu liang. Lalu ia undi, siapa yang dikedepankan diletakkan dalam kubur.” (Hilyatul Auliya).

Tsaur bin Yazid mengatakan, “Apabila Muadz mengerjakan tahajud di malam hari, ia berkata,

اللهم قد نامت العيون وغارت النجوم وأنت حي قيوم: اللهم طلبي للجنة بطيء، وهربي من النار ضعيف، اللهم اجعل لي عندك هدى ترده إلي يوم القيامة إنك لا تخلف الميعاد.

“Ya Allah, mata-mata telah terlelap. Bintang-bintang telah terbenam. Dan Engkaulah Yang Maha Hidup dan Senantiasa mengurusi hamba-hamba-Mu. Ya Allah, usahaku untuk mengejar surga begitu lambat. Dan lariku dari neraka begitu lemah. Ya Allah, berilah petunjuk untukku yang ada di sisi-Mu hingga hari kiamat. sesungguhnya Engkau tidak menyelisihi janji.” (Hilyatul Auliya, No: 823).

Ibnu Ka’ab bin Malik berkata, “Muadz bin Jabal adalah seorang pemuda yang tampan dan santun. Ia adalah salah satu pemuda terbaik di kaumnya. Tidaklah ia dipinta sesuatu pasti ia berikan.” (Hilyatul Auliya, No: 817).

Nasihat-Nasihat Muadz

Dari Muawiyah bin Qurah, Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata pada anaknya, “Anakku, apabila engkau shalat, shalatlah seakan itu shalat terakhirmu. Jangan berpikir kalau kau nanti akan berkesempatan mengerjakannya kembali. Ketauhilah anakku, seorang mukmin itu mati di antara dua kebaikan. Kebaikan yang telah ia kerjakan dan kebaikan yang akan ia kerjakan.” (Hilyatul Auliya oleh Abu Nu’aim, No: 824).

Dari Abu Idris al-Khaulani, Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata, “Setiap engkau bersama -orang-orang, pastilah mereka membicarakan suatu hal. Apabila kau lihat mereka lalai, bersemangatlah engkau menuju Rabmu.” (Hilyatul Auliya oleh Abu Nu’aim, No: 834). Maksudnya saat orang-orang lalai, engkau tetap mengingat Rabbmu. Karena terdapat keutamaan mengingat Allah di saat kebanyakan orang melalaikannya.

Dari Asy’ats bin Sulaim, dari Raja’ bin Haiwah, Muadz bin Jabal berkata, “Kalian telah diuji dengan kesulitan, kalian mampu bersabar. Nanti kalian akan diuji dengan kesenangan. Dan yang paling aku takutkan atas kalian adalah ujian wanita. Kalian diliputi emas dan kaum wanita memakai Riyath (jenis pakaian) Syam, dan kain Yaman. Mereka membuat lelah orang-orang kaya. Dan membuat yang miskin terbebani.” (Hilyatul Auliya oleh Abu Nu’aim, No: 839).

Sakit dan Wafat

Thariq bin Abdurrahman mengisahkan bahwa tersebar wabah kolera di Syam. Saking rata penyebarannya, sampai orang-orang berkomentar, ‘Ini adalah banjir. Hanya saja tak ber-air’. Komentar ini sampai ke telinga Muadz, ia pun berkhotbah, ‘Telah sampai padaku apa yang kalian ucapkan. Tapi, ini adalah rahmat dari Rab kalian dan doa Nabi kalian. Seperti kematian orang shaleh sebelum kalian. Mereka takut dengan sesuatu yang lebih buruk dari ini. Yaitu seseorang keluar dari rumahnya di pagi hari dalam keadaan tidak tahu apakah ia beriman atau munafik. Dan mereka takut kepemimpinan anak-anak kecil (yang tidak kompeten)’.” (Shifatu ash-Shafwah, 1/189).

Abdullah bin Rafi’ berkata, “Saat Abu Ubaidah bin al-Jarah wafat karena wabah kolera. Orang-orang mengangkat Muadz bin Jabal sebagai pemimpin. Sakitnya bertambah parah. Orang-orang berkata pada Muadz, ‘Berdoalah kepada Allah untuk menghilangkan kotoran (wabah) ini’. Muadz menjawab, ‘Ini bukanlah kotoran. Tapi ini adalah doa nabi kalian. Dan keadaan wafatnya orang-orang shaleh dan syuhada sebelum kalian. Allah mengistimewakan siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya di antara kalian. Masyarakat sekalian, ada empat hal yang kalau kalian mampu untuk tidak bertemu sedikit pun dari empat hal ini, lakukanlah’.

Mereka bertanya, ‘Apa itu?’

Muadz menjawab, ‘Akan datang suatu masa dimana kebatilan begitu dominan. Sehingga seseorang di atas agamanya bertemu dengan yang lain, orang itu berkata, ‘Demi Allah, aku tak tahu sedang sakit apa aku ini. Aku tidak merasakan hidup di atas petunjuk. Tidak pula mati di atasnya. Seseorang memberi orang lain harta dari harta-harta Allah dengan syarat mereka mengucapkan kedustaan yang membuat Allah murka. Ya Allah, datangkanlah untuk keluarga Muadz ketentuan untuk mereka. Dan sempurnakanlah rahmat ini’.

Anak Muadz berseloroh, ‘Bagaimana kau anggap (wabah) ini sesuatu yang ingin segera didatangkan dan rahmat?’

Muadz berkata, ‘Wahai anakku (beliau nukilkan firman Allah),

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” [Quran Al-Baqarah: 147].

Anaknya menjawab, ‘Aku (ia menukil firman Allah)

سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” [Quran Ash-Shaffat: 102]

Kemudian kedua istrinya terkena wabah ini. Keduanya wafat. Sementara Muadz, terjangkiti wabah ini di jempolnya. Ia usap dengan mulutnya sambil berkata, “Ya Allah, sesungguhnya ini kecil. Berkahilah. Sesungguhnya Engkau Maha memberi keberkahan pada yang kecil.” Muadz pun wafat karena wabah ini.

Sejarawan sepakat bahwa Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu wafat karena penyakit tha’un (kolera). Ia wafat di sebuah wilayah di Yordania (Syam) pada tahun 28 H. Adapun usianya saat wafat, sejarawan berbeda pendapat. Pendapat pertama menyatakan ia wafat saat berusia 38 tahun. Dan pendapat lainnya menyatakan 33 tahun. Semoga Allah meridhai dan merahmati Muadz bin Jabal, pemimpin para ulama di akhirat kelak.

Kisah Sahabat Majza’ah bin Tsaur al Sadusy

“Majza’ah bin Tsaur adalah Seorang Patriot Pemberani yang Mampu Membunuh Seratus Orang Musyrikin. Apa Pendapatmu Tentang Orang yang Berani Membunuh Kaum Musyrikin di Medan Laga!!”

Merekalah para patriot dan pahlawan jundullah yang telah mengibaskan debu Al Qadisiyah di wajah karena bergembira atas kemenangan yang Allah berikan kepada mereka. Mereka merasa iri kepada para sahabat yang telah mendapatkan pahala syahadah.

Mereka berharap menjumpai peperangan yang begitu besar dan hebat seperti Al Qadisiyah. Mereka juga menanti-nanti perintah dari Khalifah Umar bin Khattab untuk meneruskan jihad demi merobohkan kekuasaan Kisra dari akarnya.

❀•◎•❀

Keinginan para pejuang ini tidak membutuhkan banyak waktu untuk terwujudkan.

Tersebutlah seorang utusan khalifah Umar yang berangkat dari Madinah ke Kufah dengan membawa perintah dari khalifah untuk wali (gubernur) Kufah yang bernama Abu Musa Al Asy’ari.

Surat tersebut memerintahkan untuk menggerakkan pasukan Islam yang ada di sana dan bergabung dengan pasukan muslimin yang berasal dari Bashrah, kemudian berangkat bersama menuju Ahwaz (Sebuah distrik di Persia yang terletak di teluk di sebelah barat Iran pada zaman sekarang) untuk mengejar Hurmuzan (panglima perang pasukan Persia) dan membunuhnya. Lalu membebaskan kota Tustar sebagai jantung negeri raja Kisra.

Dalam surat khalifah Umar yang diperuntukkan kepada Abu Musa Al Asy’ari dinyatakan bahwa Abu Musa harus ditemani oleh seorang penunggang kuda yang gagah berani bernama Majza’ah bin Tsaur Al Sadusy seorang pemuka dan pemimpin Bani Bakr.

❀•◎•❀

Abu Musa Al Asy’ari melaksanakan perintah khalifatul muslimin. Lalu ia mempersiapkan pasukannya. Sebagai panglima pasukan infantri adalah Mazja’ah bin Tsaur Al Sadusy. Kemudian pasukan Abu Musa bergabung dengan pasukan muslimin yang datang dari Basrah, lalu bersama-sama menuju ke medan peperangan sebagai pejuang di jalan Allah.

Pasukan kaum muslimin terus menerus berhasil membebaskan berbagai kota, melepaskan belenggu pada para penduduknya dan Hurmuzan selalu berlari dari kaum muslimin sehingga ia berlindung di kota Tustar.

❀•◎•❀

Tustar yang dijadikan tempat berlindung Hurmuzan adalah sebuah kota yang paling indah dan kuat pertahanannya.

Tustar juga merupakan kota bersejarah yang terletak di sebuah dataran tinggi dan dibangun dengan seni ala Persia. Tempat ini dialiri oleh sebuah sungai besar yang disebut dengan Dujail.

Di bagian atas kota tersebut ada sebuah pancuran yang dibangun oleh raja Sabur untuk mengangkat air sungai yang melintasi beberapa saluran yang ia gali di bawah bumi.

Pancuran Tustar dan salurannya adalah hal yang paling menarik dari bangunan tersebut, karena ia diikat dengan batu besar, ditopang dengan tiang-tiang baja dan pancuran serta salurannya dilapisi dengan kapur.

Di sekeliling Tustar dibangun tembok besar dan tinggi yang mengelilingi Tustar dengan begitu rapatnya. Para ahli sejarah mengatakan tentang kehebatan tembok ini: “Tembok ini adalah tembok pertama dan terbesar yang pernah dibangun di muka bumi.”

Lalu Hurmuzan menggali sebuah parit besar di sekeliling tembok untuk menghalangi pasukan musuh yang ingin masuk, dan iapun menyiapkan barisan pasukan berkuda yang terbaik sebagai pendukungnya.

❀•◎•❀

Pasukan muslimin berkemah di sekeliling parit Tustar selama 18 bulan karena tidak bisa melewatinya. Dan mereka sudah melakukan perang selama masa tersebut sebanyak 8 kali melawan pasukan Persia.

Setiap peperangan tersebut di mulai dengan duel antara pasukan berkuda, yang kemudian diteruskan dengan peperangan yang hebat antara kedua pasukan.

Majza’ah bin Tsaur telah membuat sebuah aksi fantastis dan mengejutkan baik kawan maupun lawan pada saat yang sama.

Ia telah mampu membunuh 100 orang pejuang berkuda pasukan musuh. Karenanya, nama Majza’ah membuat pasukan Persia menjadi gentar dan sebaliknya hal itu membuat pasukan muslimin semakin teguh dan tak gentar.

Sejak saat itulah orang-orang yang belum mengerti sebelumnya menjadi mengerti mengapa Amirul Mukminin begitu berkeras agar Majza’ah yang gagah berani ini ditempatkan pada posisi terdepan pasukan muslimin.

❀•◎•❀

Pada akhir dari peperangan yang berjumlah delapan itu, pasukan muslimin telah berhasil mengalahkan pasukan Persia, sehingga Persia membuka pagar yang dibangun di atas parit dan akhirnya mereka berlindung di dalam kota. Sesampainya di kota, mereka menutup semua gerbang kota dengan begitu rapat.

❀•◎•❀

 Pasukan muslimin yang telah menjalani masa penantian yang begitu lama kini mengalami situasi yang lebih parah lagi. Hal itu disebabkan, karena pasukan Persia menghujani pasukan muslimin dengan anak panah yang mereka lesatkan dari ketinggian menara-menara.

Mereka juga melemparkan rantai-rantai besi dari atas tembok. Di ujung setiap rantai terdapat penjepit yang begitu panas.

Jika ada salah seorang dari pasukan muslimin hendak menaiki tembok tadi atau mendekatinya, maka pasukan Persia akan melemparkan rantai dan penjepit besi tadi dan menariknya ke arah mereka. Karenanya, badan yang terkena rantai besi yang amat panas tadi akan terbakar di buatnya, dan dagingnya akan terkelupas sehingga dapat menyebabkan kematian.

❀•◎•❀

Kali ini kondisi pasukan muslimin amat sulit terasa. Mereka semua berdo’a dengan hati yang khusyuk kepada Allah karena khawatir mereka akan dikalahkan. Mereka juga meminta kepada-Nya agar diberikan kemenangan melawan musuh Allah dan musuh mereka.

❀•◎•❀

Ketika Abu Musa Al Asy’ari sedang merenungi kehebatan tembok Tustar yang besar dan hal itu membuatnya putus asa untuk dapat menembusnya. Lalu tiba-tiba ada sebuah anak panah yang jatuh dihadapannya yang berasal dari atas tembok. Ia lalu melihatnya dan ternyata anak panah tersebut membawa sebuah surat yang berbunyi: “Aku percaya kepada kalian, wahai kaum muslimin. Aku meminta jaminan kepada kalian atas diriku, hartaku, keluargaku dan para pengikutku. Sebagai kompensasinya aku akan menunjukkan kepada kalian sebuah jalan rahasia menuju kota Tustar.”

Maka Abu Musa memberikan jaminan keamanan kepada penulis surat tadi, dan ia langsung mengirimkannya lewat sebuah anak panah.

Orang tersebut lalu yakin dengan jaminan keamanan yang diberikan kaum muslimin karena sifat mereka yang terkenal dengan menepati janji dan menjaga perjanjian. Ia pun akhirnya menyusup ke barisan kaum muslimin pada saat kegelapan malam dan berbicara kepada Abu Musa dengan fakta yang dibawanya:

“Kami adalah pembesar bangsa Persia. Hurmuzan pernah membunuh kakak tertuaku. Ia juga telah merampas harta dan keluarga kakakku. Ia juga hendak melakukan kejahatan kepadaku sehingga aku sudah tidak percaya kepadanya atas keamanan diriku dan keluargaku.

Maka aku memilih kalian yang adil atas kezalimannya. Aku memilih kalian yang menepati janji daripada dia yang suka berkhianat. Aku berniat untuk memberitahukan kalian sebuah jalan rahasia yang dapat menghantarkan kalian menuju Tustar.

Kirimkanlah kepadaku seorang yang pemberani, cerdas dan pandai berenang agar aku dapat menunjukkan kepadanya jalan tersebut!”

❀•◎•❀

Abu Musa Al Asy’ari lalu memanggil Majza’ah bin Tsaur al Sadusy. Ia lalu memberitahukan berita ini. Abu Musa berkata: “Kirimkan seorang dari kaummu yang cerdas dan pemberani, juga pandai berenang!”

Majza’ah menjawab: “Biarkanlah aku yang melakukannya, wahai Amir!”

Abu Musa berkata: “Jika kau menginginkannya, semoga engkau diberkati Allah!”

Kemudian Abu Musa berwasiat kepada Majza’ah untuk menghapal jalan, mengenali letak jalan tersebut, menginformasikan persembunyian Hurmuzan dan selalu mengawasinya dan jangan pernah melakukan apapun hal selain itu.

Majza’ah kemudian berangkat di kegelapan malam bersama orang Persia yang menunjukkannya. Kemudian orang tersebut memasukkan Majza’ah ke dalam saluran di bawah tanah yang menyambungkan antara sungai dan kota Tustar.

Saluran tersebut terkadang akan menjadi luas sehingga Majza’ah dapat berjalan dengan kedua kakinya. Namun terkadang ia menjadi sempit sehingga membuat Majza’ah harus berenang di dalamnya. Sungai tersebut terkadang bercabang dan meninggi, dan terkadang juga lurus.

Demikianlah perjalanan Majza’ah di bawah saluran air sehingga ia tiba di sebuah lobang yang menuju kota. Orang Persia tersebut memperlihatkan kepada Majza’ah Hurmuzan yang telah membunuh kakaknya dan tempat persembunyiannya.

Begitu Majza’ah melihat Hurmuzan, ia langsung ingin melesatkan anak panah ke leher Hurmuzan. Akan tetapi ia teringat pesan Abu Musa kepadanya agar tidak melakukan apa-apa. Maka Majza’ah langsung menahan diri dan kembali lewat jalan yang ia lalui sebelum datangnya Fajar.

Abu Musa lalu menyiapkan 300 orang pemberani, paling teguh dan cekatan dari pasukan muslimin. Pasukan ini dipimpin oleh Majza’ah bin Tsaur yang dilepas dan diberi wasiat langsung oleh Abu Musa. Abu Musa kemudian meneriakkan takbir sebagai tanda seruan kepada pasukan muslimin untuk menyerang kota Tustar.

Majza’ah memerintahkan kepada pasukannya untuk mengenakan pakaian seringan mungkin agar tidak dirasuki air sehingga akan menyulitkan gerak mereka. Ia juga memperingatkan pasukannya agar tidak membawa apapun selain pedang dan mengikatkannya di bawah pakaian.

Mereka pun berangkat pada pertiga malam pertama.

❀•◎•❀

Majza’aah dan pasukannya yang gagah berani mengarungi rintangan saluran air ini selama 2 jam berturut-turut. Terkadang mereka mampu mengarunginya dengan mudah dan kadang kala, air dalam saluran tersebut menyulitkan gerak mereka.

Saat mereka tiba di lobang saluran yang menuju kota, Majza’ah mendapati bahwa saluran air tersebut telah merenggut 220 orang dari pasukkannya, dan yang tersisa hanyalah 80 orang saja.

❀•◎•❀

Begitu Majza’ah dan pasukkannya menginjakkan kaki mereka di kota tersebut, mereka langsung menghunuskan pedang dan mengalahkan para penjaga benteng. Mereka lalu meletakkan pedang di atas dada mereka. Kemudian mereka melompat ke arah gerbang kemudian membukanya sambil meneriakkan takbir.

Maka takbir mereka yang berada di dalam benteng disambut dengan takbir para sahabatnya yang masih berada di luar. Maka merangseklah pasukan kaum muslimin ke dalam kota Tustar saat fajar.

Lalu berkecamuklah perang yang hebat di antara mereka dan musuh-musuh Allah dimana jarang sekali terdapat dalam sejarah peperangan yang sehebat dan seganas serta yang paling banyak memakan korban seperti peperangan ini.

❀•◎•❀

Saat peperangan berlangsung dengan sengitnya, Majza’ah bin Tsaur lalu melihat Hurmuzan. Maka langsunglah Majza’ah menghampirinya dan melompat ke arahnya dengan menghunuskan pedang. Namun Majza’ah tidak dapat menangkapnya karena gelombang gerak yang ditimbulkan oleh para pasukan yang sedang bertempur membuat Majza’ah kehilangan pandangan. Kemudian Majza’ah sekali lagi melihat Hurmuzan, lalu ia segera datang ke arahnya…

Lalu Majza’ah dan Hurmuzan saling menyerang dengan pedang yang mereka bawa. Masing-masing mengibaskan pedang mereka dengan ganasnya. Namun pedang Majza’ah tidak mengenai sasaran, dan sebaliknya Hurmuzan berhasil mengarahkan pedangnya. Maka tersungkurlah patriot muslim yang berani di tengah medan laga. Hatinya tenang dengan janji Allah yang telah ia raih.

Pasukan muslimin masih saja meneruskan peperangan, sehingga Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Akhirnya, Hurmuzan menjadi tawanan kaum muslimin.

Pasukan muslimin kembali ke Madinah Al Munawarah dengan membawa kabar gembira penaklukan Persia kepada Umar bin Khattab. Mereka menggiring Hurmuzan yang mengenakan mahkota berhiaskan berlian, dan dipundaknya terdapat selendang sutra yang dijahit dengan benang emas. Mereka menggiringnya untuk dibawa menghadap kepada khalifah.

Meski demikian, mereka membawa kabar duka yang mendalam kepada khalifah tentang pejuang mereka yang gagah berani bernama Majza’ah bin Tsaur.

Kisah Sahabat Khalid bin Zaid Al Najary

Ini adalah seorang sosok sahabat besar yang terkenal dengan nama Khalid bin Zaid bin Kalib dari Bani An Najar. Panggilannya adalah Abu Ayub, dan ia berasal dari suku Anshar. Siapakah dari kaum muslimin yang tidak mengenal Abu Ayub Al Anshary?

Allah telah mengharumkan namanya dari timur hingga ke barat negeri. Allah telah meninggikan derajatnya saat Ia memilih rumah Abu Ayub bukan rumah kaum muslimin lainnya saat sebagai tempat singgah Rasulullah ﷺ saat Beliau tiba di Madinah sebagai seorang muhajir. Dan hal ini cukup membuat bangga diri Abu Ayub.

Saat Rasulullah ﷺ singgah di rumah Abu Ayub ada sebuah kisah yang amat manis dan indah untuk dikenang. Hal itu dimulai begitu Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, Beliau disambut oleh hati terbuka para penduduknya dengan sambutan yang begitu mulia.

Mata mereka memancarkan kerinduan seorang kekasih kepada Nabi ﷺ. Mereka mau membukakan pintu hati mereka bagi Beliau ﷺ. Mereka juga membuka pintu mereka agar Nabi ﷺ mau singgah sebagai tempat singgah yang paling mulia. Akan tetapi Rasulullah ﷺ sempat singgah di Quba sebuah dataran yang terdapat di Madinah 4 hari lamanya.

Selama itu Rasulullah sempat membangun sebuah mesjid yang kemudian menjadi mesjid pertama yang dibangun berdasarkan taqwa. Kemudian Beliau pergi meninggalkan Quba dengan mengendarai untanya menuju Madinah, di tengah perjalanan para pemuka Yatsrib menghalangi jalan Rasul ﷺ. Masing-masing dari mereka menginginkan agar Rasulullah ﷺ berkenan singgah di rumah salah satu dari mereka…

Masing-masing mereka menarik unta Rasul sambil berkata: “Menginaplah di rumah kami ya Rasulullah dalam penjagaan dan pengawasan yang begitu kuat.” Rasul bersabda kepada mereka: “Biarkan unta ini berjalan, karena ia sudah diperintahkan.”  Unta Rasul ﷺ lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat tujuan yang diikuti oleh pandangan mata dan harapan hati para penduduk  Madinah…

Jika unta tersebut telah melewati sebuah rumah maka penghuni rumah tadi menjadi sedih dan putus asa dibuatnya, pada saat yang sama sinar pengharapan masih terus terpancar pada jiwa para tetangganya yang belum dilewati oleh unta Rasulullah ﷺ.

Unta tersebut masih saja melakukan tugasnya dan para manusia mengikuti jejaknya karena mereka betapa ingin mengetahui siapa yang akan mendapatkan keberuntungan ini; sehingga unta tersebut tiba di sebuah pekarangan kosong di depan rumah Abu Ayub Al Anshary, dan unta tadi langsung duduk di sana…

Akan tetapi meski unta sudah duduk namun Rasulullah belum juga turun dari punuknya… Unta tersebut juga terus duduk di sana. Ia tidak lompat, berdiri lalu pergi, dan Rasulullah ﷺ melepaskan tali kekang dari untanya. Unta Beliau masih saja tetap di sana tanpa mengangkat kakinya lagi dan ia masih tetap di tempat berhentinya yang semula.

Pada saat itu, terbuncah kegembiraan hati Abu Ayub Al Anshary dan ia langsung menghambur menghampiri Rasulullah ﷺ untuk menyambut Beliau. Ia membawakan barang-barang milik Rasulullah seolah ia sedang membawa harta karun yang terkandung di seluruh dunia ini, dan ia pun masuk ke dalam rumahnya.

Rumah Abu Ayyub terdiri dari dua tingkat. Abu Ayub mengosongkan tingkat atas dari rumahnya agar Rasulullah ﷺ bisa tinggal di sana. Akan tetapi Rasulullah ﷺ lebih memilih untuk tinggal di bawah saja. Dan Abu Ayub pun melakukan permintaan Rasul ﷺ dan menempatkan Beliau sesukanya.

Begitu malam mulai datang dan Rasul ﷺ sudah berada di peraduannya. Abu Ayub dan istrinya hendak naik ke tingkat atas. Begitu mereka baru saja mau menutup pintu, Abu Ayub menoleh ke arah istrinya sambil berkata:

وَيْحَكِ ، مَاذَا صَنَعْنَا ؟ ! أَيَكُون رَسُولُ اللَّهِ أَسْفَل ، وَنَحْن أَعْلَى مِنْهُ ؟ ! أنمشي فَوْق رَسُولُ اللَّهِ ؟ ! أنصير بَيْنَ النَّبِيِّ وَالْوَحْي ؟ ! إِنَّا إذْن لهَالِكُون

“Celaka kamu, apa yang telah kita perbuat? Apakah pantas Rasulullah ﷺ berada di bawah dan kita tinggal di atasnya?! Apakah kita akan melangkah di atas tubuh Rasulullah ﷺ?! Apakah kita akan berjalan di antara seorang Nabi dan wahyu?! Kita bisa celaka kalau begitu.”

Akhirnya suami-istri tersebut menjadi bingung dan mereka berdua tidak tahu mau berbuat apa. Keduanya merasa tidak tenang kecuali pada saat mereka mau ke bagian atas rumah di mana tidak tepat berada di atas tubuh Rasulullah ﷺ. Mereka berdua dengan hati-hati tidak melangkah kecuali pada sudut pinggir yang jauh dari tengah.

Begitu menjelang pagi, Abu Ayub berkata kepada Nabi ﷺ: “Demi Allah, tadi malam kami tidak bisa tertidur. Baik aku atau Ummu Ayub.” Rasulullah ﷺ bertanya: “Mengapa demikian, wahai Abu Ayub?!” Ia menjawab:

ذَكَرْتُ أَنِّي عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ أَنْتَ تَحْتَه ، وَإِنِّي إذَا تَحَرَّكْتُ نَتَاثَرَ عَلَيْكَ الْغُبَار فَآذَاك ، ثُمَّ إنِّي غَدَوْتُ بَيْنَك وَبَيْنَ الْوَحْي

“Aku teringat bahwa aku berada di tengah rumah dimana Engkau berada di bawahnya, dan aku sadar bahwa jika aku bergerak pasti akan membuat debu beterbangan dan menimpamu sehingga dapat mengganggumu. Dan aku teringat bahwa aku akan menghalangi dirimu dan wahyu.”

Rasulullah ﷺ lalu bersabda kepadanya: “Tenanglah, wahai Abu Ayub. Aku lebih senang tinggal di bawah, karena banyak orang yang mengunjungiku.”

Abu Ayub berkata: “Aku melaksanakan perintah Rasulullah ﷺ hingga pada suatu malam yang dingin tempat air kami pecah dan airnya tumpah dari atas. Maka aku dan Ummu Ayub bergegas menghampiri air tersebut. Kami tidak memiliki apa-apa selain selembar kain yang kami jadikan lap. Kami mencoba mengeringkan air tersebut dengan lap tersebut karena khawatir dapat mengenai Rasulullah ﷺ.

Begitu masuk pagi, aku datang kepada Nabi ﷺ dan aku berkata kepadanya: “Demi ibu dan bapakku, aku merasa segan berada di atasmu dan kau berada di bawahku.” Dan aku ceritakan kepada Beliau tentang tempat air yang pecah tadi. Beliau langsung memenuhi permintaanku dan naik ke bagian atas rumah. Dan aku beserta Ummu Ayub pun pindah ke bawah.

Nabi ﷺ tinggal di rumah Abu Ayub selama kira-kira 7 bulan lamanya. Sehingga selesai pembangunan masjid Rasul di sebuah tanah kosong yang pernah dipakai sebagai tempat pemberhentian oleh untanya. Lalu Nabi ﷺ pindah ke kamar yang dibangun untuk dirinya dan para istrinya yang berada di sekitar Masjid. Dan Nabi ﷺ menjadi tetangga Abu Ayub. Alangkah mulianya kehidupan bertetangga ini.

Abu Ayub mencintai Rasulullah ﷺ dengan seluruh hati dan sanubarinya. Dan Rasul ﷺ juga mencintai Abu Ayub dengan begitu cintanya sehingga tak berjarak lagi. Dan Beliau menganggap bahwa rumah Abu Ayub sudah seperti rumah Beliau.

Ibnu Abbas berkata: “Pada suatu siang hari yang panas Abu Bakar datang ke mesjid dan Umar melihatnya seraya bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang membuatmu datang ke mesjid pada saat seperti ini?’ Abu Bakar menjawab:

مَا أَخْرَجَنِي إِلَّا مَا أَجِدُ مِنْ شِدَّةِ الجُوْعِ

‘Yang membuatku datang ke mesjid tiada lain karena aku merasa amat lapar sekali.’ Umar pun bertukas: ‘Demi Allah, saya pun keluar dari rumah karena saya juga merasa amat lapar.’

Saat keduanya sedang merasa amat lapar, lalu datanglah Rasulullah ﷺ ke arah mereka sambil bertanya: ‘Apa yang membuat kalian berdua keluar pada saat seperti ini?’ Keduanya menjawab:

واللَّهِ مَا أَخْرَجَنَا إِلَّا مَا نَجِدُ في بُطُونِنَا مِنْ شِدَّةِ الجُوْعِ

‘Demi Allah, kami keluar dari rumah karena di rumah kami tidak terdapat apa-apa untuk di makan dan kami merasa amat lapar.’

Rasul membalas: ‘Demi Allah, Aku pun keluar karena hal yang sama… kalau begitu, ikutilah aku.” Akhirnya, mereka bertiga datang ke rumah Abu Ayub Al Anshary. Abu Ayub setiap hari menyisakan makanan untuk Rasulullah ﷺ. Jika Rasulullah terlambat datang atau tidak datang pada waktu makan, maka makanan tersebut ia berikan kepada keluarganya.

Begitu mereka sampai di depan pintu rumah Abu Ayub, maka keluarlah Ummu Ayub sambil berkata: “Selamat datang kepada Nabi Allah dan orang yang bersamanya.” Lalu Nabi ﷺ bertanya kepadanya: “Kemana Abu Ayub?”

Abu Ayub mendengar suara Nabi ﷺ –saat itu sedang bekerja di bawah pohon kurma dekat rumahnya- dan ia pun langsung datang menghadap segera sambil berkata: “Selamat datang kepada Rasulullah dan orang yang bersamanya.” Kemudian ia menyambung: “Wahai Nabi Allah, ini bukanlah waktu yang biasanya Engkau datang.” Rasul ﷺ lalu menjawab: “Engkau benar.”

Lalu Abu Ayub berlari ke arah pohon kurmanya dan ia memotong satu tandan yang berisikan kurma yang matang dan belum masak.  Rasul ﷺ lalu bersabda: “Aku tak menginginkan dirimu untuk memotongnya akan tetapi cukup kau petikan saja buahnya untuk kami?”

Abu Ayub menjawab: “Ya Rasulullah, aku amat ingin Engkau memakan kurma yang masak maupun tidak dari pohon ini, dan aku akan menyembelih hewan untukmu juga.” Rasul menjawab: ‘Jika kau ingin menyembelih hewan, sembelihlah namun jangan yang banyak susunya!” Maka Abu Ayub langsung mengambil seekor anak kambing lalu menyembelihnya.

Lalu ia berkata kepada istrinya: ‘Aduklah adonan dan buatkan kami roti sebab engkau amat tahu cara membuat roti.’ Ia lalu mengambil separuh dari anak kambing tadi dan memasaknya. Setengahnya lagi ia panggang.

Begitu makan telah masak dan telah dihidangkan dihadapan Rasulullah ﷺ dan kedua sahabatnya, maka Rasulullah ﷺ langsung mengambil sepotong daging dari anak kambing tadi dan Beliau meletakkannya dalam roti. Beliau pun bersabda: “Ya Abu Ayub, Bawalah segera potongan daging ini kepada Fathimah, karena ia belum memakan apapun seperti ini sejak pagi tadi.”

Begitu mereka semua telah menikmati makanan dan merasa kenyang, Nabi ﷺ bersabda: “Roti, daging, kurma mentah dan kurma masak!!!” Lalu kedua mata Rasul ﷺ meneteskan air mata. Beliau pun bersabda:

وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، أَنَّ هَذَا هُوَ النَّعِيمُ الَّذِي تُسْأَلُونَ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، فَإِذَا أَصْبَحْتُم مِثْلَ هَذَا فَضَرَبْتُمْ بِأَيْدِيكُمْ فِيه فَقُولُوا : بِسْمِ اللَّهِ ، فَإِذَا شَبِعْتُمْ فَقُولُوا : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هُوَ أَشْبَعَنَا وَأَنْعَمَ عَلَيْنَا فَأَفْضَلَ

“Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya. Ini adalah kenikmatan yang akan dipertanyakan kepada kalian di hari kiamat. Jika kalian menemukan makanan seperti ini dan kalian sudah mulai memegangnya dengan tangan kalian maka bacalah: Bismillah. Jika kalian sudah merasa kenyang maka bacalah: Alhamdulillah Alladzi Huwa Asyba’na wa An’ama alaina fa Afdhala (Segala puji bagi Allah Yang telah membuat kami merasa kenyang dan telah menganugerahkan kepada kami sehingga membuat kami menjadi mulia).

Lalu Rasulullah ﷺ bangkit dan berkata kepada Abu Ayub: “Datanglah menghadap kami besok hari!”  Rasulullah ﷺ adalah seorang yang bila menerima jasa baik dari orang lain maka ia ingin membalas kebaikan tersebut; akan tetapi Abu Ayub tidak mendengar hal itu. Umar lalu berkata kepada Abu Ayub: “Nabi ﷺ menyuruhmu untuk mendatangi Beliau esok hari, wahai Abu Ayub!” Abu Ayub lalu berkata: “Baik dan aku akan taati perintah Rasulullah.”

Keesokan harinya Abu Ayub datang menghadap Nabi ﷺ dan Nabi memberinya seorang budak wanita kecil untuk membantu pekerjaannya. Rasul berpesan kepada Abu Ayub: “Jagalah ia dengan baik, wahai Abu Ayub. Tidak ada yang kami dapati darinya selain kebaikan selama ia bersama kami.”

Abu Ayub kembali ke rumahnya bersama budak wanita kecil itu. Begitu Ummu Ayub melihat budak tadi ia langsung bertanya: “Milik siapa budak ini, wahai Abu Ayub?!” Ia menjawab: “Dia milik kita… Rasul ﷺ telah memberikannya kepada kita.” Istrinya menjawab: “Agungkanlah orang yang memberikannya, dan alangkah mulyanya pemberian ini.”

Abu Ayub berkata: “Rasul berpesan agar budak ini diperlakukan dengan baik.” Istrinya bertanya: “Apa yang mesti kita lakukan untuk melaksanakan pesan Rasul ﷺ?” Abu Ayub berkata: “Demi Allah, tidak aku dapati hal yang lebih baik akan wasiat Rasul ﷺ daripada membebaskannya.” Istrinya menjawab: “Engkau telah mendapatkan petunjuk ke arah kebenaran. Engkau telah diberi taufik.” Maka akhirnya budak tersebut dibebaskan oleh Abu Ayub.

Inilah sebagian kisah kehidupan Abu Ayub Al Anshary dalam kondisi aman. Kalau anda berkesempatan untuk melihat kisah hidupnya dalam peperangan, anda akan menjumpai sebuah keajaiban.

Abu Ayub mengisi hidupnya dengan berjuang di jalan Allah hingga ada orang yang berkata: bahwa ia tidak pernah ketinggalan mengikuti setiap peperangan yang dilakukan kaum muslimin sejak zaman Nabi ﷺ hingga masa Mu’awiyah kecuali bila ada kegiatan lain.

Perang terakhir yang diikutinya adalah saat Mu’awiyah mempersiapkan sebuah pasukan di bawah kepemimpinan anaknya yang bernama Yazid untuk menaklukan Konstantinopel. Pada saat itu, Abu Ayub adalah seorang tua renta yang berusia lebih dari 80 tahun. Namun hal itu tidak membuat dirinya urung untuk bergabung dengan pasukan Yazid dan mengarungi ombak lautan demi berjuang di jalan Allah.

Akan tetapi tidak lama berselang sejak pertempuran melawan musuh Abu Ayub jatuh sakit dan tidak mampu lagi melakukan pertempuran. Maka datanglah Yazid menjenguknya dan bertanya kepadanya: “Apakah engkau membutuhkan sesuatu, wahai Abu Ayub?”

Ia menjawab: “Sampaikan salamku kepada para tentara kaum muslimin dan katakan kepada mereka: ‘Abu Ayub berpesan kepada kalian agar kalian merangsek ke barisan musuh hingga batas terjauh. Bawalah Abu Ayub bersama kalian dan kuburkanlah ia di bawah kaki kalian dan di bawah pagar benteng Konstantinopel…” dan iapun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Pasukan muslimin memenuhi keinginan seorang sahabat Rasulullah ﷺ ini. Mereka merangsek dan menyerang pasukan musuh sedikit demi sedikit hingga mereka sampai di pagar benteng Konstantinopel dengan membawa jasad Abu Ayub. Dan disanalah mereka menggali kubur untuk Abu Ayub dan menguruknya dengan tanah.

Semoga Allah merahmati Abu Ayub Al Anshary. Ia telah berani mati di tanah musuh dengan berjuang di jalan Allah Swt, padahal umurnya saat itu berkisar 80 tahun.

Kisah Sahabat Khalid bin Said bin Al Ash

Khalid bin Sa’id bin Ash dilahirkan di sebuah keluarga kaya dan mewah, dan tergolong kepala-kepala suku dari seorang warga Quraisy yang terkemuka dan memegang pimpinan.

Khalid adalah seorang pemuda yang bersikap tenang, pendiam tak banyak bicara. Tapi yang sebenarnya, pada batinnya dan dalam lubuk hatinya, bergelora dengan hebatnya gerakan dan kegembiraan.

Suatu hari, Khalid yang sudah bangun itu masih berada di tempat tidurnya, baru saja mengalami suatu mimpi yang sangat dahsyat. Bahwa ia berdiri di bibir nyala api yang besar, sedang ayahnya dari belakang hendak mendorongnya dengan kedua tangannya ke arah api itu dan bermaksud hendak melemparkannya ke dalamnya. Kemudian dilihatnya Rasulullah datang ke arahnya, lalu menariknya dari belakang dengan tangan kanan­nya yang penuh berkah hingga tersingkirlah ia dari bahaya jilatan api.

la tersadar dari mimpinya dengan memperoleh bekal langkah perjuangan menghadapi masa depannya. Ia segera pergi ke rumah Abu Bakar lalu menceritakan mimpinya itu. Dan mimpi seperti itu sebetulnya tidak memerlukan ta’bir lagi.

Kata Abu Bakar kepadanya, “Sesungguhnya tak ada yang kuinginkan untukmu selain dari kebaikan. Nah, dialah Rasulullah SAW. Ikutilah dia, karena sesungguhnya Islam akan menghindarkanmu dari api neraka!”

Khalid pun pergilah mencari Rasulullah SAW sampai menemukan tempat beliau, lalu menumpahkan isi hatinya, dan menanyakan tentang dakwahnya.

Kata Nabi, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah yang Maha Esa semata, jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Dan engkau beriman kepada Muhammad, hamba-Nya dan Rasul-Nya. Dan engkau tinggalkan penyembahan berhala yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat, tidak memberi mudharat dan tidak pula manfaat.”

Khalid lalu mengulurkan tangannya yang disambut oleh tangan kanan  Rasulullah SAW dengan penuh kemesraan, dan Khalid pun berucap, “Aku bersaksi bahwa tak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad Rasul Allah.”

Pada waktu Khalid memeluk Islam, belum ada orang yang mendahuluinya kecuali empat atau lima orang, hingga dengan demikian ia termasuk dalam lima orang angkatan pertama pemeluk Islam. Dan setelah diketahui yang menjadi pelopor dari agama ini adalah salah seorang di antaranya putra Sa’id bin Ash, maka bagi Sa’id, peristiwa itu akan menyebabkannya menjadi bulan-bulanan penghinaan dan ejekan bangsa Quraisy. Dan akan menggoncangkan kedudukannya sebagai pemimpin.

Oleh karena itu dipanggilnyalah anaknya, Khalid, lalu bertanya, “Benarkah kamu telah mengikuti Muhammad dan membiarkannya mencaci tuhan-tuhan kita?”

Jawab Khalid, “Demi Allah, sungguh ia seorang yang benar dan sesungguhnya aku telah beriman kepadanya dan mengikutinya.”

Ketika itulah pukulan ayahnya secara bertubi-tubi menimpa dirinya, yang kemudian mengurungnya dalam kamar gelap di rumahnya, lalu membiarkannya terpenjara menderita lapar dan dahaga. Namun Khalid berseru kepadanya dengan suara keras dari balik pintu yang terkunci, “Demi Allah, sesungguhnya ia benar dan aku beriman kepadanya!”

Jelaslah sekarang bagi Sa’id, bahwa siksa yang ditimpakan kepada anaknya itu belum lagi cukup dan memadai. Oleh sebab itu, dibawanya anak itu ke tengah panas teriknya kota Makkah, lalu ia menginjak-injaknya di atas batu-batu yang panas menyengat. Sa’id memperlakukan putranya sedemikian rupa selama tiga hari penuh, tanpa perlindungan dan keteduhan, tanpa setetes air pun yang membasahi bibirnya.

Akhirnya sang ayah putus asa lalu kembali pulang ke rumahnya. Tapi di sana ia terus berusaha menyadarkan anaknya itu dengan berbagai cara, baik dengan membujuk atau mengancamnya.

Tetapi Khalid berpegang teguh kepada kebenaran, “Aku tak hendak meninggalkan Islam karena suatu apa pun, aku akan hidup dan mati bersamanya!” katanya pada sang ayah.

Maka berteriaklah Sa’id, “Kalau begitu enyahlah engkau pergi dari sini, anak keparat. Demi Lata, kau tak boleh makan di sini!”

“Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki,” jawab Khalid. Kemudian ditinggalkannya rumah yang penuh dengan kemewahan dan kesenangan itu. Demikianlah Khalid melalui bermacam derita dengan pengorbanan dan mengatasi segala halangan demi keimanan.

Dan sewaktu Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya hijrah yang kedua ke Habasyah, maka Khalid termasuk salah seorang anggota rombongan. Ia berdiam di sana beberapa lamanya, kemudian kembali bersama kawan-kawannya ke kampung halaman mereka di tahun yang ke-7. Mereka dapatkan kaum Muslimin telah membebaskan Khaibar.

Khalid kemudian bermukim di Madinah, di tengah-tengah masyarakat Islam yang baru. Di mana ia termasuk salah seorang angkatan lima pertama yang menyaksikan kelahiran Islam, dan ikut membina bangunannya. Sejak itu Khalid selalu beserta Nabi dalam barisan pertama pada setiap peperangan atau pertempuran. Dan karena kepeloporannya dalam Islam ini serta keteguhan hatinya dan kesetiaannya, jadilah ia tumpuan kesayangan dan penghormatan.

Sebelum wafatnya, Rasulullah mengangkat Khalid menjadi gubernur di Yaman. Sewaktu sampai kepadanya berita pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah dan pengukuhannya, ia lalu meninggalkan jabatannya datang ke Madinah.

Ia kenal betul kelebihan Abu Bakar yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun. Tetapi ia berpendirian bahwa di antara kaum Muslimin yang lebih berhak dengan jabatan khalifah itu adalah salah seorang dari keturunan Hasyim, umpamanya Abbas atau Ali bin Abi Thalib.

Pendiriannya ini dipegangnya teguh, hingga ia tidak berbaiat kepada Abu Bakar. Namun Abu Bakar tetap mencintai dan menghargainya, tidak memaksanya untuk mengangkat baiat dan tidak pula membencinya. Setiap disebut namanya di kalangan Muslimin, khalifah besar itu tetap menghargai dan memujinya, suatu hal yang memang menjadi hak dan miliknya.

Belakangan pendirian Khalid bin Sa’id ini berubah. Tiba-tiba di suatu hari ia menerobos dan melewati barisan-barisan di masjid, menuju Abu Bakar yang sedang berada di atas mimbar, maka ia pun membaiatnya dengan tulus dan hati yang teguh.

Abu Bakar memberangkatkan pasukannya ke Syria (Suriah), dan menyerahkan salah satu panji perang kepada Khalid bin Sa’id, hingga dengan demikian berarti ia menjadi salah seorang kepala pasukan tentara. Tetapi sebelum tentara itu bergerak meninggalkan Madinah, Umar menentang pengangkatan Khalid bin Sa’id, dan dengan gigih mendesakkan usulnya kepada khalifah, hingga akhirnya Abu Bakar merubah keputusannya dalam pengangkatan ini.

Abu Bakar Ash-Shiddiq meringankan langkah ke rumah Khalid meminta maaf padanya serta menerangkan pendiriannya yang baru. Abu Bakar menanyakan Sa’id kepada kepala dan pemimpin pasukan mana ia akan bergabung, apakah kepada Amar bin Ash anak pamannya, atau kepada Syurahbil bin Hasanah?

Maka Khalid memberikan jawaban yang menunjukkan kebesaran jiwa dan ketakwaannya. “Anak pamanku lebih kusukai karena ia kerabatku, tetapi Syurahbil lebih kucintai karena Agamanya.” Kemudian ia memilih sebagai prajurit biasa dalam kesatuan Syurahbil bin Hasanah.

Di medan pertempuran Marjus Shufar di daerah Syria, yang terjadi dengan dahsyatnya antara Muslimin dengan orang-orang Romawi, terdapat seorang syahid yang mulia. Ketika kaum Muslimin mencari-cari para syuhada sebagai korban pertempuran, mereka mendapati jasad Khalid dalam keadaan tenang, diam, dengan seulas senyum tipis.

Design a site like this with WordPress.com
Get started